Jalur Khusus Sepeda di Kampus UI Depok: Solusi di Tengah Polusi atau “Polusi” di Tengah Solusi?

Oleh : Prihandoko (M-744-UI)

Jumlah kendaraan bermotor yang hampir tidak terhitung di ibukota telah melahirkan sebuah masalah yang amat kompleks bagi masyarakatnya sendiri. Salah satu masalah yang ditimbulkan oleh hal ini adalah besarnya tingkat polusi di ibukota yang sebenarnya juga dialami oleh daerah-daerah pendukungnya seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor. Akibat dari polusi ini bagi masyarakat yang berada di tengah-tengahnya sangatlah besar. Memang, masyarakat belum begitu merasakan dampak dari polusi ini. Tetapi, seiring seringnya mereka berteman dengan udara yang bercampur asap-asap kendaraan bermotor, kesehatan mereka pastinya akan terganggu. Usaha-usaha untuk mengurangi polusi ini memang sudah dilakukan oleh pemerintah, misalnya dengan membuat paru-paru kota, tetapi hal ini tidak diimbangi dengan pengurangan jumlah kendaraan bermotor penghasil dari polusi tersebut. Usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah memang ibarat bertepuk sebelah tangan jika kita sebagai warga masyarakat tidak ikut mendukung usaha-usaha tersebut. Mungkin, dukungan terbaik kita saat ini bagi pemerintah guna menyukseskan usaha tersebut adalah melakukan usaha untuk mengurangi tingkat polusi di lingkungan kita sendiri.

