Peraturan baru di Gede Pangrango

UPDATE per 1 Mei 2010 : sejak…..bulan…. tahun 2010, peraturan yang ada dalam artikel dibawah ini sudah tidak diberlakukan lagi.

Dengan latar belakang menjaga kelestarian alam, kenyamanan pengunjung, etc, maka sejak Agustus 2009 terdapat beberapa peraturan baru yang telah ditetapkan Kepala Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango.

Peraturan baru  tersebut meliputi :

1. Setiap pendakian wajib didampingi guide (pemandu) dengan tarif berkisar 175rb-400rb/jalan (tergantung lokasi yg akan dilewati. klik untuk detail tarif). Untuk jasa porter tidak diwajibkan. Berikut daftar nama guide, porter dan interpreter yang diberi wewenang.

2. Melakukan tes tertulis pada jam kerja atau 1  jam sebelum pelaksanaan pendakian

3. Kemping hanya dilakukan pada lokasi yang telah ditentukan yaitu Kandang Batu, Kandang Badak, Alun-Alun Mandalawangi, Alun-Alun Barat dan Timur dan Cigeber. Kemping selain dilokasi pada no. 3 diatas tidak diijinkan dan akan dianggap illegal bila dilakukan. Bila hal ini dilakukan, maka akan ditindak oleh petugas sesuai sanksi yang berlaku;

4. Pemeriksaaan barang bawaan saat pergi dan pemeriksaan sampah bawaan saat pulang.

5. Wajib menerima blanko temuan satwa saat pergi dan menyerahkan blanko temuan satwa saat pulang.

6. Selain datang langsung dan via telepon, booking juga dapat dilakukan secara on line dengan mengisi formulir yang bisa di download disini kemudian di fax ke (0263)512776 atau di e-mail ke info@gedepangrango.org  . Booking diharuskan membayar sebesar 30 % dari biaya total. Untuk lebih jelasnya, silahkan hubungi kantor Balai Besar TNGGP. No telepon/fax Kantor Balai Besar TNGGP : 0263-512776/519415

Sedangkan peraturan lama yang tetap berlaku diantaranya :

1. melakukan booking pendakian sebelum mendaki paling cepat 1bulan sebelum pendakian, paling lambat pada hari H jika kuota masih tersedia. Kuota pengunjung pendakian di TNGGP ditetapkan 600 orang/hari (Pintu Cibodas 300 orang/hari; Pintu Gunung Putri 200 orang/hari; Pintu Selabintana 100 orang/hari)

2. Lama maksimum pendakian adalah 2 hari. Kecuali ada izin khusus (penelitian dll). Untuk pendakian lebih dari 2 hari 1 malam, dikenakan biaya tambahan Rp 100rb.

3. setiap pendaki diwajibkan masuk dan keluar (chek in /chek out) di pintu masuk / keluar pada pukul 07.00 – 22.00 WIB.

4. Jumlah pendaki minimum 3 orang. Maksimum 10 org untuk umum, 20 orang untuk pelajar.

5. Harga tiket masuk sebesar Rp 2000,- ditambah asuransi sebesar Rp 2500,- (asuransi bersifat wajib)

6. Penutupan pendakian rutin dilakukan pada tanggal 1-31 Agustus dan 1 Januari -31 Maret.

7. Larangan – larangan meliputi diantaranya : membawa alat musik dan alat bunyi-bunyian lainnya (gitar, piano, seruling, harmonika, peluit, dll), alat elektronik seperti radio komunikasi (Handy Talky), radio, tape, walkman, gamewatch,wireless dan lain-lain, kecuali jam tangan, telepon seluler (ponsel) dan kamera saku, senjata tajam (pisau lipat, belati, golok), senjata api, narkoba, cat semprot, detergen.

8. Bagi rombongan pendaki yang membawa makanan kaleng, petugas lapangan dapat memberikan ijin membawa pisau lipat kecil 1 (satu) buah
untuk setiap rombongan.

9. Terdapat beberapa peralatan yang menjadi kewajiban bagi pendaki untuk digunakan seperti tertulis dalam  halaman 38 Petunjuk TeknisPendakian TNGP : “Demi kenyamanan dan keamanan, setiap pendaki diwajibkan untuk menggunakan:

- Tenda kedap air
- Ransel/carier dengan spesifikasi kuat dan kondisi baik (jahitan, resleting, pengikat), nyaman dipakai, Kapasitas 60 – 100 lt, tidak mengganggu pergerakan.
- Matras dengan spesifikasi ketebalan min 3 mm, lebar min 40 cm, panjang min 180 cm, dapat digulung dan memakai pengikat, ringkas;
- Kantong tidur (Sleeping bag);
-  Sarung tangan dengan spesifikasi jari-jari tangan tertutup, sesuai dengan ukuran tangan menutup/melebihi pergelangan tangan;
-  Kaos kaki diutamakan bahan semi wool, kuat dan tebal, bahan bukan nylon dan membawa cadangan ( 2 Ps);
-  Baju lapangan tangan panjang, mudah kering (menyerap keringat)serta Tidak terlalu longgar/ketat;
-  Celana lapangan dengan spesifikasi bahan tidak terbuat dari jeans, mempunyai saku tambahan (saku samping), tidak terlalu longgar/ketat;
-  Pakaian tidur/training/sweater/kaos tangan panjang yang bersifat menghangatkan (1 Stel);
-  Balaclava / kupluk diutamakan bahan semi wool
- Sepatu diutamakan sepatu militer, kuat, nyaman dengan membawa Tali sepatu cadangan (1 Ps);
- Jas hujan jenis ponco terdapat lubang untuk kepala Jenis bahan tidak mudah sobek/berserat/plastic;
- Webbing bukan tali/tambang (plastic / sabut) dengan spesifikasi jenis tubular, Lebar 27 mm, Panjang 4 m, kondisi baik (tidak aus dan lapuk);
- Lampu senter menggunakan 2 buah baterai besar, diberi tali gantungan dengan bohlam cadangan (2 buah), baterai cadangan (2 buah);
- Lampu badai;
- Peralatan masak : misting / nasting lengkap dengan spesifikasi bahan aluminium dan memakai pembungkus, parafin atau kompos gas kecil;
- Perbekalan logistik, disesuaikan dengan rencana perjalanan dan jumlah anggota kelompok;
- Obat-obatan pribadi (alat P3K).

