Berikut adalah kronologis pra pendakian.
Senin, 9 Juni 2008
10.00 Tim (Ali, Ardi, Mprie, Odoy, Ringga, dan Fahmi) sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Santai bersama di pelataran bandara sambil menunggu kedatangan Bang Agam yang masih dalam perjalanan menuju bandara.
10.15 Bang Agam tiba di bandara, tim langsung siap-siap memasuki bandara.
11.38 Tim sudah berada di ruang tunggu bandara, menunggu keberangkatan pesawat menuju Medan. Sebelum tiba di ruang tunggu ini, tim sempat mengalami masalah mengenai kompor coleman yang terdapat dalam daypack Mprie. Coleman tersebut tidak diizinkan masuk karena masih mengandung bensin. Setelah Ardi dan Odoy melakukan negosiasi dengan maskapai penerbangan yang akan kita gunakan, akhirnya coleman tersebut diizinkan dibawa dan dipindahkan ke dalam carrier Ali di bagasi pesawat.
13.10 Tim sudah berada di dalam pesawat. Air Asia dengan No. Penerbangan QZ-7502 pun lepas landas dari bandara pukul 13.10.
15.40 Tiba di Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara.
15.57 Berangkat menuju kampus Universitas Sumatera Utara (USU), untuk kemudian menuju Sekretariat Kompas (Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup) USU.
16.21 Tiba di Sekretariat Kompas USU. Selanjutnya tim segera membagi tugas. Bang Agam, Ardi, Ali, Ringga, dan Odoy belanja logistik yang dibutuhkan selama pendakian. Sementara Mprie dan Fahmi tetap di Sekretariat Kompas USU untuk bersilaturahmi dengan anggota-anggota Kompas USU.
19.30 Tim yang belanja logistik tiba kembali di Kompas USU. Packing oleh semua anggota tim pun langsung dilakukan.
21.40 “Karsima Transport” Executive (Angkot menuju Blangkejeren, Aceh Tenggara) tiba di Kompas USU. Tim langsung memindahkan barang-barang, untuk kemudian langsung menuju Blangkejeren.
23.15 Satu masalah menimpa tim. Mobilitas tim terhambat akibat kendaraan yang kita tumpangi bermasalah. Kondisi hujan rintik-rintik membuat tim terpaksa berteduh di sebuah gubuk kecil, setelah sebelumnya sempat mendorong kendaraan keluar dari badan jalan. Selanjutnya tim menunggu keputusan antara menunggu angkot pengganti datang, naik angkot lain dari tempat terakhir, atau kembali lagi ke Medan. Posisi terakhir adalah di Mata Air Ia Laukaban.
23.42 Tim memutuskan untuk kembali lagi ke Medan karena kendaraan yang kita tumpangi benar-benar tidak sanggup lagi melewati kondisi jalan yang sulit (jalan mendaki, berkelak-kelok, dan kondisi aspal yang buruk).
Selasa, 10 Juni 2008
00.36 Tim tiba di Sekretariat Kompas USU untuk kemudian langsung beristirahat.
16.44 Hari ini kegiatan tim terpusat di Sekretariat Kompas USU, mulai dari mendatangi agen angkutan yang akan kita gunakan, boulderan, jalan-jalan, silaturahmi, hingga menghangatkan kembali makanan jadi yang kita bawa dari Jakarta (rendang, dendeng, dan ayam). Selain itu, tim juga melakukan packing ulang sebelum keberangkatan. Rencananya, kendaraan yang mengangkut kita akan tiba di Kompas USU pukul 7 malam.
19.30 Kendaraan datang (telat setengah jam dari rencana kedatangan semula). Hujan rintik-rintik ikut menyambut proses pemindahan barang tim menuju kendaraan. Meninggalkan kota Medan menuju Blangkejeren.
22.15 Istirahat makan malam di Kabanjahe.
22.58 Berangkat lagi menuju Blangkejeren.
Rabu, 11 Juni 2008
07.30 Tiba di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara. Sopir dan Kenek angkot (Iwan dan Mahdi) menurunkan peralatan yang mereka bawa di pasar tradisional Desa Centong Bawah. Tim istirahat sejenak.
07.50 Perjalanan dilanjutkan sambil menurunkan sebagian barang ke toko-toko di sekitar pasar tradisional tersebut.
08.40 Satu masalah lagi menimpa tim dalam perjalanan. Ban angkot yang kita tumpangi masuk ke dalam parit di daerah sekitar Desa Kedah akibat dari sopir yang mengantuk. Kendaraan terjebak cukup lama di dalam parit itu. Tim memutuskan untuk istirahat di rumah penduduk setempat dan memindahkan sebagian barang dari dalam mobil. Sopir kendaraan mencari bantuan untuk mengeluarkan kendaraannya dari dalam parit.
