Disekap udara lembab dan ancaman hilangnya suhu tubuh, enam caver putri Mapala UI sanggup menembus Luweng Ombo, Pacitan, hingga beratus-ratus meter. Nismadha, salah seorang anggota tim, menceritakan kisah mendebarkan itu khusus kepada MATRA.
Luweng Ombo menganga begitu lebar. Berada di tengah-tengah bukit kerontang Desa Klepu, kabupaten Donorojo, Pacitan, Jawa Timur, suasana di sekitarnya pun tampak lengang. Hanya sayup-sayup angin terdengar bertiup.
Cukup lama aku bergantung di tali dan memerhatikan sekelilingnya. Dan, yang terlihat di dasar gua sedalam 107 meter itu hanyalah kengerian. Hampir, tak satu pemandangan pun terlihat jelas.
Separuh wilayahnya terkungkung gelap, lantaran sinar matahari tak sanggup menyentuh seluruh permukaannya. Secara samar-samar, hunian dasarnya hanyalah rerumputan dan hutan semak.
Memang, sekilas tampak megah, mengingat lebar kelilingnya mencapai 50 meter. Tak pelak, butuh waktu semalam suntuk untuk merenungi keberanianku meluncur seorang diri ke dalam lubang gua vertikal ini.
Bukan apa-apa. Sebab, hanya percaya seratus persen pada tali berdiameter 10 meter, aku harus bergelantungan seorang diri di ketinggian seratus meter lebih. Sementara itu, tepat di bawah selangkanganku, menganga “sumur raksasa� yang pekat, bersimbah misteri.
Tapi, dengan segumpal keyakinan, kubiarkan tanganku mengulurkan tali yang melilit di dalam bobin (alat untuk menuruni gua). Pelan-pelan, tubuhku mulai melaju turun.
Hanya sekian detik, jantungku seketika berdegup kencang. Entah mengapa, daya luncurku mendadak sangat cepat. “Sial! Ada apa dengan alat ini? Mengapa cepat sekali turunnya?� ucapku panik, melihat laju tali tanpa terkontrol.
Rupanya, ujung bobin tersangkut kuat di antara jangkar pengait tubuhku. Alhasil, tali terburai sangat cepat. Untunglah, aku cepat tanggap dan tak sempat membuyarkan konsentrasi. Padahal, peluh sudah menderas bercucuran, saking paniknya.
Dengan segenap ketenangan yang ada, pelan-pelan aku membetulkan posisi bobin. Satu masalah baru saja terlewatkan. Sejenak, aku bisa menarik napas lega.
Namun sayangnya, itu tak berlangsung lama. Tepat di pertengahan, di ketinggian sekitar 70 meter, tiba-tiba terjadi spinning rope. Yaitu, efek berputarnya tali akibat penjuntaian dari tempat tinggi lantaran terbebani oleh bobot tubuhku.
Akibatnya, bak sebuah gasing, tubuhku berputar-putar di tali, sangat cepat. Sementara itu, tak ada yang bisa mencegah laju meluncurku.
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh. Seketika, kepala terasa pening dan perut mual tak keruan. Ingin rasanya kutumpahkan seluruh isinya.
Lama aku berjuang menghadapi kondisi tersebut. Sialnya, tak ada yang bisa kuperbuat, selain berusaha untuk tidak panik. “Semoga tidak pingsan sampai di bawah nanti,� gumamku, pasrah dengan mata terpejam.
Perlahan, angin lembah petang itu mulai bertiup. Kencang mengayun-ayunkan tubuhku yang semakin limbung ini terbenam di antara dalamnya kesenyapan dasar Luweng Ombo.
***
SEBETULNYA, cobaan mental di hari pertama itu sudah kuperhitungkan sebelumnya dengan masak-masak. Maklum, aku, Visna, Riri, Pare, Anne, dan Mira, yang tergabung dalam tim Ekspedisi Putri MAPALA UI ini telah merancang persiapannya secara khusus.
Kurang lebih tiga bulan, baik teknis, fisik, maupun mental kami digenjot habis-habisan. Praktis, tak ada aral merintangi hingga kami semua tetap sehat walafiat saat tiba di dasarnya.
Setelah semua anggota bergabung, strategi pun diatur sedemikian rupa. Sebagian membuat peta lorong di sebelah barat daya. Sementara, rekan lainnya sibuk mendokumentasikan ornamen dan mengadakan kontak radio dengan Opa David Teak di bagian base camp yang ada di atas mulut gua.
Baru beberapa langkah, pemandangan di sekitar dasar gua ini membuat kami terhenyak kagum. Ternyata, kondisi sesungguhnya dasar Luweng Ombo ini sangat jauh berbeda.
