Leuser 3. Hari 1 - Kedah

Desa Kedah, Kuta Panjang

Desa Kedah merupakan titik start kami untuk melakukan pendakian Gunung Leuser yang terletak di kecamatan Kuta Panjang, kabupaten Gayo Lues. Sepanjang perjalanan memasuki desa Kedah, dapat kita lihat sawah-sawah hijau membentang di kanan kiri jalan yang kemudian berganti dengan ladang-ladang penduduk, nampak pula barisan bukit-bukit Gunung Leuser yang terlihat menawan dikejauhan.
Desa Kedah merupakan salah satu perkampungan penduduk asli yang selalu ramah menyambut siapa saja yang berkunjung sepanjang tak mengusik lingkungan yang memang dilarang untuk dirusak. Karena penduduk asli (adat Gayo) menganggap bahwa kawasan Leuser sebagai ”surga terakhir bagi satwa di Sumatera”, sehingga masyarakat sangat menjaga kawasan ini.

Gbr. Wisma Pemda
Keramahan itu pun kami temui di Wisma Pemda yang menjadi tempat istirahat kami setelah menempuh 15 jam perjalanan dari kampus USU, Medan. Wisma ini terletak di Desa Kedah dan merupakan pintu masuk hutan Gunung Leuser dari jalur Kedah. Wisma yang dibangun sebagai sarana pendukung dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Taman Nasional Gunung Leuser tersebut terdiri dari 5 buah bangunan berbentuk seperti Bungalow dan 1 buah bangunan menyerupai bangunan gubuk sederhana. Dari 5 Bungalow, 1 Bungalow memiliki ukuran yang lebih besar dari yang lain. Wisma ini dapat digunakan sebagai sarana istirahat bagi para pendaki, baik sebelum memulai pendakian maupun setelah selesai mendaki.

(Hari Pertama)Kamis, 12 Juni 2008

Wisma Pemda – Sinebuk Green - Tobacco Hut
Deskripsi Jalur : Wisma Pemda – Sinebuk Green : Jalur terlihat jelas dan cukup landai. Di awal jalur, kita mesti menyeberangi sungai dengan meniti duah buah batang bambu. Vegetasi di jalur ini tidak terlalu rapat, namun keasriannya masih tetap terjaga. Lama waktu yang dibutuhkan dari Wisma Pemda ke Sinebuk Green kurang lebih 1 jam.

06.00 Tim mulai packing. Siap-siap memulai pendakian.
“Pagi itu, kabut tebal menyelimuti wisma tempat kami menginap, udara dingin sungguh menusuk tulang ketika pintu dan jendela mulai terbuka, sungguh membuat kami malas untuk melakukan aktivitas. Namun, hal itu tentu saja tak menyurutkan kami untuk melakukan pendakian yang telah kami rencanakan beberapa bulan lalu. Paket logistik untuk 14 hari yang kami bawa, serta peralatan dan perlengkapan lainnya membuat carrier kami membumbung tinggi, ditambah lagi daypack yang dibawa. Tim juga meninggalkan beberapa barang di Wisma Pemda yang dianggap tidak diperlukan selama pendakian berlangsung.”

08.00 Packing selesai, kemudian dilanjutkan dengan sarapan.
”Tim siap-siap mendaki Leuser meskipun masalah guide belum terselesaikan. Pukul 09.00 kami memulai pendakian menuju Sinebuk Green. Tim terdiri dari enam anggota Mapala UI yaitu Bang Agam (58thn), Ali (22), Ardi (22), Mprie (22), Ringga (22) dan Sofyan (22), serta satu orang dari Mapala Unand yaitu Fahmi (29). Beberapa teman kami sesama Mapala, yaitu Kak Imar (Mapenta), Bang Indro (Kompas USU) dan Marcel (Gemapala Sastra USU), turut mengantar kami hingga Sinebuk Green. Tak lupa sebelum berangkat kami memulainya dengan doa agar kami diberikan keselamatan selama pendakian.
Jalur dimulai dengan menuruni bukit yang tidak terlalu curam dan terlihat cukup jelas. Jurang yang ada di sebelah kanan jalur cukup membuat kaki kami bergetar, bukan karena takut melainkan akibat menahan beratnya carrier yang mencapai lebih dari 40 Kg, maklum masih dalam tahap penyesuaian. Selanjutnya, kami harus menyeberangi sungai, satu per satu dari kami mulai meniti jembatan yang terbuat dari dua buah batang bambu, satu sebagai titian dan yang satu lagi sebagai pegangan. ”Ngek…ngek…”, kira-kira begitulah suara yang keluar dari bambu itu ketika kami mencoba melewatinya. Setelah menyebrangi sungai, jalur yang dilalui relatif datar, sungai yang mengalir di kiri jalur pendakian semakin membuat kami tenang dan semakin menikmati pendakian ini. Vegetasi di jalur ini tidak terlalu rapat, namun keasriannya masih tetap terjaga terbukti dengan terdengarnya suara-suara siamang, burung-burung serta serangga yang seakan menyambut kami dengan ramah.
Setelah 45 menit kami berjalan, akhirnya sampai juga di Sinebuk Green. Ini merupakan tempat yang terdiri dari 3 buah Bungalow dan 1 buah bangunan yang berfungsi sebagai kantin. Sinebuk Green sangat cocok sebagai tempat istirahat bagi para pendaki sebelum melanjutkan pendakian mereka. Selain itu, bungalow-bungalow yang terdapat di Sinebuk Green ini juga dapat di sewa oleh para pendaki bila mereka ingin menginap dan melepaskan lelah.

