(Hari Kedua) Jumat, 13 Juni 2008
Tobacco Hut – Camp Gubuk – Simpang Angkasan – Bivak I
Deskripsi Jalur : Tobacco Hut – Camp Gubuk : Melewati punggungan-punggungan kecil terbuka. Di awal jalur, vegetasinya memang tidak rapat. Namun di akhir jalur menuju Camp Gubuk, vegetasinya lumayan rapat. Di samping itu, kita juga mesti menuruni punggungan kecil bila ingin mencapai Camp Gubuk, dimana jalur turun tersebut tidaklah terlalu jelas. Lama waktu yang dibutuhkan dari Tobacco Hut ke Camp Gubuk kurang lebih 1 jam.
Deskripsi Jalur : Camp Gubuk – Simpang Angkasan : Naik-turun punggungan kecil terbuka di awal jalur, kemudian kita akan melewati “pintu rimba” yang mengantarkan kita pada hutan rimba Leuser. Dari “pintu rimba” menuju Simpang Angkasan, jalur-jalur terjal mulai menghadang. Pada jalur terjal ini, jalur juga akan diramaikan oleh jejeran akar pepohonan yang cukup licin. Lama waktu yang dibutuhkan dari Camp Gubuk ke Simpang Angkasan kurang lebih 5 jam.
05.00 Bangun tidur, beres-beres peralatan, masak, sarapan.
”Pagi hari, pukul 05.00, satu per satu dari tim mulai bangun. Dingin yang menusuk, tidak menyurutkan kami membuat beberapa menu masakan untuk kami santap pagi ini. Segelas teh lemon membuat tubuh kami terasa hangat, ditambah cerita-cerita dari Bang Agam tentang masa lalunya yang semakin menambah akrabnya suasana. Selesai sarapan kami langsung melakukan packing untuk selanjutnya meneruskan perjalanan pendakian menuju camp selanjutnya yaitu Bivak I.”
09.00 Jalan dari Tobacco Hut menuju Simpang Angkasan.
”Setelah semua persiapan telah kami lakukan, tanpa membuang waktu kami langsung melanjutkan pendakian. Baru beberapa langkah kami berjalan, medan yang kami lalui langsung menanjaki punggungan-punggungan kecil yang terbuka, sengatan matahari yang cukup terik membuat napas kami cukup terengah-engah. Di awal jalur, vegetasinya memang tidak rapat. Namun di akhir jalur menuju Camp Gubuk, vegetasinya lumayan rapat. Selain itu, banyak jalur yang dibuat oleh kerbau-kerbau yang lalu-lalang di daerah ini, sehingga membuat kami cukup bingung untuk memilih jalur yang mana yang tepat. Untuk mencapai Camp Gubuk, kami mesti menuruni punggungan kecil dimana jalur turun tersebut tidaklah terlalu jelas.

Gbr. Camp Gubuk
Camp Gubuk merupakan wilayah yang masih berlokasi di sekitar ladang tembakau (Tobacco Hut). Di tempat ini terdapat sebuah gubuk, yang sayangnya kini hanya tersisa reruntuhannya saja. Sebelum gubuk ini hancur, tempat ini sebenarnya dapat digunakan oleh para pendaki untuk membangun camp. Namun, setelah hancur, tempat ini seperti sulit mempunyai fungsi yang sama seperti dulu, karena memang ruang yang dimilikinya tidaklah terlalu besar. Di Camp Gubuk ini juga terdapat sumber air, yaitu berupa genangan air, yang kondisi airnya lumayan keruh, karena sering dimanfaatkan oleh kerbau-kerbau sebagai sumber air mereka. Waktu yang ditempuh dari Tobacco Hut menuju Camp Gubuk kurang lebih 40 menit.”
Deskripsi Jalur : Simpang Angkasan – Bivak 1 : Jalur terjal masih sering dijumpai di sini, meskipun ada beberapa bagian jalur yang relatif landai. Jejeran lumut pegunungan yang mengeluarkan bau khas juga dapat kita jumpai di awal dan pertengahan jalur, dimana vegetasi di tempat itu lumayan rapat. Di akhir jalur, vegetasi yang sudah tidak terlalu rapat cukup memberikan pemandangan yang berbeda. Namun, jalur-jalur terjal justru banyak terdapat di akhir jalur ini. Lama waktu yang dibutuhkan dari Simpang Angkasan ke Bivak 1 kurang lebih 3 jam.
