Paradiso Maluku Utara

Bagi yang suka aroma gunung, kawasan Maluku Utara menyediakan tempat memadai untuk berpetualang. Dengan ketinggian gunung yang relatif rendah, sensasi dan daya pikat pemandangannya tak kalah dengan pendakian di gunung yang tinggi. Seperti tuturan Rully yang bersama Piere Kintgen dan Tantyo Bangun sempat ke sana beberapa waktu lalu.

Kegelapan masih menyelimuti Desa Gamsungi ketika kami bersiap memulai perjalanan mendaki Gamkunora, gunung tertinggi di Pulau Halmahera. Tidak seperti kami, rupanya penunjuk jalan dari Desa Gamsungi amat khawatir dengan cuaca di luar. Berulang-ulang ia bertanya pada hal yang sama, “Pak, sungguh kita akan mendaki Gamkunora?” katanya penuh keraguan.

Seperti sudah diatur, menjelang pukul 06.00 WIT, matahari perlahan menampakkan diri dan hujan pun mereda. Kami mulai melangkahkan kaki dengan dilepas lambaian tangan Pak Kaksim, kepala desa Gamsungi. “Hati-hati, ya, jangan keluar dari jalan yang sudah ada,” begitu nasihatnya. Rupanya, Pak Kaksim agak khawatir melihat tekad kami yang besar untuk mendaki Gunung Gamkunora.

Di awal perjalanan, kami melewati kebun kelapa yang luas dengan medan yang landai. “Medan yang bagus untuk pemanasan,” ucap Pirre memecah keheningan. Walau kami berjalan tidak bergegas, penunjuk jalan dan pengangkut barang terlihat agak sulit menyamai langkah. Mungkin mereka berasal dari daerah pantai yang tidak biasa naik-turun pegunungan.

Buat saya dan Pierre Kintgen, ini pendakian gunung pertama yang dimulai dari tepi pantai. Gamkunora (1.635 m) merupakan gunung berapi yang masih aktif dengan beberapa kaldera. Saat pertama kali melihatnya, dari jauh gunung ini terlihat unik. Bagian atasnya membelah menjadi dua puncak yang tampak sama tinggi. “Unik sekaligus fotogenik,” kata Pierre.

Sambil mendaki kami mengobrol apa saja sambil sesekali mengambil foto perjalanan. Buat Tantyo, yang memang hobi fotografi, sepanjang jalur dirasakan banyak objek foto yang menarik. Di sebuah pohon besar terlihat berjenis-jenis burung. Mulai dari burung besar, seperti rangkong, elang laut, gagak, dan nuri, sampai dengan burung-burung kecil berbulu indah.

Menjelang tengah hari kami tiba di pinggir kawah Gunung Gamkunora, di antara kedua puncak kembar gunung ini. Sayangnya, pemandangan di seliling tertutup kabut. Sekali-kali saat angin bertiup kencang, pemandangan ke arah laut lepas bisa terlihat jelas. “Wah, yang mana nih puncak tertingginya?”, tanya saya. Pierre ngotot menggapai puncak tertinggi dan berdebat tentang puncak mana yang akan kami daki. Semua referensi yang kami baca tidak juga menolong. Sementara penunjuk jalan tidak tahu yang mana puncak tertinggi. Akhirnya, kami sepakat untuk mendaki keduanya.

Puncak sebelah utara yang didaki pertama adalah puncak sebelah kanan jika dilihat dari arah laut. Ternyata perjalanan menuju puncak cukup sulit dan berbahaya. Melewati gigir tipis yang berbatu rapuh, pada beberapa tempat gigir ini sudah pecah-pecah. Dengan beriringan kami melawan angin kencang yang menerbangkan kabut dan membawa uap belerang.

