Napak Tilas Soe Hok Gie

Pendakian Meregang Nyawa Memburu Letusan Papandayan

Memotret dari dekat erupsi dahsyat Gunung Papandayan, Jawa Barat, tiga pendaki ini nekat melego nyawanya di tengah muntahan lahar gunung itu. “Nasib pendaki ada di tangan Tuhan, bukan di tangan gunung yang didakinya,” ujar Ripto Mulyono, salah seorang anggota pendaki. Ia menuturkan kisah perjalanan “gila”-nya itu khusus kepada MATRA.

SUHU udara begitu penat. Hawa panas yang bertiup dari puncak Gunung Papandayan menyublim kuat ke dalam angin dingin yang menerpa tubuh.

Nun jauh di puncak gunung itu, percikan api menyembur, mencercah kegelapan. Bersekutu dengan panasnya uap lahar, muntahan gas dari dalam kawahnya menggumpal menjadi cendawan raksasa, tinggi di angkasa.

Malam terus beringsut. Sudah puluhan kali gunung berapi setinggi 2.665 meter itu meletus, sejak aku, Tantyo Bangun, dan Toto Ableh melangkah menuju desa di kakinya. Hampir, sajian pemandangan itu betul-betul sulit dipercaya.

Dalam gelap pekat, semuanya tampak nyata. Memang, posisi kami hanya berjarak ratusan meter dari sumber letusan. Nyawa terasa sejengkal dengan maut. Mau tak mau, kewaspadaan semakin ditingkatkan, hingga akhirnya kami tiba di gerbang Desa Cisurupan, Garut, Jawa barat.

Tampaknya, desa di lereng Papandayan itu sudah diliputi kesenyapan. Sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan normal. Hanya sekelompok anak muda terlihat tengah berjaga-jaga di luar rumah. Sebagian lainnya berkerumun di beberapa sudut jalan yang gelap.

Bisa kurasakan kerumunan tersebut kurang bersahabat. Dari matanya, terpancar sikap mencurigai, terutama terhadap orang asing yang melintasi desa mereka, seperti kami ini.

Dan, benar saja. Setibanya di mulut desa, jalan yang akan kami lalui dipalangi kayu. Buntut-buntutnya, kami merogoh sejumlah uang, agar mereka membukakan palang tersebut. Plus satu syarat, seorang dari mereka harus menemani kami hingga pendakian ke kawah nanti.

Lepas dari sana, kami lalu mengendap-endap di antara semburan api, asap cendawan, serta gemuruh letusan yang mirip ledakan berton-ton bom beratnya. Sepintas, bagaikan kembang api raksasa yang berpijaran, memecah keheningan malam itu.

Tiap kali meletus, gelegar suaranya memekakkan telinga. Sungguh dahsyat. Berbarengan dengan itu, seluruh permukaan tanah bergetar hingga membuat jantungku berdetak kencang.

“Tyo, bagaimana kalau kita menginap di sini saja?” tanya Toto, penuh nada khawatir. Sembari terus melangkah, aroma belerang terasa begitu menyengat hidung dan rongga napasku. Agaknya, dada sesak, lantaran bau busuknya perlahan kian menembus masker pelindung wajah kami.

Belum sempat terjawab, satu letupan dahsyat kembali mengejutkan. Saking kuatnya letusan itu, tanah pijakan kaki bergetar keras. Rasa takut sekonyong-konyong melimpahruahi batin. “Tyo, Mul, baiknya kita tidur di bawah saja,” ujar Toto. Tak lain, bermalam di desa yang terdekat dan aman.

Tak ada pilihan. Masih diiringi gelegar letusan, kami terpaksa harus bergerak turun. “Sudahlah, di tempat saya saja lebih aman,” sergah Pak Ujang – penduduk desa yang menemani perjalanan kami.

Akhirnya, dengan senang hati kami tidur di rumahnya yang sepi. Seluruh sanak keluarganya telah mengungsi ke dekat lapangan Cisurupan.

