Napak Tilas Soe Hok Gie

Menerjang Jeram Liar , Pengarungan Mapala UI di Sungai Cikandang

Rubrik Petualangan Majalah MATRA, Edisi Maret 2003 pernah memuat tulisan di bawah ini yang ditulis oleh Adi Supriyatna dan diedit oleh Latief.

Tim gabungan rafter (pengarung jeram) nekat menaklukkan sungai Cikandang di Garut Selatan, Jawa Barat itu. Perahu terbolak-balik di jeram, nyaris membawa petaka.
Adi Supriyatna, anggota MAPALA UI menyaksikan keganasan sungai itu, dan mengisahkannya khusus kepada MATRA.

ARUS air sungai Cikandang mendadak berubah. Menubruk sebuah tonjolan batu, gelombangnya yang semula tenang, kini mendadak deras. Pecah-pecah tak beraturan.

Perlahan perahu melaju ke arah tonjolan batu itu. Kian dekat jaraknya, pecahan gelombang itu tampak semakin membentuk jeram. Berbuih-buih, menghantamnya dari sisi kiri dan kanan batu.

Dayung dikayuh kuat. “Majuuu, kuat, kuat!� aba-aba Indro, kapten perahu itu kepada semua awaknya, tegang di antara gemuruh suara riam deras tersebut.

Nampaknya, laju benda karet itu semakin cepat menerjang amukan jeram. Sejurus kemudian, seiring kencangnya terjangan, terdengar bunyi bergedebam. Perahu lolos dari jeram.

Tantangan pertama tersebut sukses dilalui tanpa perlawanan berarti. Lalu, secara beruntun, empat perahu di belakangnya pun mendulang sukses serupa.

Masalah muncul saat menghadapi jeram berikutnya. Pasalnya, jeram kedua tersebut berada tepat di sebuah kelokan sungai. Terangkai panjang hingga ke pertemuan dua buah sungai di depannya.

Perahu pertama lolos, memang. Nahas buat tim kedua yang dihuni Adolf. Saat ujung perahunya menjilat lidah jeram, benda keret itu stag (terhambat) di sebuah batu.

Di sinilah petaka terjadi. Untuk membebaskan diri jebakan itu, Adolf memaksa awaknya turun dari perahu.

Memang, prosesi turunnya awak dari perahu cukup lancar. Tapi, saat mereka bersusah payah naik kembali ke atasnya, perahu lepas kontrol.

Saat itu, arus begitu kuat menyedot perahu. Dalam waktu sangat singkat, perahu sudah terbalik-balik. Awaknya kocar-kacir di sungai, dilahap buih-buih jeram.

Tak satu awak pun sempat menyelamatkan diri dan perahunya itu dari amukan jeram. Perahu hanyut tanpa awak.

Kulihat di kejauhan, dua pendayung tengah megap-megap di antara derasnya gelombang air. Keduanya timbul tenggelam digulung jeram.

Di tengah kepanikan tersebut, Adolf yang sudah lebih dulu menyelamatkan diri, segera terjun ke sungai. Ia berenang secepatnya mengejar perahu terbalik itu.

Belum genap sepuluh lima menit, “Sang Kapten� ini berhasil menggapainya. Sekuat tenaga, ia lalu naik ke atasnya, berusaha keras membalikkannya ke posisi semula.

Awalnya, perahu sudah ia kuasai, niatnya segera menyelamatkan dua awak yang hanyut tadi. Sayang, situasi tidak mendukung.

Begitu perahu terkendali, Adolf masih harus sendirian mengemudikannya. Sementara, jeram-jeram sangat liar menghantamnya dari sisi kiri dan kanan.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saat jaraknya kian mendekati dua awak itu, satu tangannya langsung menyambar tangan mereka. Satu persatu, nyawa kedua awak ia selamatkan. “Hampir saja,� pekikku, was-was, mengamatinya dari jarak jauh.

Kondisi dapat dikuasai. Dan setelah merasa aman, giliran perahu berikutnya memasuki belokan “jeram neraka� itu. Kiranya, kejadian menegangkan itu menjadi pelajaran berharga. Tiga perahu berikutnya pun lolos dari bahaya.
***
PADAHAL, sehari sebelum menuruni sungai di kawasan Garut Selatan, Jawa Barat ini, kami, para rafter (pengarung jeram) yang terdiri dari MAPALA UI dan Palawa Universitas Padjajaran, Bandung, sempat dirundung rasa cemas. Pasalnya, hujan deras yang turun sejak dua hari sebelumnya telah meningkatkan debit airnya melebihi batas normalnya,….sentimeter.