Bagaimana menurut anda ?

83 Komentar di “Peraturan baru di Gede Pangrango”

  1. 1
    edi Says:

    Kenapa harus wajib utk pakai jasa pemandu dan point pentingnya knapa semahal itukah 325 ribu – 400 ribuan yg harus dibayarkan oleh pendaki lokal? jumlah yg besar…! mungkin buat turis asing jumlah yg sangat kecil…
    Bagaimana dgn nasib pendaki2 dr kalangan SMP/SMU/mahasiwa yg punya dana terbatas tp ingin menikmati keindahan alam negerinya sendiri? tentu banyak yg gigit jari? Mengenai pemandu…Bukankah mereka lebih membutuhkan peta perjalanan, buku konservasi TNGP, DVD konservasi TNGP….daripada mendengar ocehan pemandu wisata…dongeng mitos yg ga mutu…Toh Lebih baik dengar cerita pengalaman Jagawana.

    Liat aturan Program pendidikan bagi sekolah/kampus di TNGP dimana hanya berlaku hari senin-jumat ( tdk berlaku pd hari libur )…itu sama saja MENOLAK DENGAN CARA HALUS…

    Apa tidak ada cara lain yg lebih santun….

  2. 2
    tantan Rjp Tasikmalaya Says:

    kalau dilihat aturan yaung rinci, sebetulnya memang untuk keselamatan si pendaki sendiri….tapi untuk jasa guide…kok besar bangat…tapi bagi new comer mungkin perlu juga…..tapi bo ya dikurangin….jangan segitu…terlalu besar ah….padahal kalau lebih murah mungkin lebih banyak pemasukan…kocek abang2 jadi lebih tebal kan….tapi dengan biaya segitu daku uga jadi mengkeret mau pergi ke Pangrango…tuh kan udah ngurangin 1 , dan diriku yakin banyak yang berpikiran seperti itu…diriku bukan tidak menghargai tenaga guide…tapi , yah pilih saja mau besar tapi pelanggan kurang , atau rada murah tapi pengunjung banyak….? terserah akang-akang…..

  3. 3
    kutu kupret Says:

    ga salah tuh…
    Pke aturan yang lama aja, mending ke hotel aja kalo 400rb

  4. 4
    Ben's Says:

    Waduh….ape kga salah tuh peraturan byar guidenya? Yang bener aje dong,komersil amat.
    Ane bru dnger neh,naek gunung
    Gde sama mahalnye sama naek gunung
    Kembar di puncak.
    Okelah klo bgitu,mungkin dengan byar guide yang semahal ntu ada servis gratis dri guidnya yaitu gendong,pijit,panggul barang bawaan sma satu lagi
    Naek kreta gantung.horeee…..anak ane pasti seneng naek
    Kreta gantung di gunung.

  5. 5
    akhtar Says:

    Udah lebih setahun saya tidak melihat keindahan alam gde-pangrango, ketika itu ada rencana untuk nostalgia ke gde-pangrango,namun,…………. semuanya buyar karena ada aturan ttg pemandu beserta tarifnya yang lumayan gueede! (maklum kta hanya kalangan menengah-bawah) alih2 untuk konservasi alam. Makasih bapak2,

    mungkin ada cara yang lebih elok untuk menjaga kelestarian alam gde-pangrango selain aturan tsb?

  6. 6
    kancil gunung Says:

    “Untuk harga guide…kenape ngga 1jta aja sekalian…trus guidenya cewek2, dgn ditmbah service plus plus…KAPITALIS LO!!!”

  7. 7
    ENO Says:

    KNP PAKE GUIDE SEGALA EMANG W TURIST APA,JANGAN D SAMAIN SAMA TURIS.(KL BS LW KUMPULIN PARA PA) TRUST DEMO DAH BIAR KAPOK tngpNYA

  8. 8
    Isma Kurniawan Says:

    wah parah beud itu mah,,skalian aj bikin hotel diatas gunung,,
    kita kesana bukan untuk senang2 tp untuk menikmati keindahan alam,,

    Ap jadinya klo alam dan keindahan di komersilkan kaya gini?????

  9. 9
    zaim Says:

    salah satu bentuk kapitalisme dengan dalih pelestarian alam..!

  10. 10
    wawan Says:

    TNGP peraturannya mantep bisnis dimana mana.

  11. 11
    rama Says:

    bener banget tuh kaplitalis dengan dalih pelestarian alam. apa gk kemahalan?? untuk ukuran pelajar seperti saya terlalu mahal itu. turis lokal sama turis asing jangan di samain dong!!

  12. 12
    mawi okay Says:

    pliss dweach jangan lebay…….
    aku khan gapunya duit segitu…
    lagian buat anak pecinta alam sejati kaya saya(boong banget) gaperlu dech pake guide segala…..karena kalo pake guide bakal nurunin citra anak pecinta alam itu sendiri….masa niatnya mau kemping eh malah dengerin ceramah guide..pliisssss dweaaach….yang ada bete..bete..bete..bete…bete….

  13. 13
    ronggo w Says:

    jancok larange, gununge mbok mu a iku……..emangnya gak ada cara laen apa buat cari duit……..