Penghuni dasarnya yang semula kukira rerumputan itu ternyata pepohonan rindang. Tingginya berkisar antara 1-5 meter. Uniknya, vegetasi tumbuhan tersebut sangat rapat, alhasil, seakan berada di dalam hutan tropis di pegunungan.
Dari situ tim bergerak menuju lorong utama. Berangsur-angsur, kondisi medannya berubah. Hampir di semua penjuru lorongnya terserak batu-batu sebesar rumah.
Akibatnya, pergerakan menjadi sulit. Selain ukurannya besar, batu-batu itu juga licin karena ditumbuhi lumut. Tak sedikit pula terdapat lorong yang bentuknya miring.
Penuh konsentrasi, satu per satu berhasil melewati medan tersebut. Namun, bukan berarti detak adrenalin sejenak berhenti berloncatan. Karena, lorong selanjutnya mengharuskan kami mengendap-endap, menembus lorong yang mulai berliku-liku dan tergenang air.
Belum lama cahaya kami menelusup jauh, langkah terpaksa harus dihentikan. Karena, tepat di depan kami berdiri, segugus rimestone pool terlihat begitu menakjubkan. Berkilatan, saat kristal yang melekati seluruh permukaannya disinari cahaya.
Sejenak, kubiarkan batinku riuh rendah melukiskan kekagumanku terhadap perhiasan alam gelap pekat ini. Heran sekaligus kagum, betapa di dalam bagian paling gelap bumi sekalipun, “Sang Maestro Alam� pun masih menyimpan satu hasil karyanya terindahnya.
Lama-kelamaan suasana berubah syahdu. Di tengah kesunyian itu, tak ada lagi yang terdengar, kecuali gemericik air yang mengaliri sekujur tubuh ornamen tersebut.
Sangat kontradiktif dengan buntut kemarau panjang di desa sekitar ini. Selama beberapa bulan terakhir, penduduk harus menempuh berkilo-kilo meter jalan gersang. Tak lain, demi beberapa liter air bersih. “Semoga kesulitan ini segera berakhir,� batinku, trenyuh.
Kiranya, langkahku semakin gontai saja menghadapi sensasi medan berlumpur selanjutnya di muka. Menunduk, merayap, dan basah kuyup menembus kubangan panjang berlumpur hingga sebatas lutut. Kadung kaki terbenam, jangan harap mudah dikeluarkan.
Kurang lebih dua jam kami benar-benar “berkubang� lumpur. Merayap, jalan jongkok, dan basah kuyup. Seakan tak henti, sebuah lorong anjlok ke bawah sudah menanti.
Berdasarkan perkiraan, kedalamannya sekitar 10 meter. Mau tak mau, tali harus kembali digunakan. Otomatis, butuh tenaga ekstra untuk memasang dan menuruni hingga dasarnya.
Tapi, untunglah rencana itu dibatalkan. Melihat anjloknya kondisi tubuh, mustahil kami bisa menembusnya. Misi pun tertunda sampai esok pagi.
***
PADA 1981 silam, almarhum Norman Edwin telah menjadi pionir di Luweng Ombo. Kala itu, seberkas cahaya yang dibawanya menerangi hampir semua lorong gua ini. Namun sampai sekarang, Luweng Ombo seolah tak berujung.
Hingga berselang dua hari ekspedisi ini berlangsung, kami memang telah membuktikannya. Semakin tembus jauh ke dalam, indahnya variasi ornamen Luweng Ombo kian mengobarkan semangat untuk menuntaskan misi ekspedisi yang mirip-mirip napak tilas perjalanan Norman Edwin dua puluh dua tahun silam tersebut.
Demi menyingkat waktu, tim merombak strategi perjalanan dengan Alpine Style. Dengan cara ini seluruh penelusur akan menginap di titik akhir pemetaan. Jadi, takkan merasa lelah lantaran bolak-balik ke titik semula di awal penelusuran sebelumnya.
Sayang, Riri menderita sakit dan terpaksa naik ke atas. Keputusan itu mutlak diambil, karena kondisinya sangat bertentangan dengan lembabnya suhu dalam gua yang terkadang malah minim oksigen. Fatal jika tetap nekat untuk menelusurinya.
Maka, jadilah kami bertiga yang akan menuntaskan misi ekspedisi ini. Dan sejak hari itu, kami merasakan “nikmatnya� menginap dalam gua.
Praktis, berhari-hari dalam pelukan gelap, kami hampir tak bisa membedakan antara pagi dan siang. Tak ada aktivitas normal seperti biasanya di rumah, karena pasokan cahaya hanya berasal dari cahaya karbit.
Namun, justru di situlah nikmatnya. Karena prinsip caver, jangan tinggalkan apa juga kecuali jejak kaki, selalu kami pegang teguh.