14.20 Tiba di Simpang Angkasan. Istirahat sejenak. Lanjut lagi menuju Bivak 1.
”Setelah melewati Camp Gubuk dengan menuruni dan menaiki bukit-bukit, akhirnya kami sampai di “pintu rimba” yang mengantarkan kami menuju hutan rimba Leuser. Dari “pintu rimba” menuju Simpang Angkasan, jalur-jalur terjal mulai menghadang. Pada jalur terjal ini, jalur juga akan diramaikan oleh jejeran akar pepohonan yang cukup licin. Selama kurang lebih 4 jam pendakian yang cukup melelahkan, kami pun akhirnya sampai di Simpang Angkasan.

Gbr. Simpang Angkasan
Simpang Angkasan memainkan peranannya sesuai dengan namanya, dimana tempat ini merupakan persimpangan jalan menuju Pucuk Angkasan dan kampung Bui. Tempat ini tidaklah terlalu luas, setidaknya 1-2 buah tenda dapat dibangun di sini. Namun, jarang sekali pendaki yang ingin membangun camp di sini karena kondisi tanahnya yang tidak rata akibat banyaknya akar-akar pepohonan besar. Sumber air di tempat ini berupa genangan air yang tidak terlalu besar.”
17.55 Tiba di Bivak 1. Ngecamp.
”Setelah menikmati buah semangka yang lezat serta segelas susu, tenaga kami pun pulih seketika. Kami langsung meneruskan pendakian menuju Bivak I. Bivak I merupakan tempat yang cukup nyaman untuk membangun camp. Tempatnya yang cenderung datar dan memiliki ruang terbuka sangat memungkinkan angin sejuk pegunungan untuk lalu-lalang di tempat ini. Tempat ini lumayan luas, cukup untuk 3-4 buah tenda. Sumber air di tempat ini berupa dua buah genangan air yang cukup besar, dimana air di dalamnya berwarna kuning kecoklat-coklatan akibat dari lumut-lumut yang tumbuh di pinggiran genangan tersebut. Namun kita tidak usah takut akan keracunan jika meminum air tersebut, karena air tersebut dijamin bersih dan layak untuk dikonsumsi serta sudah kami uji kelayakannya. Dan yang paling mengasyikkan di tempat ini adalah terdapatnya sinyal HP, sehingga kami bisa menghubungi keluarga atau sahabat.
Untuk menuju tempat ini, medan terjal yang dilalui masih sering dijumpai selama pendakian, meskipun ada beberapa bagian jalur yang relatif landai. Jejeran lumut pegunungan yang mengeluarkan bau khas juga dapat kita jumpai di awal dan pertengahan jalur, dimana vegetasi di tempat itu lumayan rapat. Di akhir jalur, vegetasi yang sudah tidak terlalu rapat cukup memberikan pemandangan yang berbeda. Namun, jalur-jalur terjal justru banyak terdapat di akhir jalur ini.

Gbr Bivak 1
Penantian dan pengharapan yang cukup panjang untuk sampai di Bivak I akhirnya terwujud, tiga jam perjalanan yang sangat melelahkan dari Simpang Angkasan membuat kami ingin merebahkan tubuh dalam tenda yang hangat, setelah sebelumnya kami menyantap makanan dengan sangat lahap.”
(Hari Ketiga)Sabtu, 14 Juni 2008
Bivak I – Bivak II – Pucuk Angkasan – Kayu Manis I
Deskripsi Jalur : Bivak 1 – Bivak 2 : Jalur cukup jelas dan vegetasi yang lumayan rapat membuat jalur ini sulit sekali mendapatkan sinar matahari secara langsung. Pemandangan lain dari jalur ini adalah banyaknya pohon-pohon melintang dan tentunya lumut-lumut pegunungan yang tumbuh di batang-batang pohon besar. Lama waktu yang dibutuhkan dari Bivak 1 ke Bivak 2 kurang lebih 1 jam.