10.00 Proses penderekan mobil oleh Jeep.
10.17 Ban mobil berhasil keluar dari dalam parit. Sebagian barang yang dikeluarkan kemudian dimasukkan kembali ke dalam mobil. Perjalanan dilanjutkan kembali.
10.40 Tim tiba di rumah Rajali Jemali (Mr. Jali/Guide Leuser) Desa Kedah, Kecamatan Bleng Jerangi, Kabupaten Gayo Lues. Karena tidak ada orang, tim kemudian menuju Wisma Pemda yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan istilah “bungalow”.
10.46 Tiba di Wisma Pemda dan disambut oleh Imar, Indro, dan Marcel. Istirahat dan mengurus perizinan pendakian.
12.00 Masak untuk makan siang.
13.00 Makan siang. Istirahat sembari menunggu mengurus perizinan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) pukul 2 siang.
14.00 Ardi ditemani Indro pergi ke Blangkejeren (TNGL) untuk mengurus perizinan sekaligus mencari guide.
15.42 Tim masih bersantai ria di Wisma Pemda sambil menunggu perizinan selesai diurus oleh Ardi. Kemungkinan besar pendakian akan dilaksanakan besok pagi.
17.45 Ardi dan Indro kembali ke Wisma Pemda setelah mengurus perizinan di TNGL, Blangkejeren. Perizinan terdiri dari beberapa hal, yaitu: tim dikenakan biaya retribusi @ Rp.20.000,00 dan dikenakan juga biaya 2 buah kamera (Rp.200.000,00), namun Ardi membuat surat pernyataan tidak mampu dengan membubuhkan 2 buah materai. Malam ini rencananya tim akan melakukan negosiasi dengan Mr. Natsir (guide) soal harga yang cocok untuk menemani tim selama mendaki. Sebelumnya sempat dinyatakan bahwa biaya 1 orang guide + 1 orang porter adalah Rp.4.000.000,00 (porter 1 juta, guide 1 juta, biaya akomodasi, logistik, dan perizinan tambahan 1,5 juta). Harga tersebut kami anggap terlalu tinggi dan tidak masuk akal. Oleh karena itu, malam ini tim akan melakukan nego dengan pihak guide penduduk setempat.
Prosedur perizinan yang tidak jelas dan berbelit-belit dari TNGL dan pihak penduduk setempat yang berperan sebagai guide dan porter membuat proses pendakian Gunung Leuser menjadi semakin rumit saja. Di samping itu, perbedaan prosedur antara pihak TNGL dengan guide penduduk setempat menambah kesan berantakan perizinan Gunung Leuser melalui jalur Kedah ini. Ini mungkin memang hanya sebuah hipotesis, tapi hendaknya ke depannya lebih diperhatikan lagi. Jangan hanya karena masalah uang, semua hal menjadi rumit seperti ini. Prosedur yang jelas tentunya akan membuat semua yang berhubungan dan akan berhubungan dengan Gunung Leuser ini menjadi tenang.
20.45 Mr. Udin, Mr. Suman, dan Mr. Happy-Happy datang ke Wisma Pemda sebagai pengganti Mr. Natsir yang sulit dihubungi, setelah sebelumnya mereka semua dijemput oleh Indro. Setelah selesai makan malam, tim langsung melakukan negosiasi dengan guide Leuser ini yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Mr. Jali.
22.30 Negosiasi masih alot. Mr. Udin dkk tetap pada pendiriannya yaitu membawa 2 orang sebagai pendamping kita dengan biaya yang sulit kita penuhi. Opsi dari mereka adalah menunggu Mr. Jali turun dari Leuser. Namun masalahnya adalah sedikitnya waktu yang kita miliki untuk menunggu Mr. Jali turun. Opsi dari kita adalah membawa 1 orang guide dengan biaya Rp. 1 Juta. Jika opsi ini tidak diterima, maka kita akan tetap mendaki Leuser meskipun tanpa didampingi guide dengan perhitungan akan bertemu Mr. Jali di tengah perjalanan dan menjelaskan semuanya. Untuk mencegah salah paham di pihak guide penduduk setempat, maka kita pun sempat berpikir untuk memberikan uang pelicin jika kita pergi mendaki tanpa ditemani guide.
23.17 Satu per satu anggota tim beranjak tidur meninggalkan Mr. Udin yang masih mengobrol dengan Indro, Imar, dan Marcel. Negosiasi mentah dan tak terselesaikan.
September 24th, 2008 at 22:51
hai …
nanya dong, akhirnya gimana tuh dengan perizinan dan biaya porternya??
soalnya pingin ke leuser juga … masih ngitung2 biaya nih
thanks,
chika