Tulisan di bawah ini juga merupakan usaha mendokumentasikan Tulisan Anak Mapala di Media. Tulisan ini dimuat di Rubrik Petualangan Majalah MATRA pada Edisi JANUARI 2002 dan ditulis oleh Manto di edit oleh Latief.
Dalam kondisi air meluap, para rafter (pengarung jeram) bertaruh nyawa mengarungi sungai yang terkenal cukup ganas. Saking ganasnya, pernah menewaskan seorang pengarung jeram yang namanya terabadikan sebagai salah satu nama jeramnya.
Suparmanto, anggota MAPALA UI, mengupas pengalamannya yang menguras fisik dan psikis ini khusus kepada MATRA.
SUDAH setengah hari kami terombang ambing dalam perahu Avon. Beberapa standing waves (ombak berdiri) setinggi dua meteran, serta hole (pusaran) di beberapa jeram sempat nyaris membuat kami terhempas.
Sejak pagi, jantung kami tiada hentinya berdebar kencang. Betapa tidak. Akibat hujan semalaman tadi, wajah sungai Progo jadi nampak menakutkan. Airnya berwarna kecoklat-coklatan, sementara arusnya bergerak sangat cepat.
“Siap-siap, di depan jeram besar tuh,” komando Melsom, skipper (juru mudi perahu) kami. Dari jauh, memang telah kami lihat rentetan jeram memanjang.
Rupanya, yang menanti di depan kami itu jeram Boedhil. Jeram terkenal paling ganas di sungai Progo.
Nama jeram itulah bukti keganasannya. Nama yang diberikan untuk mengenang tewasnya seorang pengarung jeram Jogja beberapa waktu silam di antara rentetan buih menakutkan itu. Sunguh kenangan memilukan, gumamku seraya berdoa untuk almarhum.
Panjang jeramnya kira-kira lima puluh meter lebih. Arusnya sangat kuat, menubruk tebing, lalu membentuk undercut (legokan akibat pengikisan).
Sementara itu, di bagian tengahnya terdapat patahan atau drop yang juga mengarah ke tebing. Rintangan kian sempurna dengan bertebarnya standing waves tak beraturan akibat arus balik di legokan tebing tadi.
Menaklukkannya bukanlah perkara enteng. Scouting (pengintaian jeram) saja, terpaksa kami lakukan dengan menepi sejauh seratus meter dari entry jeram. Niscaya kami terseret, bila terlalu mendekat lantaran arus kuatnya itu.
Strategi yang telah dirancang terpaksa berubah. Pasalnya, perahu kayak (perahu kecil sejenis sampan) yang akan ditumpangi Iman bocor. Perahu Avon terpaksa menggantikannya sebagi pembuka jalur.
Aliran darah mendadak kencang begitu kami mulai mendayung. Perlahan perahu Avon melaju ke mulut jeram.
Taktiknya, pertama kami mendayung sangat perlahan. Namun, begitu bagian depan perahu dihujam oleh pusaran, secepat kilat berubah. “Kuaat, dayung kuat,” Melsom, skipper (juru mudi) kami, berteriak sekerasnya. Alhasil, kami mendayung kuat, seperti orang kesetanan.
Bukan main. Kami mendayung diantara amukan gelombang buih dengan suara gemuruh yang terdengar keras. Kian menggetarkan nyali kami.
Akhirnya, kami lolos dari ancaman pusaran. Dari situ, secepatnya perahu kami arahkan masuk ke patahan dan memotong ke arah kanan, menghindari standing waves tak beraturan.
Kerasnya arus sempat menarik perahu, namun begitu kuatnya kayuhan kami mampu menahannya. Walhasil, perahu keluar dengan selamat dari jeram “neraka” itu. Plong rasanya.
Sukses perahu Avon itu tentu menyemangati seluruh awak di perahu Base Marine, partner kami. Mereka begitu mulus membawa benda karet itu meliuk-liuk, menerobos hole pertama. lalu dengan cepat menerjang dua buah jeram pusaran berikutnya.
Setelah Boedhil ayunan ombak berdiri setinggi 2-3 meter yang mendominasi pengarungan cukup mengurangi ketegangan kami. Begitu asyiknya, sampai lupa, perahu kami hampir berdiri tegak lurus dan terbalik. Kami buru-buru beringsut membebani bagian depan perahu agar posisinya lurus kembali.
Rupanya, kejadian nyaris terbalik itu tadi menjadi akhir pengarungan kami di sungai Progo. Ditunjang perut lapar, hari pun kian merambah sore, kami pun segera menepikan perahu, mengakhiri pengarungan.