Gbr Sinebeuk Green
Tanpa basa-basi kami pun langsung melepas carrier dari pundak dan menaruhnya di salah satu bungalow sambil mengambil air dari dalam carrier tersebut. Teguk demi teguk air membasahi tenggorokan kami yang mulai kering akibat terik matahari. Kami pun tersadar, kenikmatan itu terasa lebih ketika kita terlepas dari derita.”
Deskripsi Jalur : Sinebuk Green – Tobacco Hut : Jalur masih terlihat jelas dengan vegetasi yang tidak terlalu rapat. Jalur yang sedikit terjal di sini memberikan tantangan tersendiri. Selain itu, terdapat juga bagian jalur dimana kita mesti melipir sungai. Jalur di daerah sungai ini memang sedikit basah dan sedikit licin. Di akhir jalur menuju Tobacco Hut, kita akan disambut oleh ladang-ladang yang cukup luas. Lama waktu yang dibutuhkan dari Sinebuk Green ke Tobacco Hut kurang lebih 4 jam

09.00 Welcome to Sinebeuk Green.
”Setelah 15 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Tobacco Hut setelah berpamitan dahulu dengan ketiga teman kami yang telah mengantar sampai Sinebuk Green.”

13.37Tiba di Tobacco Hut. Lanjut lagi menuju Camp Gubuk
”Perlahan kami melangkah, walaupun Jalur yang harus dilalui masih terlihat jelas dan vegetasi tidak terlalu rapat, namun beban dalam carrier memaksa kami untuk tidak melangkah dengan cepat. Selain itu, terdapat juga bagian jalur dimana kita mesti melipir sungai. Jalur di daerah sungai ini memang sedikit basah dan licin, sehingga memberikan tantangan tersendiri bagi kami.
Setelah beberapa ratus meter berjalan, medan yang kami lalui mulai terjal. Dengan gaya memanjat, kami mulai meraih akar-akar dan batang pohon untuk melewati medan ini. Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana yang indah. Vegetasi yang rindang serta udara sejuk membuat kami terlindung dari terik matahari Suara-suara burung dan siamang menambah keasrian suasananya. Akhir jalur menuju Tobacco Hut, kita akan disambut oleh ladang-ladang yang cukup luas dengan pemandangan yang cukup indah. Vegetasinya sudah mulai terbuka, tidak ada lagi pohon-pohon rindang. Jika kita melihat ke arah timur laut, hamparan rumah-rumah penduduk terlihat sangat kecil dari sini. Sedangkan di bagian selatannya, mata kita dimanjakan dengan sederetan bukit dan lembah yang menjadikan tempat ini cukup indah”.

14.46 Tiba di Camp Gubuk.
“Sebenarnya, tim akan ngecamp di Camp Gubuk ini, namun karena gubuk yang terdapat di sini sudah hancur maka tim memutuskan untuk kembali lagi ke Tobacco Hut. Sebelumnya, tim sempat bingung mencari lokasi ngecamp di sekitar Camp Gubuk ini.”

15.39Tiba di Tobacco Hut. Ngecamp.
”Tobacco Hut merupakan tempat yang diisi oleh ladang tembakau milik penduduk sekitar. Terik matahari terasa sangat menyengat di wilayah ini karena memang punggungan-punggungan kecilnya terbuka lebar. Di tempat ini juga terdapat beberapa gubuk milik petani tembakau dan beberapa ekor kerbau milik penduduk yang dibiarkan hidup bebas di sini. Ikon dari Tobacco Hut adalah bangunan gubuk milik penduduk, dimana gubuk tersebut dapat dimanfaatkan oleh para pendaki untuk membangun camp mereka dan beristirahat. Sumber air di Tobacco Hut berupa aliran sungai kecil yang cukup jernih. Di sekitar sumber air tersebut terdapat pula tanaman-tanaman seperti alpokat dan jeruk Bali.”

Gbr. Tobacco Hut

Tulis Komentar