Sulitnya Menjaga Kelestarian Hutan

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh tulisan Sulung yang dimuat di Kompas 26 Oktober 2003.

Sulitnya Menjaga Kelestarian Hutan

Padahal, pohon amat penting bagi kesejahteraan planet kita dan berperan penting dalam pengaturan iklim serta siklus air. Daun-daun pepohonan di hutan, menyerap karbon dioksida gas yang dipancarkan dari pembakaran bahan-bahan seperti kayu, minyak, bensin yang berperan menimbulkan perubahan iklim Bumi. Gas ini lalu diubah (difosintesiskan) menjadi gula, yang digunakan dan disimpan tumbuh-tumbuhan. Dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida dan menyaring zat-zat penyebab polusi lainnya, pohon-pohon membantu menjaga udara agar tetap bersih dan mengurangi risiko pemanasan global.
Akar pohon mengambil air, oksigen, mineral, dan zat hara lain dari tanah. Akar juga menguapkan pohon dan mengikat tanah, mencegah agar tanah tidak turun terbawa air atau tertiup angin. Ketika akar-akar tumbuh dan menjalar, muncul ruang-ruang di sekitarnya yang mengalirkan udara ke Bumi, sehingga menghasilkan dampak penyerap seperti sebuah spons yang membuat tanah mampu mengumpulkan air, lalu secara bertahap dialirkan ke sungai-sungai kecil dan besar.
Begitulah pentingnya pepohonan di hutan. Secara umum, hutan mengurangi banjir karena hutan mampu menyimpan dan menahan air dalam tanah, mempertahankannya dan memperbaiki kondisi serta ruang pori-pori dalam tanah. Penggundulan hutan menjadi penyebab utama banjir. Kurangnya daya serap tanah di lereng gunung menjadikan daerah itu gersang dan tumbuh-tumbuhan menjadi kerdil. Lebih parah lagi, banjir akan terjadi karena air mengalir tanpa rintangan. Padahal frekuensi banjir dapat dikurangi bila kelestarian hutan dijaga.

Masalah taman nasional
Bentang alam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh merupakan gugusan perbukitan yang terpisah dari kawasan Bukit Barisan. Kawasan ini merupakan perwakilan hutan tropis basah dataran rendah yang ada di Sumatera dengan tingkat keanekaragaman hayati yang beragam. Kondisi fisik dan kandungan kekayaan sumber daya alam hayati, menjadikan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sebagai salah satu aset penting daratan provinsi Riau dan Jambi.
Taman nasional yang masuk di dua provinsi besar itu merupakan tipe hutan tropis basah dataran rendah yang memiliki keanekaragaman hati terkaya di Bumi. Di sisi lain, hutan ini juga paling terancam keberadaannya, karena kalau dilihat secara umum, keadaan topografi daerah penyangga taman nasional merupakan lahan yang amat sesuai untuk perkebunan dan pertanian dan amat mudah dijangkau penduduk.
Ternyata, di sinilah persoalah terbesar dalam pengelolaan hutan di kawasan taman nasional ini. Perambahan hutan yang dilakukan para pemegang HPH di daerah kitaran hutan sudah terasa makin mencemaskan. Di daerah Riau, dari 127.698 hektar total luas hutan, sudah diambil sekitar 57.948 hektar untuk keperluan hutan produksi. Pengurangan ini kelihatannya akan terus bertambah untuk keperluan HPH.
Padahal hutan seluas 127.698 hektar di taman nasional ini merupakan kawasan hutan lindung, seluas 37.250 hektar di Provinsi Riau dan 33.000 di Provinsi Jambi. sisanya, ada di daerah perbukitan dan kebanyakan dijadikan hutan produksi terbatas.
Ironisnya, kawasan hutan lindung yang ada di perbukitan di sekeliling taman nasional, sulit dilindungi bahkan cenderung “tidak” dilindungi. Masalah SDM yang tidak ideal dengan jumlah lahan, plus faktor topografi hutan yang berlembah curam, kian menyulitkan para jagawana untuk melaksanakan tugasnya.
Selain masalah pemanfaatan hutan, banyaknya jalan menuju taman nasional, berdampak mudahnya pengambilan ilegal satwa yang hidup di hutan ini. Tentu saja, ini menjadi ancaman serius spesies hewan langka yang ada di sana.
Masalah lain adalah penambahan penduduk yang ada di sekitar hutan taman nasional. Kedatangan migran secara swakarsa dalam jumlah besar di daerah pinggiran taman nasional, meningkatkan tekanan terhadap lahan dan sumber daya yang ada di taman nasional.
Belum lagi pembukaan perkebunan secara besar-besaran, menimbulkan kecenderungan adanya tumpang tindih antara lahan dengan cadangan lahan masyarakat yang hasil akhirnya menimbulkan ancaman bagi taman nasional. Belum lagi masalah hutan tanaman industri (HTI) yang coba diterapkan di daerah itu. Perkebunan kayu ini menggantikan hutan produksi alam, sehingga merusak habitat yang amat penting sebagai penyangga taman. Dan konsep HTI dengan menebang habis pohon tiap tujuh tahun sampai delapan tahun, secara ekologis akan memperburuk keadaan.
Solusi “seedling”
Melihat masalah yang terus muncul di taman nasional ini, membuat penjaga taman nasional untuk terus menanam kembali daerah-daerah kritis di sekitar taman nasional.
Belajar dari India yang berhasil menurunkan tingkat erosi banjir di daerahnya, mulailah dilakukan penanaman kembali daerah hutan penyangga. Salah satunya, model penanaman medota seedling. Metode penanaman kembali pohon-pohon anakan yang sengaja ditanam atau diambil dari daerah pedalaman hutan, mungkin bisa menjadi salah satu solusi tengah dari masalah hutan. Metode pengambilan anakan pohon (seedling) di daerah pedalaman, selain mencegah kedatangan tanaman eksotik dari luar ekosistem hutan asli, juga merupakan cara paling mudah dalam peremajaan hutan.
Dalam pelatihan, teknik seedling mudah dilakukan. Seperti mencari jenis pohon yang merupakan tipe hutan primer seperti kruing atau jelutung dengan tinggi belum mencapai 30 cm di daerah pedalaman, lalu ditempatkan di plastik-plastik tebal dengan lebih dulu diberi tanah asli daerah itu yang dicampur humus. Ternyata anakan yang diambil bisa tahan sampai tiga hari sebelum ditanam kembali di tempat lain.
Atau, kita juga bisa belajar tentang teknik seedling dari Filipina. Mereka melakukan teknik ini dengan menggunakan wadah dari pelepah pohon pisang. Pelepah dipotong secukupnya, lalu ditekuk dan diikat di pertemuan dua ujungnya, lalu dimasukkan tanah dan humus di sekitar anakan pohon yang akan diambil. Hanya itu. Teknik ini ternyata lebih baik karena potongan pelepah batang pisang mampu menahan air yang ada di dalamnya, sehingga bisa menjadi cadangan air bagi anakan yang diambil.
Dengan menanam kembali anakan itu di hutan belukar tua yang ada di daerah penyangga taman nasional, diharapkan kerusakan hutan dan perladangan bisa dipulihkan dan menjadi kekayaan alam Nusantara. Dan yang tidak kalah penting, banjir pun bisa dihindari, dan daerah itu bisa menjadi satu-satunya hutan dataran rendah terbaik di Sumatera.
(Sulung Prasetyo S, anggota Mapala UI )

Tulis Komentar