Di tengah kondisi Siaga I seperti itu, jelas lebih aman berada di pengungsian ketimbang di rumah yang justru sudah ditinggal penghuninya. “Semoga Tuhan melindungi hambanya dari marabahaya,” doaku diam-diam, seraya menarik selimut.

Kulihat Toto begitu gelisah. Matanya sulit terpejam. “Lebih baik berjaga-jaga,” ujarnya, masih dengan nada cemas.

***
DATANGNYA “rencana gila” ini sebetulnya dari Tantyo. Niatnya mendaki memang untuk memotret dari dekat erupsi eksplosif Gunung Papandayan. Rencana Tantyo, hasil jepretan itu dijadikannya sebagai foto eksklusif di beberapa lembar halaman Action Asia Week dan National Geographic. Sementara, aku dan Toto Ableh hanya sekadar pengiringnya.

Sesuai hasil taklimat, esoknya pagi-pagi sekali kami meninggalkan rumah Pak Ujang. Di ufuk timur, mentari merah saga baru saja menyembul. Hangat sinarnya akrab menemani langkah kaki.

Tapi sejujurnya, pengalaman semalam sukar dilupakan begitu saja. Sebab bagiku, tak seberapa mengerikan ketimbang hasil temuan Leupe, sekitar dua ratus tahun silam.

Dalam laporannya, ilmuwan Belanda itu berkisah tentang keganasan Papandayan saat pertama kali meletus pada Agustus 1772. “Dini hari nan melelapkan itu, penduduk di lereng Papandayan tersentak oleh suara letusan dan semburat api raksasa yang muntah dari kawah Papandayan. Kurang lebih lima menit, letusan itu menghancurkan 250 kilometer persegi desa di lerengnya, melumat 40 kampung, berikut 2.951 nyawa penduduk,” ujar Leupe.

Tapi syukurlah, kejadaian itu tak sampai menimpa kami. Dan kini, “batuk” Papandayan telah berangsur-angsur surut. Sejenak, berganti kedamaian yang cukup membakar semangat pendakian hingga kawah nanti.

Sesuai perolehan data, baik dari surat kabar maupun badan vulkanologi, kami mengarahkan perjalanan lewat sisi barat gunung. Dari areal parkir, jalur itu relatif lebih aman ketimbang sisi timur yang dekat dengan sumber letusannya.

Melalui beberapa pos pengamatan hutan milik Perhutani Kabupaten Garut, rute pendakian terlihat begitu jelas. Hutannya tak seberapa lebat, dan hampir semua pohon besar di sana telah musnah ditebangi.

Dalam kondisi normal, perjalanan itu takkan memakan waktu satu jam. Namun, karena harus ekstra hati-hati, tempo perjalanan kali itu menjadi sangat lamban.

Baru berselang puluhan meter, bau belerang kembali menyengat. Semakin menambah ketinggian, aroma busuknya sukar dielakkan, menusuk.

Tak kusadari, baru kali itu pula aku mendaki gunung tropis yang miskin kicauan burung. Yang ada hanya kesunyian. “Mungkin, hewan pun sudah lari entah ke mana,” kata Toto, membuka perbincangan.

Sajian pemandangan juga sama buruknya. Semua warna pohon dan daun berubah kehitaman. Debu hasil letusan yang tebalnya mencapai kurang lebih satu sentimeter telah menutupi permukaannya.

Bak pasukan elite menerobos kepungan asap, kami berjalan dengan wajah tertutup masker antigas beracun. Begitu juga dengan Pak Ujang yang diliputi perasaan sangat khawatir.

“Bah, kita salah pakai sepatu, mestinya pakai bot,” sergah Tantyo, melihat sepatunya terbenam lumpur debu. Tingginya hampir mencapai sepuluh sentimeter. Situasi di situ juga amat mendebarkan, mengingat permukaan tanah berlumpur penuh lubang yang mengepulkan asap belerang.