  14. 14
    akhtar Says:

    Mohon dievaluasi lagi tentang peraturan tsb. Klo peraturan yg dulu dilaksanakan betul2 (baik oleh pendaki jg pengelola) insyaaloh kelestarian gde-pangrango bisa dijaga. Masih banyaknya sampah yg tercecer di tngp karena pendaki n pengelolanya jg. Ada praturan lama setiap sampah yg dibawa pendaki harus dibawa turun lg (ex: naik 5 sampah A- turun 5A = 0 SAMPAH A)logikanya gak akan ada sampah di tanah tngp, tp hal tsb tdk berjalan. Pengelola seharusnya mencatat, memonitor, dan mengevaluasi setiap kegiatan pendakian sehingga dengan cost yg lebih sedikit tetapi kelestarian dapat dipertahankan. Pendakian juga merupakan sarana pendidikan kepada YANG BELUM MENGERTI/MELAKSANAKAN tentang pelestarian menjadi MENGERTI/FAHAM apa itu peleestarian. Inilah tantangan bagi pengelola TNGP dan taman nasional lainnya, bukan membuat orang yang ingin belajar tentang pelestarian alam menjadi mundur teratur karena …..biaya yang tinggi. Makasih

  15. 15
    lia Says:

    guide.bknx biasax yg k gd,pgrango th slalu membw senior yg uda berpengalaman dn da pernah ksana.kyk ga bth2 bgt dh guide.mhl utk ank skull.

  16. 16
    kodok ngorek Says:

    begini nie.. jdnya kl segala sesuatu dijadikan ajang cari duit, gunung yg seharusnya menjadi obyek wisata murah berubah mjd hotel bintang lima. pake nurani gak ya… pas bikin paraturan ini? kl seandainya tujuannya untuk pemasukan guidenya sih gak apalah, anggapp amal aja.

  17. 17
    Agung H Says:

    Tampaknya ada upaya utk membuat aturan. Itu memang tugas dan kewajiban pemerintah. dan pemerintah punya wewenang penuh! Asal memang untuk kebaikan, bukan semata2 cari duit, lalu dikorup.Sy ke Pangrango 1980, skg sering ke Lawu. Kesan saya, umumnya gunung2 Indonesia amat kotor oleh sampah pendaki, mulai botol kemasan sp bungkus mie. Barusan saya lihat Kilimanjaro, saya malu. Sepanjang rute yg sy lalui,32km (!), tak lebih dari lima puntung rokok dan atau bungkus permen yg saya temui. Sangat sulit menemukan sampah. yg ada cuma rontokan daun hutan.
    Retribusi oleh pihak pengelola KINAPA (KIlimanjaro National Park)jauh lebih tinggi daripada gunung mana pun di negeri kita. Tapi pengelolaan trek, huts dan campingsites amat bagus! Jangan lupa itu di Tanzania, Afrika. Yg mereka lebih miskin daripada kita.Kok bisa?
    Jadi, bisakah kita belajar?
    Aturan disertai sangsi ketat dan konsisten.
    Tarif harus dibedakan, turis (apalagi orang asing) dengan pelajar/mahasiswa. Dan harus ada bukti bahwa pengelolaannya benar2 bagus. Termasuk jaminan pertolongan (SAR) bagi pendaki hilang/celaka.

  18. 18
    nazrul budi ramadani Says:

    edaann banget tuhh

  19. 19
    Betty Says:

    Terlalu komersil!!!!

  20. 20
    yogy Says:

    gunung punya tuhan,mau ndaki gunung kok bayar,tuhan tidak pernah meminta bayaran atas apapun miliknya,tuhan hanya minta agar kita menjaga miliknya.

  21. 21
    adit Says:

    mending naek jam 3 pagi dari jalur Gn.Putri. ga ada guide, gratis.
    hati2 sama GPO, nanti kalo ketangkep disuruh bayar lagi!

  22. 22
    karikatur Says:

    Ehhh….’gw uda 65x naek ke TNGP. dr msuk Rp2000 gak pake boking bebas lagi sampe bosen nginep di ‘surken,udah gitu loe ngeluarin peraturan harus boking 3 hari sebelum pendakian Rp7000,masih gw turutin..emang gw gak cukup sabar apa menuruti peraturan loe??skrg ditambah lagi pake guide Rp350.000,setiap orang punya kesabaran cooyy…tolong di ” EVALUASI ” lg peraturan itu..loe gak mikir apa tentang nasib para pedagang sekitar..b’ati loe sama aja menghentikan mata pencaharian mereka..

  23. 23
    ical Says:

    >knapa hrs ada peraturan baru di TNGGP yg menyebabkan berkurangnya niat para pendaki untuk ke Gn.gede-pangrango dan dana sebesar itu tuk diapakan??
    >bgmna dng saudara2 kita yg diluar jawa barat, ingin naik ke Gn.gede-pangrango tetapi biayanya tidak mencukupi
    >bgmana untuk generasi muda kita nanti yg ingin mengenal alam di negeri sndri tetapi di komersilkan?
    >sudah bnyk keluhan dari pendudk stmpat yg mengeluh tentang nasib mata pencariannya yg berkurang..dmana hati nurani TNGGP ini
    kita ini sbgai orng jawabarat malu sudah bnyk orng yg omong tntang gede-pangrango kurangnya solidaritas dr kita…

  24. 24
    luki ngatroch Says:

    dulu pernah ada besih gunung. gila sampah di TNGP puluhan truk. itu juga engak ke angkut semua.
    KAYAKNYA PERATURRANNYA ENGAK PERLU segitunya. harus pake PEMANDU??????, 400rb, yang penting mah, semua measa kalo kelestarian TNGP tanggung jawab kita. dan bisa dimanfaatkan oleh kita bersama. jd bukan untuk orang yang berduit aja. Dan yang penting enggak ada kepentingan bisnis.

  25. 25
    janger Says:

    ….so mo ikutan gaya di Rinjani bro….pk guide2an sgl….hehe…UUD…ujung2nya duit..udh pd ktular VIRUS POLITIKUS SENAYAN TUH….sgl Gng di politisir BTW…klo urusan keamanan pendaki mah urusan masing2,..namanya brtualang mmg pnh resiko..siapa mo brtualang hrs siap sgl resikonya.Gw mo bayar Guide dgn cttn : dia msti bw tandu buat angkat gw smp puncak.(jd gw tinggal leyeh2 mbil ngemil aj diatas tandu…).buat gw Naek Gng manja (PAKE GUIDE) cm brlaku buat pemula. Lgpla apa enaknya makan disuapin, tdur dikelonin ‘ma Guide…ihikhh.Mending dirumah apa-apa tinggal Leeeeb….