Universitas Indonesia, sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia, dalam waktu dekat ini akan berusaha mewujudkan terciptanya lingkungan rendah polusi yang dicita-citakan oleh masyarakat ibukota. Cita-cita menciptakan lingkungan rendah polusi tersebut sebenarnya telah lama menjadi program dari universitas terkemuka ini. Walaupun lingkup kawasan rendah polusi tersebut hanya mencakup daerah yang tidak terlalu luas, yaitu kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Namun, dengan adanya lingkungan ini, diharapkan akan menjadi contoh bagi berkembangnya lingkungan-lingkungan sejenis di daerah lainnya.
Cita-cita tersebut tampaknya akan menjadi sebuah kenyataan ketika Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri terpilih menjadi rektor baru Universitas Indonesia untuk masa jabatan 2007 hingga 2012. Dengan program 100 hari yang diusungnya, rektor UI ini ingin menjadikan kawasan kampus UI Depok sebagai salah satu wilayah yang bebas dari polusi atau setidaknya memiliki tingkat polusi yang rendah. Langkah pertama yang akan dilakukan oleh rektor UI ini untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah membangun jalur khusus sepeda di kampus UI Depok. Dengan adanya jalur sepeda ini, diharapkan penggunaan kendaraan-kendaraan bermotor semakin berkurang, yang tentunya akan ikut mengurangi tingkat polusi di kawasan kampus tersebut.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh Ripto Gatut dengan rektor UI ini yang termuat di www.b2w-indonesia.or.id, rektor ini berujar bahwa jalur khusus sepeda ini merupakan salah satu program yang akan dia wujudkan dalam 100 hari ke depan. Ia bercita-cita menjadikan kampus UI sebagai eco-campus. Kelak, dengan terwujudnya jalur sepeda ini, semua kendaraan bermotor, mobil dan motor pribadi, harus parkir di tempat parkir terintegrasi. Mahasiswa, dosen, bahkan rektor diwajibkan naik sepeda untuk menuju lokasi fakultas masing-masing. Selain menciptakan jalur sepeda, program lainnya adalah menata hutan UI (120 hektar) dan danau agar menjadi tempat wisata lingkungan. Selain itu, tempat khusus bagi pejalan kaki juga akan dibangun di lingkungan kampus UI ini. Rektor UI ini berharap bahwa hutan kota yang ada di lingkungan UI akan dijadikan sebagai pusat riset dan tujuan wisata bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, dalam wawancara yang dilakukan oleh Edwin Tirani dengan rektor UI ini yang termuat dalam www.mediaindonesia.com, rektor mengungkapkan bahwa program yang akan diwujudkannya tersebut memiliki tujuan untuk membawa UI menjadi world class university seperti cita-cita rektor sebelumnya. Mengenai jalur khusus sepeda yang akan diwujudkannya, rektor berkeyakinan bahwa budaya bersepeda di kampus merupakan kegiatan multiefek, mulai dari aspek kesehatan sampai kampanye lingkungan hidup. Ia ingin semua civitas akademika UI bisa memanfaatkan lingkungan kampus UI menjadi area yang nyaman untuk bersepeda, mulai dari rektor sampai mahasiswa nantinya diharapkan akan mendukung kampanye bersepeda di kampus ini.
Ramonza, ketua umum Komunitas Bersepeda UI (KOBE UI), mengaku sangat setuju dengan kebijakan rektor ini mengenai jalur khusus sepeda di kampus UI Depok. Alasannya adalah dengan digunakannya sepeda di lingkungan kampus, maka polusi akan berkurang dan pencurian kendaraan bermotor pun bisa terhindari. Ramonza bahkan sudah mengetahui skenario yang akan mendukung kebijakan jalur khusus sepeda tersebut. Menurutnya, sepeda yang nantinya akan digunakan berjumlah 2000 buah, di samping sepeda-sepeda pribadi milik civitas akademika UI. Sejumlah 1000 buah sepeda akan didatangkan dari Swiss, sementara 1000 buah lainnya merupakan sumbangan dari rektorat. Sepeda yang kemungkinan akan di cat dengan warna kuning tersebut berjenis sepeda gunung dan kemungkinan akan dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe pria dan tipe wanita. Pembedaaan kedua tipe tersebut kelak akan terlihat dari penggunaan dari frame sepeda tersebut, dimana tipe pria menggunakan frame lurus dan mendatar, sedangkan tipe wanita menggunakan frame yang lurus dan menjorok ke bawah. Pengguna sepeda ini adalah semua civitas akademika UI yang memiliki motor dan mobil, dimana motor dan mobil mereka kelak akan diparkir di tempat yang terintegrasi. Tempat parkir tersebut terletak di kawasan Gerbatama UI yang sekarang mulai masuk dalam tahap awal pembangunan. Sementara itu, orang-orang di luar civitas akademika UI tetap diperbolehkan masuk kawasan kampus dengan syarat memarkir kendaraannya di tempat parkir terintegrasi dan hanya diperbolehkan menggunakan jasa bus kampus (bus kuning) apabila ingin melakukan berbagai aktivitasnya di lingkungan kampus UI tersebut. Dalam penggunaannya nanti, sepeda kampus tersebut akan diberi tanda (plat) agar pengguna sepeda tersebut memiliki tanggung jawab terhadap sepeda yang digunakannya itu. Untuk memasuki kawasan kampus, pengguna sepeda kampus ini mengambil karcis masuk kampus dan apabila ingin memarkir sepedanya di fakultas masing-masing, pengguna sepeda tersebut tetap mengambil karcis parkir di parkiran fakultas masing-masing. Kemudian, pangkalan-pangkalan ojek yang ada di sekitar lingkungan kampus akan digusur, karena kendaraan yang akan digunakan di lingkungan kampus hanya sepeda kampus dan bus kampus (bus kuning).
Dilihat dari skenario yang kemungkinan akan dipakai tersebut, sepertinya rencana penggunaan jalur khusus sepeda ini telah dipikirkan matang-matang dan sepertinya juga akan berjalan dengan lancar yang berujung kepada terwujudnya lingkungan rendah polusi yang didambakan. Namun dibalik itu semua, sebenarnya terdapat masalah-masalah yang akan muncul yang hampir tidak disadari oleh kita semua. Masalah-masalah tersebut merupakan masalah sosial yang akan menimpa kita semua sebagai warga UI jika solusinya benar-benar belum ditemukan hingga pembangunan jalur khusus sepeda ini selesai.
Masalah pertama yang akan muncul terkait dengan pembabatan hutan UI yang diubah fungsinya menjadi tempat parkir terintegrasi. Hal ini merupakan masalah besar bagi warga UI mengingat banyaknya peranan dari hutan-hutan di lingkungan kampus UI Depok ini terhadap keberlangsungan hidup civitas akademika UI pada khususnya dan masyarakat yang tinggal di sekitar kampus UI Depok pada umumnya. Bagi civitas akademika UI, hutan-hutan UI tersebut memberikan pasokan udara segar bagi mereka. Di samping itu, hutan-hutan tersebut membuat suasana di lingkungan kampus menjadi asri dan teduh. Pembabatan hutan-hutan tersebut, walaupun dalam porsi yang kecil, tentunya akan membuat keasrian dan keteduhan lingkungan kampus ini berkurang. Sebagai contoh, kita tentunya tahu betapa gersangnya lapangan parkir di depan Masjid Ukhuwah Islamiah (MUI) yang merupakan lapangan parkir Fakultas Hukum UI. Lapangan parkir tersebut sebelumnya merupakan bagian dari rindangnya hutan-hutan UI, kemudian fungsinya pun berubah seiring dengan kebijakan yang tidak memperhatikan dampak yang akan dihasilkannya.
Di sisi lain, hutan-hutan UI tersebut memiliki fungsi sebagai ”wadah air hujan” yang tentunya berguna untuk menghindari terjadinya banjir, baik di lingkungan kampus sendiri maupun di lingkungan sekitar kampus. Fungsi sebagai ”wadah air hujan” ini tentunya memiliki arti lebih bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan kampus UI Depok. Hutan-hutan UI tersebut berfungsi melindungi rumah-rumah masyarakat dari banjir yang mungkin saja terjadi jika hujan besar melanda. Jika hutan-hutan tersebut dibabat habis, maka bukan tidak mungkin banjir besar akan menimpa kawasan UI dan kawasan di sekitar UI karena sudah tidak ada lagi lahan yang dapat menampung air hujan tersebut.
Masalah selanjutnya yang terkait dengan pembangunan jalur khusus sepeda ini adalah hilangnya lapangan pekerjaan yang menimpa tukang-tukang ojek yang ada di lingkungan kampus UI Depok. Kebijakan yang hanya mengizinkan penggunaan sepeda dan bus kampus di lingkungan kampus pastinya membuat tukang-tukang ojek pusing tujuh keliling, karena lahan pekerjaan yang mereka anggap sudah mapan akan tergusur dengan adanya kebijakan tersebut. Mereka tentunya tidak dapat membayangkan bagaimana kebutuhan hidup keluarga mereka dapat terpenuhi jika lapangan pekerjaan yang mereka miliki itu hilang, mengingat sebagian besar dari mereka merupakan tulang punggung dalam keluarganya masing-masing.
Masalah-masalah sosial tersebut sudah seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi para pembuat kebijakan di lingkungan UI agar kebijakan-kebijakan yang mereka buat tidak menimbulkan efek samping di kemudian hari. Di satu sisi, kita tentunya sangat mendukung kebijakan tersebut, karena dengan terealisasinya kebijakan tersebut maka lingkungan rendah polusi yang kita idam-idamkan akan segera terwujud. Namun di sisi lain, kita tentunya tidak akan tega melihat masalah-masalah sosial yang akan muncul akibat kebijakan tersebut menimpa saudara-saudara kita atau bahkan menimpa diri kita sendiri.
Dan, satu hal yang sangat kita harapkan dari kebijakan mengenai jalur khusus sepeda tersebut adalah terwujudnya cita-cita solusi di tengah polusi, bukan terciptanya ”polusi” – dalam hal ini adalah masalah-masalah sosial yang tersebut di atas – di tengah solusi.