Sampah, bahkan kotoran bekas buang hajat sekalipun dibungkus rapi dalam kantong plastik. Semuanya wajib dibawa keluar begitu ekspedisi ini berakhir.
Toh, kewajiban itu tak menghalangi laju ekspedisi. Terbukti, di hari terakhir penelusuran lorong barat daya itu kami berhasil mengumpulkan 784 meter panjangnya peta gua ini.
Semakin jauh, Luweng Ombo memang seperti tak puasnya menyajikan keindahan dan misteri. Sepanjang jalan, kami selalu terpukau oleh kilatan-kilatan kristal flowstone, straw, atau pun gourdijn berukuran raksasa yang menghuninya.
Semua itu jadi semakin tampak indah, apalagi jika dinaungi aliran air. Fantastis, bak pancuran alam di “istana kegelapan� perut bumi. Karena itulah, tak ada penyesalan sama sekali, ketika seluruh tim terpaksa menyudahi ekspedisi karena terbatasnya waktu.
Di hari terakhir itu, langkah kami terhalang genangan air setinggi dada. Dasarnya berupa pasir yang sangat riskan untuk dilalui tanpa safety prosedur memadai.
Selain hanyut, risikonya bisa terserang hipotermia. Apalagi, kondisi tubuh sudah kepalang ambrol, lantaran setiap hari bertempur dengan suhu pengap dan basah kuyup. Sebab, kondisi inilah yang sangat merangsang timbulnya penyakit kehilangan suhu tubuh tersebut.
Nyawa hanya satu. Namun, kesempatan menelusuri ke Luweng Ombo masih beribu kali. Segudang misteri di dalamnya takkan habis untuk selalu disingkap.
Tentu saja. Karena, menjadi suatu hal paling menakjubkan bagi seorang penelusur gua, tatkala sinar lampu yang dibawanya itu menjadi sinar pertama yang menerangi keindahan di dalam perut bumi. Seperti kata Norman dua puluh dua tahun silam di kegelapan lorong luweng ini.
© Copyrights 2003 PT. Mitra Media Matra Jakarta
August 6th, 2007 at 10:06
cool coyyyy
salam lestari dr mapala unisi
April 3rd, 2008 at 21:01
keren euy…
December 5th, 2008 at 13:33
gw inget banget …, norman turun duluan di luweng ombo…., uler ma kalajengking banyak bener, warnanya item , gede …, kita pake maen maen ketika itu,,,,uler dipegang ama norman, kalo sekarang sy disuruh megang rasanya kok ngga berani ya….
March 5th, 2009 at 00:02
jadi inget memory turun ke lewung ombo nih sama mas djadjo.. it’s so beautiful in there..
March 13th, 2009 at 22:03
itu dulu gw sempet bikin peta di luweng musuk… yg ada kalinya deres..norman milih yg ngikutin arus.. gw ke arah lawan arus….. 3 hari kayaknya nelusurin tu sungai….. masih ada ngga ya petanya…
August 6th, 2009 at 20:13
Kalo ada documentary (fotos or videos)sharing donks. Documentary gw tahun 2001 lost semua… Tetap semangat!!!
September 1st, 2009 at 11:06
@bang yadi: kok waktu kita turun gak ada uler ame kalajengkingnya ya?? saking udah banyak yang masuk kali ya bang?? apa pada ngumpet?? hii, jadi serem kalo emang banyak..
waa,jadi Bang Norman alm. masuk lorong yang berarus itu?? gokilll… gw waktu ke musuk cuma masuk yang lawan arus… yang aernya setinggi dada….hiiii (lagi)..kok dulu kita-kita berani amat ya??
keren banget, jadi penasaran sama apa yang diliat bang Norman dulu.
@bang idham: iya, emang so beautiful in there…
coba kayak sekarang ya, kamera digital buanyak banget…foto2 kita pasti banyak..:)
September 30th, 2009 at 16:35
waaah,,tu tmpat dket rumah gw tuuhh
bangga gw,,
hehee
November 6th, 2009 at 14:10
luweng ombo memang masih menjadi pesona dan primadona setiap insan caver sejati, kalo bisa di up grade terus peta2 goa di seluruh indonesia kan percuma kita sudah mempunyai wadah HIKESPI dan mereka mau bekerja sama. Dan juga berguna untuk menjaga dan melindungi kawasan Karts kita dari perambahan2 pabrik2 semen.
salam kompak
Anthoen Kadal, Penulusur Goa anggota TRUPALA (Taruna Pencinta Alam, Jakarta)
November 9th, 2009 at 07:13
[...] Website terkait: 1. Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI) 2. Menelusuri Jejak Luweng Ombo 3. Napak Tilas Luweng Ombo, Ekspedisi di Perut Bumi [...]