  26. 26
    Farid Says:

    Kapasitasnya sebagai Guide sudah ter Uji belum ?? kalau mereka bisa sambil memberikan wawasannya tentang Alam bebas dsbnya. yah tdk apalah hitung2 belajar sambil mendaki, tapi tarifnya di kurangi atuh..

  27. 27
    atok Says:

    orang mau daki aja ko repot…
    kasian donk ma orang pribumi yang mau ngedaki di halangin peraturan konyol kaya gitu….

  28. 28
    BeeMouNTaiN Says:

    prediksi saya kayaknya kedepannya tuh gunung lama2 bisa di jual ke pihak asing bro.. siapa yg di untungkan?? ya mereka yg berkepentingan dengan itu kaleee.. pokoknya peraturan tuh gak ada untungnya dah buat kita mah!!!! di itung2 seh skrg yah dari pada naek ke sana mending langsung aja ke semeru bro.. biayanya juga gak beda jauh lah…

  29. 29
    Lintar Says:

    Memang peraturan itu di rasa berat untuk para pelajar & mahasiswa khususnya, karena hobi mereka itu biayanya ditunjang oleh orang tua mereka, bukan dari hasil kerja mereka yah karena status mereka memang pelajar.
    dulu saya juga pernah mendaki gunung ini (10-5-1999), waktu itu belum ada peraturan boking, namun pendakian kedua 28-04-2002 batal karena peraturan boking telah diberlakukan, akhirnya cuma main di cibereum aja, dan malamnya camp di Buper. mandalawangi. ada pertanyaan di situ syarat boking minimal 3 hari sebelum pendakian, sementara pendakian tidak bisa di layani secara online, bagaimana nasib para pendaki di luar Jawa Barat??? tentunya jika mereka harus mendaki menunggu 3 hari, akan bertambah lagi kocek yg harus mereka keluarkan.
    Dan sekarang ada peraturan baru lagi wajib memakai guide + boking sebelumya. tentunya AKAN SANGAT LEBIH BESAR LAGI kocek yg dikeluarkan.
    Beruntunglah buat mereka yg terlahir di dunia ini lebih awal karena mereka mengalami mudah dan murahnya mendaki gunung.
    permasalahannya bukan lah kelahiran seseorang, tapi tarip yg diberlakukan, efeknya akan jarang sekali pelajar yg mampu untuk menggapai puncak gede & pangrango. padahal gunung ini bagus untuk mereka yg kategorinya pemula, kenapa??? air yg melimpah, trek yg aman, jalur yg tidak terlalu berat.
    Padahal Gunung itu akan menciptakan manusia-manusia yg berjiwa mandiri karena mereka mampu mengenali kekurangan dan kelebihan mereka. (lihat Sosok dari Soe Hok Gie)
    Semoga peraturan ini di kaji ulang, dalih pelestarian alam bukan lah suatu alasan, kalo memang alasannya seperti itu berlakukan aturan yg ketat terhadap pendaki seperti sampah yg harus dibawa kembali misalnya, bukan sistem wajib guide, kalo memang peraturan ketat + hukuman bagi pendaki yg mencemari TNGP, saya rasa para pendaki akan mematuhinya.
    SOLUSI TERAKHIR,
    Buat para pendaki (Pelajar & Mahasiswa) yg dananya terbatas, kalian cobalah gunung2 lain, mungkin TNGP akan kalian daki setelah kalian kerja nanti.
    Yang Pasti jangan Matikan ambisi kalian untuk menjadi petualang sejati, kalian tahu apa petualang sejati.
    Petualang Yang tidak meninggalkan apapun kecuali jejak tapak kaki, dan tidak mengambil apapun kecuali Gambar/Foto.
    terima kasih,

  30. 30
    ai Says:

    waduh,waduh,waduh,…
    koq peraturannya bisa ky gt sih bikin orang ilfil z pgn k stu..

  31. 31
    real Says:

    hahhahha…….ini mw daki gunung apa mw ikut tes cpns ????
    kok syaratnya banyak amat,pake tes tertulis segala ?????
    weleh-weleh,makin hari makin banyak yg nyeleneh

  32. 32
    kucing biru Says:

    bagi pemula, cobalah gunug2 lain. GUnung Guntur di Garut misalnya. walau cuma 2200 MDPL tapi treknya sangat menantang. dakilah gunung lain yang kagak ribet ama birokrasi. Cikuray termasuk aman lho.

  33. 33
    buyabolang Says:

    coba soe hoek gie masih ada… habis tuh birokrasi di acak2

  34. 34
    mbah surip Says:

    @buyabolang

    sayang belum ada penerusnya…..

  35. 35
    hafid wanala jambi Says:

    mmmm….aku kira peraturan mesti pake guide g’ perlu, alias revisi.
    n…
    aku sepakat dengan kawan kita: lintar (11 Januari 2009, 21.44),

  36. 36
    danz Says:

    waduh….. enggak salah tu pelaturan…
    mahal banget…

  37. 37
    yayan anjas Says:

    waduhhh tolong di evaluasii lagi tentang pertaturan barunya yang harus mengggunakan guide……kmahalan,,,tolong jangan di buat komersilll ciptaan tuhann….