Sejak memasuki titik start pengarungan di desa Bojong, Garut Selatan itu, cuaca memang tak berkawan. Kilat menyambar-nyambar gelapnya langit yang mencungkupi desa di kecamatan Pakenjeng itu. Ditingkahi pekaknya gelegar guntur, hujan deras pun tiada henti mengguyur.

Alhasil, boleh jadi, Indro, kapten perahu yang kerap disapa “The Legend Rafter� di kalangan aktivis jeram MAPALA UI itu harus terheran-heran. Bahkan, agak was-was melihat tampang Cikandang yang sore itu sungguh menyeramkan.

Bukan apa-apa, dalam kondisi seperti ini, luapan air menyebabkan bentuk jeram-jeram sungai Cikandang tak lagi beraturan. Liar, dan sangat meragukan untuk ditaklukkan.

“Gila, batu yang gue bilang ada di bawah jembatan itu sekarang tertutup,� ucap Indro, sambil menunjuk ke arah bawah jembatan tersebut. Nampak, di wajah pria yang sudah beberapa kali menjinakkan liarnya Cikandang itu menyemburat kecemasan.

Menurutnya, jarang sekali Cikandang bisa meluap sehebat ini. Nyaris, rencana pengarungan dibatalkan. Apalagi, berita peningkatan aktifitas gunung Papandayan terdengar cukup santer hingga ke Jakarta.

“Batuk� gunung berketinggian 2.662 meter itu sempat disertai muntahan lahar dingin. Akibatnya, saat hujan deras, puluhan rumah di sisi selatan gunung itu porak poranda tersapu banjir yang bercampur lahar dingin.

“Jika terus begini, enggak tahu deh..,� ucap Indro, tersenyum kecut sambil mengangkat kedua bahunya. “Kalau surut kita turun, kalau enggak..,� timpalnya, sambil kembali angkat bahu tanpa meneruskan kalimatnya.

Buatku, pernyataan itu adalah keragu-raguan besar untuk menentukan besok hari sebagai babak awal mengarungi Cikandang. Dan hingga larut malamnya, ihwal pengarungan masih menjadi tanda tanya besar di benak kami semua. “Semoga cuaca besok mau bersahabat,� harapku, bergumamku menjelang terlelap.
***
UNTUNGLAH, esoknya, ketidakpastian yang merongrong batin itu perlahan sirna seiring datangnya pagi. Hujan deras mereda, dan debit air Cikandang pun kembali normal. “Siap diarungi!� batinku, sambil menggenggam bilah dayungku kuat-kuat.

Normalnya, jeram-jeram Cikandang tergolong ke dalam jeram kelas tiga. Artinya, meskipun relatif aman untuk dilalui, dalam keadaan kondisi sehabis banjir seperti ini, tingkat kesulitan dan bahayanya harus tetap diperhitungkan.

Tak heran, seusai kejadian yang menimpa perahu Adolf tadi, episode menegangkan kembali berlanjut. Perahu menepi sejenak untuk mengintai jeram (scouting).

“Kita ambil jalur di kiri batu itu, tapi jangan sampai nabrak tebing,� kata, Indro yang memimpin pengintaian di tepi sungai berpasir putih itu. Sebuah deretan jeram sepanjang 100 meter tengah menanti. Berbuih-buih, laksana tungku air raksasa nan panas mendidih.

Kesulitan jeram itu semakin tinggi akibat bergabungnya sebuah anak sungai dari sisi kanan sungai ini. Arusnya sama kuat dengan hantaman arus yang datang dari arah depan perahu.

Bisa dibayangkan, betapa dahsyatnya jeram-jeram yang terbentuk. Praktis, gerakan manuver harus lincah demi menghindari kuatnya hisapan rangkaian jeram itu.

Jika tidak, perahu akan oleng ke kiri, menabrak tebing, lalu terbalik. Begitulah hasil observasi dan rembuk kami di pinggir sungai.

Memang, saat melaluinya, semua perahu lancar melewati rintangan jalur tersebut. Tapi, belum jauh lepas dari situ, dua awak perahu yang dikomandoi Topan lengah.

Rupanya, standing wave (jeram ombak berdiri) menerjangnya. Saking kencangnya hantaman jeram itu, bagian depan perahu terangkat sampai setinggi gelombang airnya.

Tak ada kesempatan sama sekali untuk berpegangan pada badan perahu. Keduanya tergulung arus, naik turun dipermainkan jeram berombak-ombak.

