Napak Tilas Soe Hok Gie

PANGUYANGAN, Sebuah Alternatif Wisata Arkeologis

Berikut artikel dari Rexo, M-711-UI

Apa yang ada dalam benak anda ketika anda melihat susunan batu-batu besar membentang di sebuah puncak bukit yang aksesnya tidak mudah. Seperti itulah yang anda dapat temukan dirangkaian kawasan situs Panguyangan, sebuah kompleks situs Megalitik yang terletak tidak jauh dari pantai Pelabuhan Ratu.

Panguyangan_DW_04-(64).jpg

Ada beberapa situs yang bisa dikunjungi di rangkaian situs Panguyangan seperti Panguyangan atau lebih dikenal dengan Eyang genter bumi, Tugu gede, Salak datar dan sumber air panas yang mengalir deras di sungai Cisukarame.


Ada beberapa alternatif rangkaian perjalanan, salah satunya yang dimulai dari situs yang dikenal oleh orang-orang dengan Makam Eyang genter Bumi yang terletak di desa Sinar Rasa, dan di akhiri di situs Salak Datar. Susunan batu yang menyerupai makam tersebut sering dikunjungi orang untuk berziarah atau untuk mencari sebuah pencerahan, penduduk sekitar situs sendiri mempercayai jika susunan batu tersebut bukanlah sebuah makam, tetapi tempat menghilangnya seorang tokoh Islam di daerah tersebut. Bahkan ada beberapa penduduk yang menghubungkannya dengan legenda Prabu Siliwangi.

Panguyangan_DW_04-(109).jpg

Untuk mencapai tempat tersebut tidaklah terlalu sulit. Anda bisa menaiki bis atau kendaraan umum apapun yang melewati pertigaan Pelabuhan Ratu, atau jika dari stasiun bus Pelabuan Ratu menaiki angkot yang mengarah ke Samudra Beach Hotel dan turun pada sebuah jembatan setelah angkot melewati Hotel tersebut. Sampai pukul 12:00 wib angkot masih tersedia yang akan mengantarkan anda ke desa Sinar Rasa. Perjalan selama kurang lebih satu jam menaiki angkot anda akan ditawari pemandangan Pantai selatan dari puncak bukit dan anda akan melewati papan besi yang bertuliskan  �objek pariwisata megalithik Tugu Gede�, situs ke dua setelah situs Makam Eyang Genter Bumi.
Setelah selesai dengan Makam Eyang Genter Bumi perjalanan dapat dilanjutkan menuju Tugu Gede yang terletak di desa Cengkuk. Untuk menuju desa tersebut dapat dilakukan dengan dua cara : menaiki ojek sampai rumah kuncen lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki atau dengan menyusuri sawah rakyat dan melewati sedikit hutan menuju desa cengkuk.
Pada situs Tugu Gede terdapat sebuah batu tegak setinggi kurang lebih 5 m ( asal kata tugu gede ), sebuah kompleks yang lantainya sebagian besar tertutup oleh batu, dan sejumlah batu pipih yang menyerupai meja makan dan salah satu diantaranya mempunyai sepuluh cerukan.

Panguyangan_DW_04-(52).jpg
Pada situs tersebut legenda Prabu Siliwangi masih masih bisa kita dengarkan, karena pada situs tersebut masyarakat sekitar mengaitkanya dengan proses menghilangnya Sang Prabu. Pada umumnya masyarakat sekitar situs mempunyai kepercayaan untuk menyembah Dewi Sri.
Pada awal tahun 2006 penggalian yang dilakukan pada situs tersebut menemukan penemuan yang cukup mengagetkan yaitu artefak-artefak yang berupa alat-alat ritual keagamaan Buddha, cukup mengagetkan karena pada situs megalitik yang pada umumnya berasal dari masa prasejarah terdapat sisa-sisa peninggalan peralatan keagamaan agama Buddha, pada wilayah sekitar Panguyangan sebelumnya tidak pernah di temukan Artefak yang berhubungan dengan agama Buddha..
Oleh karena tidak terdapat penginapan untuk menginap anda bisa menumpang tidur di rumah Pak Kuncen atau bahkan menyewa rumah penduduk dengan harga yang cukup rasional.

Panguyangan_DW_04-(26).jpg
Perjalanan dilanjutkan menuju situs Ciarca. Untuk mencapainya  hanya tinggal mengikuti jalan untuk menuju sungai Cimaja. Jalan tersebut cukup curam dan terbuat dari batu, sebuah sepatu tracking yang nyaman sangatlah diperlukan untuk melewati jalan tersebut. 10 menit sebelum sungai jalanan batu sudah tidak dapat anda temukan, yang ada hanyalah jalan tanah yang curam.
Dari kejauhan sungai Cimaja tampak putih dan mengalir lumayan deras, ketika didekati memang benar sungai tersebut sangatlah jeriah airnya, walaupun deras tetapi cukup aman untuk dilewati pada bagian-bagian tertentu.
Setelah melewati sungai jalan berubah menjadi sangat curam jadi akan sangat menguras energi. Jalan untuk menuju situs selanjutnya tidaklah sulit, karena jalan sudah terbuka lebar. Pada situs Ciarca terdapat susunan-susunan batu yang diasumsikan sebagai sisa-sisa objek religius pada masa lalu,dan terdapat arca-arca yang bercorak Polynesia.
Satu jam perjalanan dari situs Ciarca terdapat sebuah tempat pemandian air panas. Pada desa Cipanas yang dilintasi oleh Sungai Cisukarame terdapat tempat dimana Air panas mengalir dari perut bumi dan bercampur dengan air sungai yang dingin, oleh karena itu setelah seharian berjalan naik-turun bukit mandi air hangat di tepi sungai sangatlah cocok untuk mengakhiri hari anda, sembari mengumpulkan tenaga untuk melakukan perjalanan keesokan harinya.