  38. 38
    ryan Says:

    kami tau praturan ni di buat demi kelestarian alam, tp tolong harap di kaji lg ini sgt memberatkan kepada pendaki klo para pendaki tu byk uang spt pr koruptor ga jd mslh knp ga skalian pemandunya para wanita cantik ky pemandu lagu,naik gunung aj terlalu ribet BIROKRASInya ky mau jd anggota DPR aj

  39. 39
    the punisher Says:

    sy biasa latihan pertempuran hutan gunung spt di daerah latihan KOMANDO PASUKAN KHUSUS di situ lembang, prasan br tau mau naik gunung ky mw ke hotel berbintang aj, klo mang demi kelestarian alam msh byk cr lain spt memberi arahan dan tindakan yg tegas kpd pendaki yg melanggar, toh klo mang msh byk yg mencemari alam tu smua kembali lg kpd individu msg2,praturan boleh dibuat tp ap smua fasilitas sdh mendukung klo belum tolong di pikir lagi

  40. 40
    ancoy Says:

    “TOLAK KOMERSIALISASI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO”

    http://www.facebook.com/profile.php?success=1&id=1288247746#!/group.php?v=wall&gid=157033179007

  41. 41
    ancoy Says:

    “TOLAK KOMERSIALISASI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO”

  42. 42
    aki Says:

    1. realisasikan hal ini segera bung
    2. bentuk badan hukum formal dari wadah yg menjembatani usaha kita agar lebih leluasa bergerak karena mempunyai payung hukum..
    3. satukan visi dan misi..
    4. satukan gerakan dalam pergerakan yg terarah dan anti anrkisme.
    5. bentuk kepengurusan dari setiap kota kota di indonesia..
    6. sosialisasikan tidak hanya di dunia maya tetapi lewat famlet dan selebaran selebaran di setiap pos pendakian gunung gunung di seluruh jawa paling secara khusus dan diseluruh indonesia secara umum.
    7. undang tokoh tokoh nasional yg pergerakannya sesuai dengan kegiatan ini
    8. koordinasi yg baik dalam setiap pergerakan dari seluruh koordinator di setiap kota..
    9. penggalangan dana terbatas dan pembentukan sukarelawan pemantau dengan pengandaan logistik akomodasi yg memadai…
    10. pendakian massal yg melibatkan paling tidak perwakilan dari seluruh pelaku kegiatan alam bebas yg bersedia untuk melakukan aksi damai di lokasi awal pendakian TNGGP ( cibodas )..( show of Power Kepada Pihak TNGGP )
    11. kordinasikan dengan pihak pihak terkait seperti aparat kepolisian stempat dan tokoh masyarakat setempat untuk bahu membahu menjaga keamanan dan ketertiban aksi damai.

  43. 43
    Sugiarto Says:

    Para elang Jakarta memohon kembalikan lingkungan Alam sesuai alamnya semula, Seperti :
    1. menolak Komersialisasi TNGGP yang menghabat pembentukan mental, jatidiri dan kemandirian generasi penerus bangsa;
    2. Menolak Pos Batu di tiap Shelter agar tercipta kembali alamnya yang asri dan alami;
    3. Menolak pembangunan Jembatan kayu diarea TNGGP karena dapat menghambat pertumbuhan pohon2 besar sebagai penyanggah dan pelindung habitat lutung abu-abu dll.;
    4. Menolak penebangan liar di area kaki gunung Gede-Pangrango;
    5. Menolak pengelolaan air bersih di setiap saluran mata air sungai sepanjang ngarai-ngarai dan lembah kaki Gn.Gede-Pangrango, karena akan berkurangnya kebutuhan asupan air bagi hutan dan kebutuhan masyarakat sekitar dalam berkebun, serta dapat mengakibatkan ketidak seimbangan kelembaban kandungan air tanah yang berdampak pemanasan Global dan bahaya Longsor.

    Sehubungan dengan poin 2, s.d. 5 hal tersebut diatas, semua itu disebabkan oleh para pemberi izin dan Pengelola TNGGP berikut juga kebijakan yang dibuat yang jelas-jelas tidak proporsional dan profesional kepada masyarakat khsusunya para Pendaki Lokal, dan sungguh kebijakan tersebut sangat jelas mengkambinghitamkan para pendaki Pecinta Alam.
    Menurut pemantauan kami perambahan dan penebangan liar walau untuk bahan bakar para penduduk setempat dan atau membuat api unggun, hampir 98% dilakukan oleh masyarakat penduduk setempat yang bermukim dikaki Gn. Gede-Pangrango yang telah terbiasa dalam pemanfaatan sumberdaya guna kebutuhan dan pemanfaat bertahan hidup untuk melawan rasa dingin. maka sungguh tidak bijak apabila kebijakan itu dibuat dengan alasan membatasi atau pengendalian prilaku Para Pencinta Alam.

    SALAM RIMBA..SALAM LESTARII BUMI KAMI..

  44. 44
    serly Says:

    aduuuh…mahal amat

  45. 45
    rachmat Says:

    Setujuuuuu…..

  46. 46
    wuri Says:

    Kapasitasnya sebagai Guide sudah ter Uji belum ??
    Jangan-jangan guide karbitan…

  47. 47
    Hada Says:

    Sbnr’a ini bkan tndkan komersialisasi t’hdap SDA TNGP,melainkan lgkah bjak pmrntah utk menjaga n melestarikan ekosistem d lgkgan TNGP.klo rekan2 mengerti n memahami arti n mksd ikrar pecinta alam indonesia,mgkn pmrnth tdk akn mengeluarkan kebijakan itu.Klo rekan2 ingin mengungkapkan aspirasi’a lbh baik protes vila2 yg …b’ada d jlur hjau resapan air d kwsn pnck…Mav rkan2 sy mdkg pjuangan rkan2 dlm membela alam bumi indonesia…Salam lestari bumi ku

  48. 48
    Prie Says:

    kayaknya smua aturan di gunung bagi pendaki sama aj…HRUS, SELALU WAJIB – MERAWAT, MENJAGA LINGKUNGAN ALAM PENDAKIAN dan MEMBAWA SAMPAH bila turun gunung, JANGAN MEMBUANG SAMPAH bila naik – turun gunung ….TERNYATA SBAGIAN PARA PENDAKI GUNUNG ‘Menyepelekan’ smua itu, ‘Membuang Sampah’, ‘Merusak Alam dan akhirnya MASA BODO…!!!!

