Tulisan opini Joshua Tumada/M-649-UI. Pernah dimuat di Harian Sinar Harapan http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0408/wis02.html Di-share di sini untuk komunitas kita.
Pengantar Joshua: “Mungkin anggota M yang lain belum baca korannya. Ini tulisan bercerita tentang perjalanan saya ke Baduy. Sekitar enam tahun saya mendalami kebudayaan di sana. Sekadar sumbang pemikiran. Semoga bermanfaat.”

Joshua Tumada
Perjalanan saya kali ini terbilang cukup mengagetkan. Harapan saya untuk mengalami pengalaman di tengah desa yang tenang, alami, asri, dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kebudayaan pedalaman, tidak saya jumpai.
Sudah tidak heran memang jika kita melihat sampah yang berserakan di kawasan-kawasan Taman Nasional di pulau Jawa. Atau coretan-coretan tangan jahil dengan perilaku para pengunjung yang tidak mengindahkan tata tertib. Lebih parah lagi banyak pengunjung yang berperilaku tanpa menghargai adat istiadat penduduk lokal. Begitu juga pada daerah-daerah yang dinamakan sebagai kawasan wisata budaya.
Masyarakat Baduy dikenal sebagai kesatuan komunitas yang hidup dengan mengasingkan diri dari peradaban modern di daerah pegunungan Banten Tengah, Jawa Barat. Mereka memiliki kearifan lingkungan ‘indigenous knowledge’, sebuah perilaku yang mempertimbangkan keseimbangan ekologi alam dalam segenap sisi-sisi keseharian hidupnya. Tentang bagaimana mereka seharusnya berladang, atau memperlakukan alam dan sesama manusia-manusia nya terkandung dalam sistem pengetahuan yang di kukuhkan dalam sistem kepercayaan lokalnya. Keramahan dan keterbukaan masyarakat terhadap para pengunjung pun layak di acungi jempol. Mereka adalah orang-orang dengan keaslian, kepolosan, dan kemurnian dalam bersikap menurut nilai-nilai budayanya.
Namun untuk Baduy selama enam tahun kunjungan terakhir saya ini, saya melihat bagaimana proses-proses perubahan terjadi. Dan tidak sedikit yang berdampak negatif terhadap keseimbangan ekologi dan kebudayaan Baduy. Kunjungan saya pertama kali pada awal tahun 1998 saya masih dapat merasakan bagaimana Baduy memperlihatkan alam tempat mereka hidup sebagai daerah gugusan pegunungan berwarna hijaunya daun, dan coklatnya tanah, serta beningnya aliran sungai. Pada pagi hari yang terdengar hanya kicauan burung serta suara tumbukan lumbung padi oleh perempuan-perempuan desa. Berjalan kaki menyusuri bukit-bukit dan menuruni sungai-sungai sangatlah menyegarkan jiwa raga ini, setiap energi vitalitas dari alam sekeliling dapat saya resapi penuh penghayatan. Keheningan orang-orang Baduy yang duduk-duduk di beranda rumah pada gelapnya malam, mampu membawa diri ku kedalam sisi-sisi kalbu yang tidak pernah saya rasakan di kota Jakarta yang hiruk pikuk.
Kunjungan pertama ini membawa saya pada suatu keinginan untuk melakukan kunjungan selanjutnya. Masih sama seperti yang pertama, berangkat dari terminal Rangkas Bitung, melewati jalan-jalan rusak berbatu menembus gugusan pegungungan hijau di kejauhan. Desa Gajeboh, Baduy Luar pun mempersembahkan keramahtamahan, diiringi suara riakan sungai Ciujung yang seakan-akan mengajak diri ini untuk berendam di dalamnya. Setiap mata ini melihat langkah kaki yang lelah menanjaki bukit-bukit baduy, tidak ada satu pun benda-benda asing hasil peradaban modern seperti plastik bungkus makanan ringan yang menghalangi langkah, dan mengganggu keasrian pemandangan alam ini.
Tahun demi tahun berjalan, kunjungan sebelumnya selalu membuat kerinduan saya untuk kembali bersilahturahmi dengan keramahan alam serta kebudayaan Baduy. Perubahan pun mulai terlihat pada kunjungan saya yang ketiga pada tahun 2002, jalan menuju Baduy mulai dirapihkan lapisan aspalnya. Dan plang-plang penunjuk jalan: Wisata Budaya, Baduy pun mulai terlihat pada persimpangan jalan menuju terminal Ciboleger. Terhadap isu Baduy sebagai wisata budaya ini pun, salah satu penduduk lokal menunjukan adanya ketidaksetujuan terhadap kebijakan yang diterapkan pemerintah setempat yang menjadikan Baduy sebagai kawasan Wisata Budaya. Beliau mengatakan bahwa pemerintah hanya ingin mengambil keuntungan dari keramahan masyarakat Baduy, serta dari keindahan alamnya. Lanjutnya bahwa jika pemerintah ingin membuat kawasan wisata, jangan diterapkan pada masyarakat Baduy, karena masyarakat Baduy ini tulus dalam menerima kedatangan para pengunjung.