Deskripsi Jalur : Bivak 2 – Pucuk Angkasan : Permulaan jalur masih berisikan jalur-jalur yang tertutup oleh rapatnya vegetasi. Setelah itu, memasuki bagian dimana kita mesti naik-turun punggungan tipis terbuka. Kehati-hatian sangat diperlukan ketika kita melewati bagian jalur ini, karena banyak bagian jalur yang hanya sedikit berjarak dengan jurang. Selain itu, ranting-ranting yang sering menutupi jalan sedikit menyulitkan kita untuk melalui jalur ini. Lama waktu yang dibutuhkan dari Bivak 2 ke Pucuk Angkasan kurang lebih 3 jam.
06.00 Bangun tidur, masak, sarapan, beres-beres.
09.15 Berangkat dari Bivak 1 menuju Pucuk Angkasan
“Fajar itu, ketika matahari yang kemerah-merahan muncul dari balik pepohonan, kami keluar dari dalam tenda untuk kembali membuat sarapan pagi ini. Sepiring nasi ditemani daging serta sayur-sayuran membuat kami kembali fit untuk kembali melanjutkan pendakian.
Jalur yang cukup jelas dan vegetasi yang lumayan rapat membuat jalur ini sulit sekali mendapatkan sinar matahari secara langsung. Pemandangan lain dari jalur ini adalah banyaknya pohon-pohon melintang sehingga kami harus berjongkok dan terkadang mesti tiarap. Selain itu, lumut-lumut pegunungan yang tumbuh di batang-batang pohon besar membuat udara cukup lembab dan tanah yang agak basah. Satu jam kami berjalan terus mendaki. Dengan langkah yang semakin gontai, akhirnya kami pun sampai di Bivak 2.
Bivak 2 merupakan tempat istirahat yang tidaklah terlalu luas, hanya cukup untuk 1-2 buah tenda. Tempat yang cukup kecil ini sedikit memiliki keuntungan, yaitu terhindar dari angin pegunungan karena lokasinya yang terlindungi oleh pohon-pohon di sekitarnya. Sumber air di tempat ini masih berupa genangan air yang terletak tidak jauh dari lokasi camp.
Tak lama kami beristirahat di Bivak 2, kami pun meneruskan kembali pendakian ini. Permulaan jalur masih tertutup oleh rapatnya vegetasi. Setelah itu, memasuki bagian dimana kami mesti naik-turun punggungan tipis terbuka. Kehati-hatian sangat diperlukan ketika melewati bagian jalur ini, karena banyak bagian jalur yang hanya sedikit berjarak dengan jurang. Selain itu, ranting-ranting yang sering menutupi jalan sedikit menyulitkan kami untuk melalui jalur ini. Lama waktu yang dibutuhkan dari Bivak 2 ke Pucuk Angkasan kurang lebih 3 jam.”

Gbr Bivak 2
14.00 Tiba di Pucuk Angkasan setelah sebelumnya sempat melewati Bivak 2. Istirahat makan siang (200 m. dari Pucuk Angkasan). Bertemu dengan Mr. Jali, Mr. Isa, dan rombongan High Camp Adventures.

Gbr. Pucuk Angkasan
”Pucuk Angkasan merupakan sebuah puncakan yang tidaklah terlalu luas, cukup untuk 1-2 buah tenda. Pemandangan hutan dan bukit terlihat begitu indah dari puncak ini. Selain itu, di puncak ini juga terdapat sebuah tugu triangulasi tersier. Di sini, kami bertemu dengan beberapa pendaki lain beserta dua orang porter yang hendak turun setelah 13 hari mendaki. Kami hanya berpapasan dengan pendaki tersebut, karena mereka terburu-buru untuk sampai ke desa Kedah. Namun, kedua porter tersebut sempat menemani kami di Pucuk Angkasan. Cukup lama kami saling bercerita sambil menanyakan informasi mengenai pendakian yang telah mereka lakukan, baik tentang jalur pendakian maupun vegetasi yang ada. Dan informasi yang tidak kalah penting adalah ketika mereka memberi tahu kami bahwa mereka masih meninggalkan dua paket logistik, satu di Lintasan Badak sedangkan satu lagi di Padang Rumput (Blangbeke), ”a…ha…, itu artinya kita pesta dong”. Sebagai cenderamata, porter tersebut membuatkan kami gelang yang terbuat dari rotan yang mereka anyam sendiri di tempat ini.”