    Jangan Koar-Koar kl ternyata sbagian Pendaki sendiri yang mengotorinya, merusaknya….

    salam haNGAT aLAM nAN iNDAH TAK bERsAMPah

  49. 49
    misya Says:

    Sedikit pendapat saya mengenai kontroversi pemberlakuan SKKBB TNGGP :
    1. Pendapatan dari pemberlakuan SKKBB atas tarif pemanduan wisata jelas tidak akan masuk Pendapatan Daerah, karena dalam mekanisme pendapatan Asli Daerah setiap pendapatan dari retribusi/pajak daerah pemberlakuan harus melalui PERDA (tidak cukup hanya dengan SKKBB)
    2. Pendapatan dari Pemanduan wisata tersebut jg tidak akan masuk kas negara melalui PNBP( Pendapatan Negara Bukan Pajak) karena apabila KKBB berada dibawah Departemen Kehutanan maka Pungutan harus melalui SK Menteri Kehutanan ato menteri lain yg membidangi TNGGP.
    3. dari 2 ketentuan diatas pendapatan dari pemanduan wisata pastinya hanya masuk ke Balai Besar TNGGP bukan ke kas negara/daerah, hanya tiket masuk sebesar yaitu Rp. 2.500,- per hari per orang untuk pendaki domestik dan Rp. 20.000,- per hari per orang untuk pendaki mancanegara yang masuk ke kas negara sebagai PNBP.

    Jadi permasalahan intinya adalah SKKBB hanya sekedar juknis tetapi mewajibkan pendaki TNGGP didampingi oleh pemandu, interpreter atau porter yang berasal dari Forum Interpreter Balai Besar TNGGP dengan ketentuan tarif yang ditetapkan oleh Kepala Balai Besar TNGGP
    (apakah ini masuk kategori penyalahgunaan wewenang ato bukan saya belum bisa memberikan pendapat yang pasti)

  50. 50
    hafiezd Says:

    SUDAH PASTI SEMUA ITU MASUK KE KANTONG PRIBADI MANA MUNGKIN KE KAS NEGARA MAU TARUHAN……..

  51. 51
    gayuh Says:

    kita tunggu aja beberapa waktu ke depan..kita liat dampak dari keputusan tsb..inget ada “aks”i pasti ada”reaksi”.
    mungkin ini salah satu siasat untuk mengurangi jumlah pendaki yg hampir ribuan setiap bulannya akibatnya sampah selalu kt temui d sepanjang jalan TNGP….
    gw rela klo hasil dari tarif itu memang benar2 untuk menunjang dan melestarikan TNGP yang sangat mempunyai potensi pariwisata..tp klo memang ada salah satu oknum u kepentingan komersil….BANGSAT.itu stu kata bwt mereka……..

  52. 52
    lilo Says:

    Kita Bikin REKOR MURI n DUNIA DEMO DI PUNCAK GUNUNG GEDE PANGRANGO..?

  53. 53
    arif Says:

    TN gede pangrango dapat pembiayaan dari pemerintah melalui kemetrian kehutanan, mas pimpinan tngp kalo mo nyari duit pake cara laen, kalo bicara pemberdayaan penduduk lokal pake jalur pemda bukan tngp yang jadi unit bisnis, coba analisa penduduk lokal mana yang paling banyak dirugikan ketika aturan ini berlaku ? tolong yang paham uu/kepmen mengenai tngp dikaji apakah aturan baru ini nabrak uu/kepmen yang lama ? pemikiran yang aneh menyelamatkan ikan sakit dengan mengorbankan ikan yang sehat aneeeeeeh

  54. 54
    asfa Says:

    ini smua pasti ulah kapitalis yg didukung oleh oknum2 yg ingin mencari celah memperkaya diri sndiri meski yg jdi korbannya adalah kita sbg pewaris penajaga bumi nusantara.uang bukanlah yg mnyelamatkan bumi indonesia

  55. 55
    gayuh Says:

    Pertemuan dari group Facebook Tolak Komersialisasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang diadakan di Bumi Perkemahan Cibubur, tepatnya di area MCK 30 pada tanggal 6 s/d 7 Februari 2010 menghasilkan berbagai rumusan yaitu :
    1. Pembentukan Forum Komunikasi Pendaki Nusantara dengan Sekjend terpilih yaitu Sdr. Rizki Kadarusman.
    2. Pembentukan komisi-komisi, yaitu :
    - Komisi Aspek dan Kajian Hukum
    - Komisi Konsultasi dan Masukan
    - Komisi Aspek Sosial
    Acara ini dihadiri oleh lebih kurang 60 orang dari berbagai elemen dan profesi yang berasal dari JABODETABEK dan Pasuruan. Forum yang terbentuk bisa jadi sebagai aspirasi kekecewaan dari mandulnya PID dan PIW organisasi penggiat alam bebas di tingkatan mahasiswa.
    Memang forum ini boleh dibilang masih balita, namun bisa dilihat semangatnya.. semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kental.
    Bravo Pendaki Nusantara..

  56. 56
    M. hakim Says:

    tepat hari minggu kmarin saya mendaki ke gunung gede pangrango secara ilegal melewati trek putri. diperjalanan tepatnya sebelum pos 4, saya berpapasan dengan sekelompok “ranger” yg saat itu turun..
    kemudian saya ditegur oleh salah satu dari mereka, dan mereka meminta ktp masing-masing dari kami.. memang saat itu kami salah, karna pada saat itu jalur pendakian ditutup akibat cuaca buruk.. tapi kami tetap melanjutkan pendakian. sesampainya disurya kencana ternyata ada seorang wisatawan asing yg ditemani “ranger” yg ingin turun melewati trek putri..
    kami pun heran, bukannya pendakian ditutup untuk umum??tapi kok ada wisatawan asing yg mendaki???
    apakah karna wisatawan asing yg memiliki materi lebih dibandingkan kami masyarakat biasa yg hanya bermodal keinginan untuk merasakan keindahan alam???