Sesudah satu jam berjuang kami tiba di puncak kanan. Ternyata altimeter (alat pengukur ketinggian) menunjukkan angka 1.450 m. Berarti ini bukan puncak tertinggi. Memang pemandangan di gunung sering menipu penglihatan. Dengan sedikit kecewa kami menuruni puncak kanan menuju bibir bawah kawah. Tempat ini disebut Paseba. Di sini banyak berserakan uang logam yang ditinggalkan penduduk sekitar gunung. Rupanya Gunung Gamkunora dianggap keramat oleh sebagian penduduk Halmahera.

Di tempat ini kami putuskan untuk makan siang dulu sebelum meneruskan perjalanan. Angin bertiup makin kencang dan udara terasa lebih dingin. “Ini baru naik gunung!” begitu kata hati. Setelah saling mengucapkan selamat dan berjabat tangan, selama beberapa saat kami menikmati pemandangan dari puncak. Yang terlihat jelas adalah Pulau Ternate yang didominasi oleh Gunung Gamalama. Tidak salah kalau sebagian orang mengatakan Kota Ternate ada di bawah gunung api. Juga terlihat Pulau Tidore dengan Gunung Kiematubo-nya. Kedua gunung itu akan menjadi tujuan kami berikutnya.

Gempa rutin
Perlahan-lahan perahu motor yang kami tumpangi meninggalkan pelabuhan Jailolo, Halmahera. Pagi itu cuaca cerah. Kami semakin dekat dengan Ternate, pulau tua yang dulu sangat terkenal dengan rempah-rempahnya.

Saat pertama kali tiba di Pulau Ternate, kami merasa tidak betah dan aman. Soalnya, beberapa hari sekali gempa datang secara rutin. Tapi setelah beberapa lama kekhawatiran itu mereda dengan sendirinya.

Untuk mengisi hari istirahat, kami berkunjung ke beberapa objek wisata bersejarah dan budaya Ternate. Ada beberapa benteng peninggalan Belanda, Portugis, dan Spanyol yang menarik untuk dilihat. Seperti Benteng Oranye dan Benteng Kayu Merah. Benteng ini terlihat cantik dan berada di tepi pantai berhadapan dengan selat antara Pulau Ternate dan Tidore.

Perjalanan mengelilingi Pulau Ternate dengan mobil hanya menghabiskan waktu tiga jam. Tapi cukup untuk melihat tempat lelehan lava dari Gunung Gamalama yang disebut Batu Angus. Selain itu terdapat Danau Laguna dan Danau Tolire yang berada di kaki Gunung Gamalama.

Esok harinya, pagi-pagi sekali kami menyeberang ke Pulau Tidore dengan menggunakan ferri. Pulau ini diyakini sebagai saudara kembar Pulau Ternate. Rencananya kami akan memulai pendakian esok harinya, jadi masih cukup waktu untuk melanjutkan tur kota di Pulau Tidore. Pulau ini terlihat bersih dan rapi. Kota yang menjadi pusat pemerintahan ada di ujung selatan, di Kecamatan Soasiu. Tidak seperti Ternate yang masih mempunyai kesultanan, Tidore tidak lagi. Kami mengunjungi museum Sonyire Malige, yang menyimpan peninggalan Kesultanan Tidore dan juga replika benda-benda sosial budaya masyarakat Tidore. Di pulau ini terdapat sisa dua benteng peninggalan Spanyol, tapi kondisinya sudah hancur. Hanya tersisa bagian fondasinya.

Setelah makan siang kami diantar oleh Pak Umar ke Desa Gurabunga, tempat kami akan memulai pendakian Gunung Kiematubo. Pak Umar memperkenalkan kami pada Pak Ibrahim, tetua adat di Gurabunga. Belakangan kami ketahui ia tetua adat di seluruh Tidore yang bergelar Sywohi, artinya yang dituakan. Pak Ibrahim bertugas menjaga kelestarian budaya masyarakat Tidore dan disebut dengan istilah Tuan Tanah. Beliau sendiri biasa dipanggil dengan sebutan Tete atau kakek. Malam itu kami menginap di rumah Tete. Konstruksi rumah dibangun dari bambu khas Tidore. Tete mengatakan, pohon bambu dengan diamater besar dan amat panjang itu awalnya berasal dari Pulau Jawa berabad silam.