Panguyangan_DW_04-(5).jpg
Sungai Cimaja harus anda seberangi kembali tetapi pada bagian yang berbeda untuk menuju situs selanjutnya, yaitu situs Salak Datar.  Sungai cimaja kali ini memiliki arus yang lebih deras dan sungai yang lebih lebar, tetetapi sama seperti sungai Cimaja yang di seberangi sebelumnya, pada bagian tertentu sungai tersebut cukup aman untuk di seberangi.
Mengikuti jalan setapak yang mengarah ke selatan, hanya di perlukan waktu sekitar satu jam untuk mencapai situs Salak Datar. Sebuah batu tegak yang mungkin tidak akan anda sadari karena telah terhimpit oleh sebuah pohon besar, dan lumut pada batu tegak tersebut membuat batu dan pohon berwarna tidak jauh berbeda.
Desa tempat situs tersebut berada dikelilingi oleh perbukitan, jadi untuk keluar dari desa resebut jalan yang ada cukup curam karena menyusuri bukit. Dibutuhkan sekitar dua jam setengah berjalan kaki untuk menuju desa berikutnya yaitu Cimaja Girang, dimana terdapat angkot untuk membawa anda ke terminal bis terdekat. Alternatif menggunakan jasa ojek juga terdapat di Salak Datar.
Setelah selesai dengan rangkaian situs-situs di Panguyangan anda bisa melanjutkan wisata anda ke pantai-pantai yang ada di sekitar pelabuhan ratu, sambil mencoba memuaskan rasa penasaran anda dengan berpikir bagaimana caranya orang-orang pada jaman dahulu dengan teknologi yang sangat terbatas dapat menyusun sejumlah batu-batu besar pada puncak sebuah bukit.
Mungkin ada baiknya anda melihat benda-benda tersebut sebelum hasil kejeniusan para nenek moyang kita itu hilang tergilas oleh roda pembangunan atau oleh sebuah fanatisme terhadap agama.

17 Komentar di “PANGUYANGAN, Sebuah Alternatif Wisata Arkeologis”

  1. 1
    tungpeng Says:

    so gua mau minta cara menuju kesana kalau bisa dengan bentuk pdf

  2. 2
    dadang sukandar Says:

    so penutupan artikel lu keren banget

  3. 3
    Tojo Meiji Says:

    baca doang ga asyik…
    yang asyik ya jalan-jalannya….

  4. 4
    Adjie Says:

    Pangguyangan is the best. So, let’s go there again next year, ok !1

  5. 5
    Nandang Says:

    Jaga sopan santun jika masuk wilayah keramat, mereka sama dengan orang tua kita, karena mereka leluhur kita.

  6. 6
    ahmad yani Says:

    gw mo tuh ksna thanks

  7. 7
    anang Says:

    wew keren …

    ingat waktu muda dulu dweh

  8. 8
    sUzAnn Says:

    wOww..
    kEren bUanGeDD!!!!!!
    Mw dUnd kEsaNA

  9. 9
    syaem Says:

    aq ingin pergi kesna. slm buat teman2 mapala tilong kabila univ.gorontlo.

  10. 10
    arinda Says:

    indonesia banyak tempat2 keren!
    dijaga dan di eksplor, biar semua orang tau kekayaan indonesia sebenarnya guys!
    teruskan perjalanan kalian…

    sukses!..

  11. 11
    shanz,mhat Says:

    ga nyangka ternyata msh ada yag peduli ama peninggalan sejarah yg ada di kota bgr.

  12. 12
    rexo Says:

    Panguyangan tuh adanya di Sukabumi, bukan di Bogor.
    But thanks for reading anyway..

  13. 13
    Joe Says:

    endingnya keren,xo..romantis..alah,haha

  14. 14
    Cengek Says:

    Jiah..! W yg orang sana ko kaga tau ya..” hiks hiks..!!

  15. 15
    bolor Says:

    bwt temen2 let’s get journey to this beautiful place..

  16. 16
    mo2 Says:

    sip bro, kapan saya bisa ke sana ya

  17. 17
    tq Says:

    Kalau mau yang seperti itu dan terjangkau dalam waktu 2 jam jalan, yaitu di situs Arca Domas di Cibalay Tenjolaya (dekat dengan Jurug Luhur) Lereng gunung Salak. Situs ini juga terawat dengan baik. ya jalan kaki dari curug luhur yang sudah DTw banget sekitar 1 jam dengan kondisi jalan setapak yang cukup landai (1,5 Km dari aspal).

Tulis Komentar