Deskripsi Jalur : Pucuk Angkasan – Kayu Manis 1 : Permulaannya kita mesti menuruni sebuah punggungan yang tidak terlalu terjal. Kemudian, kita mesti kembali naik-turun punggungan hingga sampai ke Kayu Manis 1. Pohon-pohon melintang, tertutupnya jalur akibat rapatnya vegetasi, dan lumut-lumut pegunungan juga mesih ada di jalur menuju Kayu Manis 1 ini. Lama waktu yang dibutuhkan dari Pucuk Angkasan ke Kayu Manis 1 kurang lebih 2 jam.”
15.00 Berangkat dari Pucuk Angkasan menuju Kayu Manis 1.
17.00 Tiba di Kayu Manis 1. Ngecamp. Target camp sebelumnya adalah Kayu Manis 2. Namun karena kondisi tim yang sudah sangat lelah, maka diputuskan untuk ngecamp di Kayu Manis 1.
”Hari semakin sore, walaupun matahari masih terlihat terang. Sekitar pukul 14.00, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Kayu Manis 1 setelah berpisah dengan kedua porter tersebut. Pada permulaan jalur ini, kita mesti menuruni sebuah punggungan yang tidak terlalu terjal. Kemudian, kita mesti kembali naik-turun punggungan hingga sampai ke Kayu Manis 1. Pohon-pohon melintang, tertutupnya jalur akibat rapatnya vegetasi, dan lumut-lumut pegunungan juga masih ada di jalur menuju Kayu Manis 1 ini. Lama waktu yang dibutuhkan dari Pucuk Angkasan ke Kayu Manis 1 kurang lebih 2 jam.”

Gbr. Kayu Manis 1
Kayu Manis 1 merupakan tempat yang cukup nyaman bagi para pendaki untuk membangun camp. Tanahnya datar dan cukup untuk 2-3 buah tenda. Suhu di tempat ini yang lebih dingin dibandingkan tempat camp lainnya dan terbukanya pemandangan, semakin menambah kelebihan dari tempat ini. Sumber air di tempat ini berupa sebuah genangan air.
Tenda kami telah berdiri, kami pun telah mengganti pakaian yang basah oleh keringat dengan pakaian kering. Kini saatnya kami memasak. Ardi pun langsung menyalakan radio seperti biasanya. Minuman hangat yang telah lebih dahulu dibuat menemani kami sambil bercerita akan kenangan masa lalu, sungguh indah hal ini. Tak terasa sore pun telah berganti malam, makanan pun telah tersaji.
Menu yang tersedia untuk makan malam ini pun habis dalam sekejap. Lambung kami pun seolah menjerit-jerit karena tak ada satu rongga pun yang tersisa di situ. Obrolan-obrolan ringan sempat kami lakukan seusai makan malam. Namun karena kantuk yang terus-menerus menyerang, akhirnya kami pun menyerah. Satu per satu dari kami kemudian memasuki tenda dan memejamkan mata. Persiapan fisik untuk hari esok pun telah kami lakukan malam ini. ”
2010 adventure Anggota arung jeram badan pengurus Bakti Sosial beregu buku ciberang ciremai dono fotografi Gunung Kidul hiu indro jawa barat Jejak Jelajah Karst kasino lingkungan lintas alam lomba majalah mapala ui mapalsu Meru Betiri norman edwin nurmulia rekso Panjat Tebing Pantai pelantikan pendakian penipuan piala reality show Rektor Semeru seminar Soe Hok Gie UI warkop warkop dki workshop World Oceans Day
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
August 16th, 2008 at 16:03
artikelnya lumayan bagus, supaya ditingkatkan.
December 25th, 2008 at 16:52
ada planing untuk keLeuser lagi ngga?
January 4th, 2009 at 21:25
Lanjutkan prestasi lu “Donki” kapan nih Xentala hiking bareng lagi jangan lupain kita dongg…..!!!
He…He…He…!!!!!
Cayo Bro…..