2 Komentar di “Jalur Khusus Sepeda di Kampus UI Depok: Solusi di Tengah Polusi atau “Polusi” di Tengah Solusi?”

  1. 1
    martien hans Says:

    Memang daerah kota apalagi ibukota seperti Jakarta,. polusi sudah menjadi gejala dan fenomena umum yang wajar terjadi,. sebagaimana ciri ibukota adalah kalau tidak Macet, banjir, sampah, Gelandangan, ya Polusi juga tidak kalah pentingnya adalah kriminalitas,. hal ini dikarenakan tidak adanya suatu kebijakan yang mengatur tentang itu,. namun semua itu harus didukung kesadaran serta peran serta seluruh pihak yang terkait,. karena para pihak itu cukup berperan dalam menanggulangi permasalahan itu,. semakin pesat nya teknologi memang tidak bisa dipungkuri polusi pun semakin meningkat,. Harusnya Jakarta sudah mencontoh China yang notabane nya merupakan kota industri dan teknologi yang maju,. Namun rakyat nya kebanyakan menggunakan sepeda sebagai alat transfortasi utama,. Bahkan ada larangan pada alat transportasi yang mengahsilkan gas emesi yang berpotensi menyebabkan polusi seperti Mobil, SEpeda motor dsb untuk melalui daerah perkotaan,.

  2. 2
    germania home insurance Says:

    germania home insurance…

    explain,exposition Eiffel?pasted!…

Tulis Komentar