“Wow, jadi kita ini berjalan di atas pipa kawah alami, yang sewaktu-waktu bocor dan meluluhlantakkan kita?” ujarku membatin, membayangkan semua mendadak terjadi. Aku bergidik, lantaran terpaksa membayangkannya.

***
HINGGA di situ, kondisi alam masih mau bersahabat. Tanyo menghentikan langkah dan mulai memotret. Tak kusangka, muara letusan yang selama ini terjadi ternyata berasal dari lima buah kawah.

Aku melihat Tantyo membidikkan kameranya ke kawah Alun-alun. Menurut catatan para vulkanolog, itulah kawah terbesar di kompleks kawah gunung ini.

Tiap menit, kawah-kawah itu mengepulkan asap. Hanya, satu sama lain belum berbarengan meletusnya. Puas di situ, pendakian terus berlanjut sampai di sebuah bukit yang paling tinggi mengarah ke Pondok Selada (padang Edelweiss). Mulailah terdengar kembali letusan-letusan hebat seperti malam tadi. Bukit ini pun berguncang.

Toh, kami tetap tak beranjak, meski jantung terasa begitu cepat berdebar saking takutnya. Sebab, di atas bukit inilah pertunjukan alam yang dahsyat bisa dinikmati sepuasnya.

Beberapa kawah yang semula diam, kini mulai beraksi. Bermula dari letusan-letusan kecil, satu per satu. Tapi, lambat laun membesar secara bersamaan, sehingga getarannya seperti ingin mencengkeram kaki kami. Hingga suatu ketika, satu ledakan besar lagi-lagi mengejutkan.

Sebetulnya, kami sudah siap memotret, kurang lebih selama beberapa menit. Tapi terlalu berisiko, lantaran waktu sudah semakin siang. Dengan amat menyesal, kami melangkah turun ke desa.

Dalam pejalanan itu, gempa terus saja menguntiti, dan membuat Pak Ujang tak henti dirundung rasa cemas. Saking gugup dan takutnya, ia sempat terjatuh. “Wooi, cepat semua turun, motret-nya cukup,” seru Tantyo, samar-samar di antara gelegar letusan itu.

Menghindari kekonyolan, kami tak melewati jalan semula, tetapi dari sebuah aliran sungai kecil. Dengan begitu, alam sekitar bisa menjadi perlindungan, jika sewaktu-waktu awan panas dan gas dari arah puncak datang.

Kurang lebih satu jam, kami mencapai areal parkir. Di tempat kami memarkir mobil itulah rasa aman benar-benar hinggap. Tak heran, jika Pak Ujang mulai tersenyum. Kiranya, itu senyum pertamanya, setelah sejak pagi tadi hatinya didera kecemasan oleh letusan yang bertubi-tubi di sekelilingnya.

Nun jauh di puncaknya, masih kulihat kepundan-kepundan kawah tak henti meletus. Dengan tergesa-gesa, kami meninggalkan areal parkir, lalu bergerak menuju resor Papandayan.

Di dalam resor, kami sempatkan diri membersihkan tubuh dari debu-debu vulkanik. Meskipun waktunya singkat, acara bersih-bersih itu cukup lumayan menyegarkan.

Sayangnya, kondisi bangunan amat telantar, senyap, dan berantakan ditinggalkan pengelolanya. Mungkin, si pengelola enggan mengambil risiko, sehingga harus ikut mengungsi bersama-sama penduduk.

Dalam hati, “mungkin, hanya kami yang berani mengambil risiko ini, mendaki Papandayan dan berusaha akrab dengannya di saat meletus hebat”. Toh, itu pun bukan tanpa perhitungan. Sebab, kami percaya, nasib baik ada di tangan Sang Pencipta, bukan Papandayan.

© Copyrights 2003 PT. Mitra Media Matra Jakarta-Indonesia

Satu Komentar di “Pendakian Meregang Nyawa Memburu Letusan Papandayan”

  1. 1
    dimitrie Says:

    STUJUUUUU!!!! emang bener. nyawa di tangan Tuhan bukan Papandayan

Tulis Komentar