  57. 57
    hadya Says:

    memang tu gunung terkenal ma komersialisasinya. simaksi baru yang dibuat benar2 bikin repot para pendaki. tapi kita juga realistis memandang aturan tersebut. sebenarnya ketika kita mendaki gunung secara tidak langsung kita juga “merusak” ekosistim gunung tersebut. tapi menurutku hal ini terjadi ketika kita tidak menghayati makna dari “pecinta alam”. jujur, tiap kali aku naek gunung dan ketemu ma sesama pendaki yang membuang sampah sembarangan,hati ini rasanya miris. katanya pecinta alam tapi kok kelakuannya merusak alam.

    aku pernah sekali naek ke gunung gede pangrango. waktu itu pas ada acara bersih gunung jambore avtech.biayanya cuma 70.000 kalo ga salah dan otupun masih dapet kaos. pada acara itu juga diberikan sosialisasi tentang simaksi baru yang akan diterapkan taman nasional gede pangrango

  58. 58
    adhi Says:

    waw. . .
    ada bener’y juga c tp jgn terlalu memberatkan para pendaki . .
    kan kasian tuh yang mau melihat pemandangan indah dari gunung.
    =)

  59. 59
    joe Says:

    yang buat aturan kaya wakil Tuhan saja. memang negeri ini milik bapakmu. Gede-Pangrango dikomersilkan secara habis2an. paling-paling bapakmu dulu gak ikut berjuang.tapi kamu berusaha mengambil keuntungan dari buah kemerdekaan yang tidak ikut kamu perjuangkan. kami warga negara Indonesia pewaris sah negeri ini. berhak untuk melawan setiap ketidak adilan dari manusia Oportunis macam kamu.selama tidak menimbulkan kerusakan dan kekotoran di bumi ini.

  60. 60
    pink pasuruan jawa timur Says:

    gunung gede pangrango adalah milik bersama dan kita juga yang harus menjaga demi kelestarian alam, akan tetapi bila ada tarif yang begitu heboh mengguncang para pendaki senusantara apakah pihak TNGGP tak takut didemo oleh temen2 pecinta alam dan penggiat alam lainnya…. itu bukan mendukung aktifitas pendaki gunung tetapi malah membunuh kreatifitas para pendaki gunung yang ada diIndonesia…..

    Jawa Timur banyak gunung berserakan dimana tetapi Pihak Taman Nasional tak pernah membunuh kreatifitas para pendaki dengan tarif yang cukup mahal itu karena kita semua adalah saudara…

    apakah semua ini berkaitan dengan isi perut…..

  61. 61
    Acho Says:

    kami dari Forum Komunikasi Pendaki Nusantara,
    mengundang rekan2 yang ingin ikut sarasehan di balai taman nasional gunung gedepangrango,
    tanggal 1 s/d 2 april 2010, sarasehan ini membahas polemik dikalangan pendaki mengenai system guideyg berlaku sekarang, ..
    biaya mendaki yang memberatkan membuat sistem ini dipertanyakan efektivitasnya,
    kami juga mengharapkan kritik dan saran-saran yang membangun,

    trims

    salam lestari

  62. 62
    rizky Says:

    salam lestari……….
    menurut gw peraturan baru TNGP hanya mempersulit para pendaki, terlebih diberlakukan biaya guide….
    mungkin sisi positif dari diberlakukan peraturan tsb ada baiknya, namun hrusnya beri solusi yg lbh baik lagi supaya tdk memberatkan para pendaki.

    KARYA BHAKTIMU SUDAH DI TUNGGU DI ALAM LUAS NAN BIRU…..

    salam lestari……..

  63. 63
    paijo Says:

    jangan hanya bisa bicara ayo datang dan buktikan sikapmu pada 1 – 3 april 2010 di Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango…

  64. 64
    erie Says:

    wah…itu sih sama juga dengan pemerasan/pungli, kasihan dong pendaki yg datang jauh2 dari yogya, surabaya dll dan bawa uang cuma cukup untuk transport pp dan logistik, diharuskan sewa guide/porter 400ribu….!! wow..!!! dikemanain itu duitnya ya..?

  65. 65
    divad Says:

    woww….ngga salah tuh sewa guide 400 ribu sekali jalan sampai putri….? mendingan sekaian ke Gn, LAWU atau ke SEMERU aja kalau segitu gedenya pengeluaran…!!

  66. 66
    fahlan Says:

    terlalu berat buat pendaki dngan harga yang terlalu tinggi…..

  67. 67
    athep Says:

    fikirkan kantong pelajar…terlalu mahal untuk menyalurkan hoby kami…
    kami bukan konglomerat..

  68. 68
    arjo Says:

    Sekilas Info : Pada tgl 1 – 3 april 2010 di Balai TNGP, Cibodas, sedianya akan diadakan audiensi antara pihak perwakilan pendaki dgn pihak taman nasional,sehubungan dgn keluarnya sk.93/tngp/2009 ttg biaya jasa pemanduan di TN gede-pangrango yg menuai pro-kontra. Untuk rekan2 yg tdk setuju dgn kebijakan TNGP tsb dan b……ersedia hadir, namun perlu undangan resmi kpd Organisasinya masing2 harap konfirm ke sdr.ade kocil no di 08568660196 atau ipank nugraha di no 081586481669 selaku koordinator network kegiatan/komunikasi antar organisasi pencinta alam se-Indonesia khususnya utk permasalahan diatas. Dukungan anda adalah nyawa perjuangan ini. Kibarkan atribut kebanggaan masing-masing. Mari bersama menolak komersialisasi Taman Nasional

  69. 69
    arjo Says:

    Sekilas Info :
    Pada tgl 1 – 3 april 2010 di Balai TNGP, Cibodas,Bogor, Jawa Barat sedianya akan diadakan audiensi antara pihak perwakilan pendaki dgn pihak taman nasional,sehubungan dgn keluarnya sk.93/tngp/2009 ttg biaya jasa pemanduan di TN gede-pangrango yg menuai pro-kontra.
    Untuk rekan2 yg tdk setuju dgn kebijakan TNGP tsb dan bersedia hadir, namun perlu undangan resmi kpd Organisasinya masing2 harap konfirm ke sdr.ade kocil no di 08568660196 atau ipank nugraha di no 081586481669 selaku koordinator network kegiatan/komunikasi antar organisasi pencinta alam se-Indonesia khususnya utk permasalahan diatas. Dukungan anda adalah nyawa perjuangan ini. Kibarkan atribut kebanggaan masing-masing. Mari bersama menolak komersialisasi Taman Nasional

  70. 70
    Pandu Says:

    Wah apes bener sayah, padahal ke puncak Gede cuma buat jalan dan turun lagi, 8 jam juga udah selese, mesti bayar 400rebu. Ini juga sih gara2 pendaki kampungan otak udang yang suka nyampah di gunung gede/pangrango.