***
SEJATINYA, pengarungan sungai macam di Progo bagian bawah itu memang yang senantiasa dinanti oleh pengarung jeram macam kami. Penuh pertimbangan tepat, keputusan cepat, sementara bahaya telah mengintai. Salah sedikit, nyawa taruhannya!
Namun bukanlah perkara enteng untuk mengarungi Sungai Progo dan Serayu yang sedang meluap. Apalagi, kami tergolong belum berpengalamn di dua sungai kebanggan kota gudeg ini.
Perasaan itu memang telah merajai kami, divisi arung jeram MAPALA UI, sejak pertama meninggalkan Jakarta. Maklum, sudah dua bulan rencana pengarungan ini kami pancang sebagai ajang latihan, sekaligus melepas kepenatan usai ujian semester.
Aku, Iman, Wening, Anna, Tessa, Hence, Tutut, Jufe serta Melsom mengawalinya dengan perjalanan yang membosankan dari stasiun kereta api Senen, Jakarta. Tentu saja, sebab selama 15 jam kami terpaksa berbaur dalam sesaknya gerbong kereta ekonomi, terperangkap dalam kepulan asap rokok dan bau keringat penumpang.
Tiba di stasiun Lempuyangan, Jogjakarta, kami dijemput oleh Juwe’, rekan kami dari MapaGama (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gajah Mada). Rencananya, selama tiga hari, Juwe’ dan enam rekan MapaGama lainnya akan menjadi rekan pengarungan kami.
Esoknya, dengan menumpang pick up yang sarat dengan peralatan arung jeram (pelampung, dayung, helm dan tali penyelamat) kami berangkat menuju Hotel Puri Asih., Magelang. Sesuai rencana, di tempat itu kami akan memulai pengarungan sungai Progo atas.
Wening dan Iman menggunakan kayak sebagai pembuka jalur. Sementara itu, aku dan yang lainnya mengekor dengan perahu karet Avon. Itu skenario yang kami sepakati hingga akhir pengarungan nanti.
Sayang, pengarungan hari pertama kami itu kurang memacu adrenalin. Pasalnya, sejak meninggalkan pinggir sungai dekat hotel Puri Asih, yang kami jumpai hanya medan flat (datar), serta beberapa ombak berdiri saja. Cenderung membosankan.
Saking bosannya, pengarungan terpaksa kami sudahi di jembatan Watu Karung, meskipun hari belum merambah petang. Malamnya, kami menginap di sebuah rumah di desa Klangon, Muntilan, untuk mengatur rencana berikutnya.
Malamnya, hujan turun begitu deras. Menumpahruahi sungai Progo yang mengecewakan kami seharian tadi. “Ya, semoga keberuntungan menghampiri kami esok hari,” aku membatin sebelum tidur.
Benar saja. Esoknya, rentetan jeram besar bertubi-tubi menghujam dua perahu kami. Untuk menghindari risiko fatal, tak bosannya kami scouting dan kadang mengubah taktik pengarungan sebelum menerobosnya.
Jeram Selamat Datang menjadi rintangan pertama kami. Bentuknya berupa penyempitan secara drastis sepanjang 20 meter dengan arus kuat menubruk tebing.
Pada bagian kanannya terdapat pusaran air akibat patahan holeput (sungai). Sementara, di depannya, sebuah batu besar membentuk haystack (ombak berdiri lurus dan pecah-pecah) yang siap membalikkan perahu. Akhirnya, rangkaian jeram itu ditutup dengan undercut (legokan pada batu / tebing akibat pengikisan) sepanjang 20 meter.
Bak gadis cantik berkulit putih mulus, pinggul aduhai serta dada besar membusung, jeram ini membuat darah kami mengalir deras. Tak lain, itu karena rasa takut yang tengah menyatu dengan keinginan menggila di dada kami, secepatnya menjumpai jeram macam ini.
Sulit kami bayangkan, jika perahu masuk miring dan terbalik. Awak bagian kanan sudah pasti terlempar ke jalur kanan jahanam itu. Digulung oleh pusaran, dilempar haystack, diputar lagi oleh pusaran, lalu bersiap untuk dijepit undercut.
Bayangan itu nyaris menjadi kenyataan, lantaran perahu kami membentur batu. Laju perahu menjadi miring dan nyaris terbalik. Berkat kesigapan semua awak, perahu dapat stabil kembali dan kami terhindar dari petaka itu.
Kekompakan kami mendayung membuat perahu kami mulus melalui rintangan pertama itu. Keberhasilan ini pun dapat dinikmati oleh Base Marine yang menjadi algojo kedua memasuki jeram.
Selanjutnya, kedua perahu terus beriringan melibas rintangan. Tanpa kami sadari, jeram Gatot dan Orbit, yang termasuk perlu pengamatan ekstra, telahkami lalui tanpa perjuangan berarti.
