Tulisan Adiseno. –> Kejadiannya 29 April 2004 (sudah lama banget ya, lima hari setelah FPTI ultah). Dia juga yang ikut membangunkan FPTI ‘kan, kalau nggak salah. Kalau anak Mapala yang ketemu Berhault setahu gua Sute (Sugiono Sutedjo) sama Koko (Handiman Rico).
Date: Wed, 22 Sep 2004 19:28:27
Dear all,
Gua baru terima Climbing 2004, di dalamnya ada berita duka. Patrick Berhault, yang dulu manjat di Indonesia bareng Corinne Labrun (?) dan yang jago kompetisi itu siapa, gua lupa. Dia meninggal jatuh di Dom puncak tertinggi Swiss dalam rangka manjat semua tebing gunung 4000 meter di Alp. Rencananya selama tiga bulan dia manjat semua 4000 meter, dan jika berhasil di DOm itu berarti puncak nyang ke-65!.
Kejadiannya 29 April (sudah lama banget ya, lima hari setelah FPTI ultah). Dia juga yang ikut membangunkan FPTI ‘kan, kalau nggak salah. Mamay, Djati, Mantri, Harry Suliz, pasti ingat. Gua pertama ketemu Hendricus Mutter juga nonton filmnya Berhault ini di CCF, Jakarta, Salemba. Dikenalin sama Didiek Samsu (alm) yang barengan dia ke Seram (?).
Kalau anak Mapala yang ketemu Berhault setahu gua Sute (Sugiono Sutedjo) sama Koko (Handiman Rico) yang ikut pelatihannya di Citatah dan trus ikut mendukung berdirinya FPTGI yang Gunungnya dicabut jadi FPTI doang setahun kemudian.
Berhault ini gua ketemu dan sempet ngobrol sebentar di cocktail Kedubes Prancis. Waktu itu gua ngejar Akbar Tandjung yang juga diundang. Biasa nyari duit buat ekspedisi ke Andes.
Pas ngoborl itu gua tau di seneng nonton balet, rumahnya di kampung ada peternakan dan di belakangnya ada tebing untuk short route tempat dia berlatih. Kerjaannya cuma dua, latihan manjat sama nonton balet, duitnya dia dapet dari peternakan itulah.
Orangnya emang tebing alam banget, tipe yang menurut gua lebih menarik, dibandingkan Labrun dan siapa sih itu orang yang suka kompetisi dan akhirnya jadi designer wall untuk Entreprize. BL apa singkatannya, gua lupa.
Well memang kelihatannnya para old guard sudah harus bergeser (termasuk kita-kita yang sudah lapuk di FPTI dan Mapala). Tapi sebelumnya pantas juga tundukin kepala mengenang beliau yang bawa pegangan pertama ke Melayu.
Salam,
Adiseno

Watu Lingga di Trenggalek, pernah dipanjat Berhault.
Foto: Agung/Dok. Mapala UI