Pierre amat kagum dengan rumah adat mereka lantaran paling tidak sembilan puluh persennya terbuat dari bambu. Penghubung antarkerangka bambu sebagian besar menggunakan tali-temali.

Dini hari, kami sudah dibangunkan oleh Ismail, putra Tete satu-satunya. Setelah sarapan kami memulai perjalanan. Ismail berjalan di muka bersama seorang temannya sebagai penunjuk jalan. Dalam gelap kami berjalan beriringan menembus kabut menuju puncak Gunung Kiematubo. Diterangi cahaya senter kami melewati kebun pala dan sayuran, kemudian menembus kerimbunan hutan yang basah.

Desa Gurabunga berada di ketinggian 600 m dari permukaan laut (dpl), karena itu perjalanan menuju puncak tidak terlalu jauh. Saat matahari mulai menerangi bumi, kami semakin mendekati puncak. Sayangnya, kabut masih enggan beranjak. Akhirnya, sensor altimeter menunjukkan angka 1.730 m di puncak Gunung Kiematubo. Ini puncak kedua yang kami capai. Dari puncak kami melihat lubang vertikal besar sedalam 100 m dengan diameter 500 m. Rupanya, itu bekas kepundan Gunung Kiematubo.

Kami putuskan untuk berdiam di puncak selama beberapa lama sembari makan siang. Rupanya, cuaca semakin kurang ramah, langit menjadi gelap. Maka diputuskan segera turun. Kami tiba kembali di rumah Tete dan bermalam kembali di rumahnya. Esok harinya kami bersiap untuk kembali ke Ternate. Berat rasanya meninggalkan Desa Gurabunga yang berkabut, tenang, dan damai. Sebagai kenang-kenangan, saya memberikan pisau berburu pada Ismail.

Daun alang-alang
Setelah seharian beristirahat, keesokan harinya kami melakukan pendakian di Gunung Gamalama dimulai dari Desa Marikurubu yang kira-kira berada pada ketinggian 300 m dpl. Di Desa Marikurubu terdapat pos vulkanologi yang berfungsi mengamati aktivitas Gunung Gamalama. Hujan lebat yang turun sejak sehari sebelumnya mengiringi perjalanan kami. Di luar masih gelap.

Pak Fatran, penduduk Desa Marikurubu, bertindak sebagai penunjuk jalan. Ia berjalan cepat tanpa mempedulikan kami yang kepayahan di jalan yang terjal dan licin. Ternyata Gunung Gamalama mempunyai medan yang sama sekali lain dibandingkan dengan dua gunung sebelumnya. Dari bawah sampai puncak, kami harus melewati kemiringan yang terjal. Hampir-hampir tidak memberi kesempatan untuk bernapas.

Di sepanjang jalan juga banyak pohon yang bertumbangan. Agar tidak tersesat dalam perjalanan turun, kami membuat tanda-tanda dengan meletakkan daun alang-alang dan menyusun batu-batu sebagai tanda arah.

Saat di puncak tidak ada kesempatan untuk melihat pemandangan ke sekeliling. Di puncak gunung yang ke tiga kami daki ini, kami bersyukur mendapat kesempatan mendaki gunung-gunung di Maluku Utara. Hujan masih tetap turun dan kabut masih tetap tebal. Perlahan-lahan kami berjalan turun dengan hati-hati. Tapi tetap saja kami terpeleset di jalan terjal dan licin.

Seperti mengejek kami, hujan tiba-tiba berhenti saat kami tiba di Desa Marikurubu. Dari sini pemandangan ke arah laut terbuka cerah, indah sekali! Dengan pakaian dan perlengkapan masih basah kami kembali ke Kota Ternate menuju hotel. Malamnya kami makan malam bersama untuk merayakan kesuksesan pendakian.

copyright: Intisari, Agustus 1998

Comments are closed.