Kami menghentikan pengarungan saat mentari kian condong ke barat. Sinarnya begitu hangat, memeluk tubuh-tubuh kami yang telah basah kuyup oleh deburan jeram.
***
GUNCANGAN-guncangan jeram Progo seolah masih terasa menghantui kami, tatkala menyambut pengarungan di sungai Serayu. Pengarungan yang menjadi babak akhir perjalanan kami yang mendebarkan ini.
Karateristik jeramnya berupa penurunan permukaan di belokan sungai. Alhasil, arus kuatnya tetap menubrak tebing. Tak jauh berbeda dengan Progo bawah,.
Untungnya, tinggi air saat itu normal, sehingga cukup aman untuk diarungi. Dalam sekapan udara dingin, usai sarapan seadanya, kami memulai pengarungan ini dari sungai Krasak, anak Sungai serayu.
Rintangan pertamanya adalah jeram dengan penurunan setinggi 1,5 meter dengan lebar 3 sampai 4 meter. Cukup waspada kami melaluinya, sebab harus melewati dua batu besar yang berdiri kokoh, laksana pintu gerbang sebuah kerajaan jaman dulu.
Bukan maksud meremehkan, semangat kami menaklukkan jeram di sini tak sebesar kemarin. Hal itu akibat tingkat kesulitannya hanya sedikit di atas jeram yang kami temui di sungai Progo bagian atas.
Selepas jembatan Boja hingga Singomerto kami tak lagi menemui jeram besar. Kesempatan itu tak kami sia-siakan untuk rihat di sebuah perkebunan salak yang rimbun berbuah di pinggir sungai.
Bagi kami, itu merupakan sisi perjalanan lain nan mengesankan. Melepas lelah sembari saling berebut buah salak. Suasana pun seketika mencair oleh buncah tawa tak tertahankan.
Puas menikmati rihat yang menyegarkan batin itu, perjalanan kami lanjutkan. Nampaknya, tinggi muka permukaan air mulai naik dan cukup menambah tingkat kesulitan jeram.
Tak disangka, kekhawatiran itu terjadi. Nasib sial dialami perahu Base Marine. Standing waves setinggi dua meter sangat kuat menghantamnya hingga terbalik.
Kecuali Yaya’, kapten perahu, semua awaknya mengalami “bubar kantor�. Mereka terlempar ke dalam sungai dan hanyut terbawa arus.
Malang bagi Tutut. Mahasisiwi kedokteran ini timbul tenggelam dipermainkan gugusan jeram. Sekonyong-konyong ketegangan kami kembali menyeruak.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Tak ada yang dapat kami perbuat untuk selekasnya menolong. Dalam kecemasan, kami hanya bisa menerka, apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Gue merasa seluruh keliling gue sangat gelap. Rasanya seperti diputar-putar,� ungkap Tutut sesaat setelah Melsom berhasil menyelamatkannya. Rupanya, ia sempat terjebak beberapa detik dalam pusaran air.
Ya, kiranya, beberapa kejadian yang nyaris merenggut nyawa ini tak membuat kami merasa takut. Kami justeru semakin sadar, betapa kami harus memahami pertimbangan antara keterbatasan yang kami miliki dengan hasrat petualangan menyala-nyala.
April 17th, 2008 at 23:45
SALAM LESTARI !!!!
mo tau tentang data sungai progo donk secara detailnya mulai dari biaya perjalanan dari jakarta ke lokasi n pastinya berapa biaya buat operatornya ?
btw punya referensi ga buat pengarungan di progo ?
Karakteristik sungainya gmana ???
segera kirim balaeasan ya …
thanks b4
June 29th, 2008 at 00:20
tlg kirimin data perjalanan sumgai progo anda?
btw punya referensi ga buat pengarungan di progo ?
Karakteristik sungainya gmana ???
gw tunggu y
thanks
April 2nd, 2009 at 16:02
Salam rimba!
Mw tanya sm sodara2 mapala ui, apakah utk mengarungi progo bwh memang hrs memiliki klasifikasi tertentu? (harus pernah mengarungi sungai2 tertentu dulu) dan apakah ada standar tertentu utk perahu yg digunakan utk mengarung di sungai tsb?(ukuran perahu), thanx
May 6th, 2009 at 10:22
bagaiman bisa ikut mengarungi di sungai progo, duh kayanya asik toh…………
December 22nd, 2009 at 16:54
menarik!
dulu hanya sempat melihat teman-teman UI pulang ngarung bareng dwek dkk di gelanggang…dan mendengar selintingan cerita tentang awak perahu yang bubar semua, kecuali sang skiper…
salam!