Selang beberapa saat, kembali kami dirundung kekhawatiran. Untunglah, Topan, dibantu awak lainnya berhasil mengejar, lalu menangkapnya dengan cepat.

Hal itu pun sempat kualami. Saat perahu melabrak jeram berombak, aku merasa limbung. Tubuhku terpelanting, kepala dan badanku membentur rekan-rekan, dan barang-barang di bagian depan perahu.

Tak ada luka serius. Hanya menyebabkan beberapa jari tangan kananku terkilir.

Sekitar 3,5 jam sudah kami berada di sungai Cikandang. Jeram demi jeram kami taklukan. Akhirnya, rombongan memasuki kawasan yang penuh gugusan delta (dataran seperti pulau kecil di tengah sungai).

Rupanya, kehadiran pulau-pulau kecil itu menipu kami. Pasalnya, saat perahu pertama masuk di kiri delta, mendadak jalur itu terhalang batu besar. Alhasil, mereka harus mendayung kuat melawan arus, berbalik arah menuju jalur kanan.

Syukurlah, usaha keras itu berhasil dengan gemilang. Membuat membuat kami sedikit merasa lebih rileks. Apalagi, saat sungai Cikandang mulai menyatu dengan sungai Cirompang, tak satu pun jeram kami jumpai.

Tak terasa, roda perjalanan telah tiba di desa Bungbulang. Di sebuah jembatan yang menghubungkan jalan Ranca Buaya menuju Pamengpeuk, kami mengendurkan kayuh.

Nun jauh ke muka, sejenak kulemparkan pandangan. Di kejauhan, Laut Selatan membentang luas membiru.

Di ufuk barat, tampak mentari menyorongkan sinarnya di atas permukaan laut. Merah merona, pasrah dijilati birunya laut.

Kian merangkak senja, suasana menjadi syahdu. Nuansa biru perlahan lenyap ditelan batas cakrawala. Hanya selarik sinar merah yang tersisa, menutup akhir mengesankan di ujung selatan Jawa Barat itu.

5 Komentar di “Menerjang Jeram Liar , Pengarungan Mapala UI di Sungai Cikandang”

  1. 1
    Ajay Says:

    Salam rimba
    Salam kenal juga, saya Ajay anggota muda XIX AMP FK Unpad. Rencananya kami anggota muda XIX AMP akan mengadakan pengarungan di SUngai Cikandang dan pemetaan sungai tersebut. Namun karena AMP lebih sering “ngarung” di Citarik, CImanuk, dan Citarum maka kami belum punya data sungai tersebut. Dengan hormat kalo boleh kami ingin sharing mengenai data kondisi sungai Cikandanag Garut. Makasih.

  2. 2
    Yasir Says:

    Salam kenal..
    Yasir ni, dari KMPA ITB. Dulu prnah jalan bareng anak2 mapala UI waktu sma. Hihi..
    ada wacana mau ngarung ke Cikandang nih, mau nanya beberapa hal:
    1. Transportasi ke lokasi (umum dan pribadi)
    2. Di sana udah ada providernya belum? yang bisa nyediain perahu. Atau harus bawa sendiri?
    3. Transportasi dari finish ke base camp gimana? berapa lama?
    4. Enaknya ngecamp di mana? di start dan finish ada lokasi camp?

    makasih sebelumnya nih, maap2 kalo ngerepotin.

  3. 3
    vonda Says:

    salam rimba
    salam kenal,saya anggota muda XXII SWATALA UMB JAKARTA. kami akan meyelesaikan TA untuk memenuhui salah satu syarat badan diklat XV, kami akan mengadakan pemetaan sungai cikandang.

    kami sedang mengumpul kan data dan kondisi sungai cikanadang bila tidak merepotkan kami mohon bantuan untuk inpormasi data sungai cikandang.

    terimaksih sebelumnya atas inpomasinya.

  4. 4
    Samok Says:

    jadi inget waktu turun bareng itu..ha.ha.ha…lumayan asyik juga perjalanannya..salam ama teman-teman mapala UI yang turun ke Cikandang waktu itu…

    Salam
    Samok

  5. 5
    lara Says:

    salam…

    tahun 1998 kami mengadakan pengembaraan susur sungai cikandang..
    kalo ada yang butuh pemetaan jeramnya, bisa dateng ke sekretariat kami
    Himpala Itenas Bandung
    JL. PPH Mustafa no 23…

Tulis Komentar