Over Populasi
Setelah kembali dari kunjungan saya pada saat itu, saya kembali lagi untuk melihat bagaimana kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah setempat ini berdampak pada kehidupan masyarakat Baduy. Saya tidak menemui perubahan sedikit pun pada keramahan penduduknya dalam menerima para pengunjung. Namun terdapat peningkatan kunjungan ke Baduy yang belum pernah saya lihat dalam kunjungan-kunjungan saya sebelumnya. Sekitar seratus tujuh puluh siswa-siswi dari sekolah menengah atas sedang melakukan darma wisata ke Baduy. Alasannya adalah untuk memperkenalkan kepada siswa-siswi kehidupan masyarakat terasing. Darma wisata ini diadakan oleh pihak sekolah sebagai salah satu kegiatan lapangan mata pelajaran Antropologi. Dengan di dampingi guru-guru, para murid ini ‘live in’ selama tiga hari pada sebuah akhir pekan di Baduy.
Untuk pertama kalinya pada tahun 2003 saya melihat desa Baduy mengalami masalah over populasi. Bukan oleh meningkatnya kelahiran dari perkawinan penduduk lokal, melainkan dari kunjungan para murid dengan jumlah yang signifikan. Kerumunan-kerumunan anak-anak usia tanggung kota pun terbentuk. Tawa dan canda pun meledak di sana-sini. Pada malam hari masih terdengar teriakan nakal dari siswi yang tertawa cekikikan. Dan sedihnya, pada saat yang bersamaan saya juga mendengar tangisan bayi dari rumah sebelah. Dan anak-anak kota ini masih tertawa bercanda, seolah tidak memperdulikan bahwa perilaku mereka mengganggu ketenangan masyarakat Baduy. Selain itu busa sabun, kotoran plastik, kemudian juga kotoran manusia berserakan di tepi-tepi sungai yang dulu bening dan asri. Tidak jauh dari situ terlihat Ibu-ibu Baduy sedang mandi bersama anak gadisnya.
Demikian juga dengan perubahan yang sifatnya sosial budaya. Pada kunjungan saya sebelumnya, terlihat sangat sedikit pedagang-pedagang kerajinan tangan dari Ciboleger yang naik sampai ke daerah Baduy Dalam, jika pun ada mungkin hanya satu atau dua pedagang. Tetapi kini pada kunjungan terakhir saya tahun 2004, jumlah pedagang mengalami peningkatan sampai tujuh orang dalam satu hari yang datang menghampiri kami untuk menjajakan dagangannya. Demikian juga dengan anak-anak kecil Baduy Luar yang gemar menjajakan lilin sebagai komoditas utamanya selain kerajinan tangan. Sampai titik ini orientasi terhadap uang sudah mulai tumbuh pada kelompok usia anak-anak kecil. Bagaimana kah rupa mereka sepuluh atau dua puluh tahun mendatang?
Memang bukan sesuatu yang dapat dibilang negatif jika komersialisasi mulai meledak pada suatu komuniti tertentu. Tentu mereka juga memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, salah satunya adalah dengan memiliki alat tukar berupa uang. Tanpa terlepas dari semua ini, masyarakat dan alam Baduy sedang mengalami prosesnya, sebuah proses perubahan yang dimulai sejak mereka membuka diri pada peradaban luar. Dan proses perubahan ini pun dipercepat, dan kadang kehilangan kontrolnya sejak kawasan wisata budaya diberlakukan.
Kemudian yang menjadi pertanyaan mendasar dari semua diatas kemana kah arah perubahan ini selanjutnya? Dengan mengenal subyek-subyek pembawa dan pembuat perubahan Baduy secara mendalam, serta mereka yang sedang mengalami perubahannya, sebelum dan sesudahnya, saya harap kita akan menemukan jawabannya. (joshua_kurnia[at]yahoo.com)
January 3rd, 2007 at 22:09
bahwa proses perubahan itu pasti akan terjadi, namun dengan semakin tereksposnya keadaan suku - suku pedalaman secara tidak langsung kita akan melihat perubahannya, tidak saja di badui di kalimantan dan sumetera juga akan terjadi,akan tetapi di satu pihak semua orang berhak untuk melihat keadaan suku suku tersebut, naif lah kita jika ada orang lain juga ikut melihat kita larang seperti kita melarang orang berarung jeram yang sekarang juga mulai di komersialkan permasalahannya orang yang melihat atau belajar tersebut harusnya terlebih dahulu di screen dengan tata aturan yang ketat atau data - data tentang keadaan orang pedalaman tidak perlu di publikasikan itu semua tergantung kita?