  71. 71
    athep Says:

    kalo 400 rebu buat pelajar??
    coba pikir ulang………..

  72. 72
    Bloks Says:

    kita siap mendukung perubahan yang mana harus dirubah,salam Rimba

  73. 73
    sunan_climber Says:

    mudah-mudahan hasilnya kembali lg seperti dulu lg….bis keberatan 400 rb…kesian buat ade2 kelas ku yg ingin ber pendidikan….

  74. 74
    sabwa Says:

    kayanya kebijakan itu kegedean deh buat isi kantong pelajar soalnya gue pelajar, mentang2 taman nasional dan letaknya deket dari jakarta ke cibodas dan jg salah satu gunung favorit. ya seharusnya gausah pake ditaek-taekin lah biayanya, apalagi pake guide jahahha kegedean tuh guide mintanya seharusnya kasih roko samsu dan permen lollipop aja.

  75. 75
    mael Says:

    Mohon dukungan U/ tanggal 10-04-2010 di CIBODAS bersama Dengan REPEAL Jakarta Membahas Tentang Guide dan Booking sebagai tindak lanjut dari aksi tanggal 1-3 April 2010 Tuk pesiapan tanggal 15-04-2010 karena akan diadakan demo besar-besaran bersama Warga setempat dan Para Pecinta Alam Se Indonesia. Untuk Info lebih lanjut HUB : Website REPEAL JAKARTA

  76. 76
    nurulusianto Says:

    salam lestari.
    sesuai dengan kegiatan sosialisasi SKB para pendaki dengan taman balai yang diadakan di cibodas bahwasanya keputusan hasil akhir yaitu :
    1. Dicabutnya SK yang mengunakaka Guide
    2. Pelaksnaan pendakian tetap menggunakan boking dan Quota
    Jadi kita dukung lagi dan meriahkan TNGP dengan menjaga kelestarian Alam dan Lindungilah hutan dengan tidak membuang sampah danvandalisme yang dapat merusak hutan ….salam lestari

  77. 77
    mael Says:

    Salam Rimba….
    Bener banget yang di bilang nurul, bahwasanya SK tentang GUIDE di TNGGP telah dicabut pada tanggal 15 April 2010.
    Maju terus Para petualang Indonesia.

  78. 78
    catur adventure marunda Says:

    ty to perjuangan smua kwn”. ingat sampah’y bawa turun. jgn mntang” d pos cibodas jarang yang ngawas ok….!

  79. 79
    asray Says:

    maaf neh baru tahu saya, truz gmn hasilnya dalam forum2 itu yg membahas Guide itu..???
    Nanti yg saya taskutkan ini menular ke semua Taman2 nasoinal se Indonesia..kita2 ini kan orang indonesia sendiri masa harus membayar mahal utk ini…memangnya itu Taman2 punya siapa..???
    pante

  80. 80
    Elang-Biru Says:

    Ada kalanya,peraturan itu benar dan harus ditegakan.Tapi,ada kalanya juga,peraturan itu dibuat justru demi kepentingan satu pihak atau per-orangan yg ingin memperkaya pundi-pundi kantongnya.
    Coba tengok ke gunung-gunung lain yg menjulang lebih tinggi dari Gede-Pangrango,Admin disana tak menerapkan peraturan yg serumit akses masuk Gede-Pangrango untuk mendaki.Apakah karena TNGP selama ini banyak dibiayai oleh bantuan dari Luar Negeri,hingga harus tunduk pada “Kesepakatan” dari Luar itu pula?
    Kalau begini caranya,lama-lama TNGP bisa disamakan seperti pemerintahan ‘Orba’ yg jadi “kacung” IMF.Diberi makan enak,tapi harus hidup di “Kandang” dan sesekali harus mau “Menjilat” pantat majikannya :) )…Ironis sekali!
    Well,semoga Admin disana dapat membuka mata,membuka telinga dan sadar,bahwa Gede-Pangrango adalah milik Negeri ini dan bukan milik bangsa luar.
    Jujur,saya adalah salah satu Leader kedua pada Organisasi Adventure yg dibentuk oleh orang Jepang,tapi tidaklah saya haru menjadi Jepang-Centris.Saya tetaplah anak bangsa ini dan bangga akan hal itu.
    Salam Hijau teman-teman dan tetaplah selalu menjadi seorang Pendaki atau Adventurer yg menjaga dan merawat keindahan alam ini dimanapun anda berada.

  81. 81
    widji Says:

    salam lestari…………….

    semesta alam dan Tuhan tau mana yg cri duit dri aturan yg g jelas arahnya ini…mo menikmati alam bebas kok kyk mo msk Taman Mini aja..

    save our earth.sob…

  82. 82
    ramon Says:

    yah…
    klo gtu pendakian gunung hanya untuk kalangan orang menengah ke atas dong.klo buat pelajar kaya saya gimana?
    melestarikan alam gak gitu juga kali,klo emang bner2 pengen mlestarikn alam,kenapa gak sekalian semuanya aja?gak harus gede-pangrango aj kan?

  83. 83
    pasir Says:

    liat aturan pendakian teknisnya deh
    1. ga boleh bawa handy talky, kalo ilang gimana komunikasinya ya? kalo pendaki terpisah gimana komuniksinya? gw kalo naik paling ga bawa dua handy talky.

    2. bawa trangia ga boleh ya? kan bukan kompor gas dan parafin? my god its out of date lah yauw waakakakakaak
    3. Headlamp boleh di bawa ga ya?
    4. Golok ga boleh, kalo ilang gimana survive ya kalo ga punya golok dan ga boleh bikin api unggun