Rubrik Petualangan Majalah MATRA, Edisi Juli 2003. Tulisan Dadang yang telah diedit oleh Latief.
Kendati dihuni batuan rontok, tebing Sela cukup menarik untuk dipanjat. Bersemayam di antara lembah dan jurang dalam, tebing yang pernah memakan korban ini masih jarang dilirik pemanjat.
Diancam “hujan batu�, Dadang Sukandar, seorang pemanjat MAPALA UI menembusnya puncaknya, dan mengisahkannya khusus kepada MATRA.
NAFAS Agi berkali-kali terdengar melenguh. Sesekali, satu tangannya sengaja ia gelepar-geleparkan demi mengurangi rasa pegal yang menghujam. Perlahan, keringat menyungai sekujur di wajahnya.
Diterpa angin dingin pagi itu, kelelahan nampak mulai merajam. Kendati demikian, Agi tetap bersemangat merayapi dinding tebing Sela, Jawa Barat, yang masih basah disapu embun.
Belum terlalu jauh jarak leader kami ini meninggalkankan dasar tebing. Hingga akhirnya, sebuah roof (bagian tebing berbentuk atap) kecil menghadang. Bentuk permukannya nyaris licin, sulit mendapat pegangan.
Dengan hati-hati dan penuh konsentrasi, Agi berusaha melampaui roof tersebut. Bak penari, tubuhnya lincah bergerak, meliuk mencari pegangan kokoh menembus rintangan awal itu.
Berhasil dan lancar, memang. Tapi belum sempat menghela nafas panjang, crack (celah) sepanjang sepuluh meter langsung menyambut di depannya.
Kuamati, medan kali ini terasa lebih sukar buatnya. Sama sekali tak ada rekahan yang bisa menjadi pegangan atau pun pijakan. Benar-benar mulus tanpa cacat!
Tak ada jalan lain. Untuk menambah ketinggian, Agi harus tetap mengandalkan celah tersebut. Alhasil, Joshua, belayer (orang yang mengamankan pemanjat) harus memberikan perhatian ekstra untuknya.
Setelah cukup melakukan pengamatan, kedua pemanjat lantas bersiap diri. Dengan satu kali komando dari Joshua, Agi perlahan meniti sejauh sepuluh tombak.
Agi terus merangsek naik. Mendekati kawasan puncak tebing, tiba-tiba sebongkah batu tak sengaja diinjaknya, rontok berhamburan. “Rock…,� teriak Agi, memperingatkan Joshua dan aku yang ada di bawah.
Refleks, aku dan Joshua langsung memeluk dinding tebing. Menghindari beberapa bongkahan batu sebesar kepalan tangan yang menghujam ke arah kami berdua. “Ups, nyaris saja!� gumamku di antara degup jantungku.
Sempat, serpihan batu-batu kecil menimpa helm kepala Joshua. Cepat-cepat pelindung kepala kami kencangkan. Dari jauh, rekan-rekan terlihat cemas menyaksikan hal ini.
“Save…�, teriak Joshua. Suaranya melengking, membentur kerasnya dinding tebing. Mendengar itu, barulah semuanya merasa tenang.
***
BERADA di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut, sejauh ini, kawasan gunung Sela masih sangat jarang didaki. Puncaknya yang bisa dicapai dari kawasan Cipanas ini memang bukan jalur pendakian umum, layaknya rute gunung Puteri, Selabintana, maupun Cibodas yang mengarah ke puncak gunung Gede dan Pangrango.
Sebetulnya, tebing Sela ini tertutup untuk pemanjatan. Jangankan memanjat, mendakinya pun harus berbekal ijin khusus. Pasalnya, tebing Sela masih termasuk areal di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Jawa Barat, yang sangat terjaga kelestariannya.
Tak ayal, kami pun sempat dihadang birokrasi berbelit-belit dari pihak Taman Nasional. Namun, saat diuraikan maksud dan tujuannya, tim pemanjat Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Indonesia ini tak menjumpai aral merintang. Rencana berjalan lancar.
Demi menjaga kelestarian, Agi memutuskan untuk tidak mengebor tebing sebagai tempat memasang pengaman. Sebelum memanjat, Agi melakukan rappeling seraya telaten memasang chock (pengaman sisip) di tiap rekahan. Selain lebih mudah, cara ini pun terbukti mampu menjaga kerusakan lingkungan.
Buat kami, mendaki gunung Sela, apalagi merayapi tebingnya, masih merupakan hal baru. Bisa jadi, jumlah pendaki yang masuk ke kawasan ini bisa dihitung dengan jari.
Praktis, aku, Joshua, Agi, Adi Petot, Ucup, Dian dan Yulia sangat ingin melawat ke sana. Sebab kabarnya, tebing curam setinggi 50 meter dengan lintasan panjat 40 meter ini belum pernah dipanjat.
Tak heran, sejak menelurkan ide ini, Agi paling berambisi menyambutnya. Apalagi, setelah dipicu oleh kegagalannya menembus puncak tebing Krakatau di Selat Sunda beberapa bulan silam.
Sejak memulai pendakian di kaki gunung Puteri, baik fisik dan semangatnya senantiasa berkobar-kobar. Tanpa lelah, gulungan tali dan peralatan panjat tebing itu disandang dalam ranselnya selama enam jam perjalanan menuju puncak Sela. “Enggak perlu, gue bisa bawa sendiri,� tolaknya, menepis bantuan yang ditawarkan rekan-rekannya yang lain.
Bersyukur, cuaca pagi begitu cerah. Sebab, banyak tanjakan curam yang menjadi sangat licin ketika turun hujan. Saat itu saja, tak mudah melaluinya tanpa memanfaatkan bantuan pohon dan akar sebagai pegangan.
Menjelang senja, kami tiba di puncak Sela. Bersicepat dengan datangnya malam, tiga buah tenda segera kami dirikan tepat di bibir tebing yang langsung membentuk jurang sedalam 50 meter.
Seketika ingatanku melayang ke masa lalu. Beberapa tahun silam, jurang Sela menewaskan seorang pendaki asal Jakarta. Konon sebelum tewas, ia tersesat arah di dalam lebatnya hutan Sela. Tanpa sadar mencari jejak, akhirnya terperosok ke dalam jurang. “Semoga almarhum tenang di sisi-Nya,� batinku, seraya melafalkan doa untuk para arwah.
Lepas dari lamunan itu, aku berusaha melipur diri. Sejenak, menikmati senja menyambut malam.
Sepi dan dingin merasuk. Nampak, rona merah matahari perlahan turun ke dalam jurang-jurang nan gelap di lembah itu.
Hanya halimun tipis yang masih terlihat merayap-rayap di atas lembah raksasa ini. Membisu, bersama kepulan asap belerang yang mengepul dari kawah Wadon dan kawah Ratu.
***
SEBAGAI pemanjat berikutnya, “hujan batu� yang sempat mencengangkan babak awal pemanjatan hari itu cukup membuat nyaliku menciut. Tapi tidak begitu dengan Joshua.
Pengalaman merayapi tebing rontok di gunung Krakatau membuatnya menjadi lebih tenang menghadapi kondisi semacam itu. Seolah putus urat takutnya, Joshua malah mengumbar lelucon penyegar suasana. Seperti tak pernah terjadi sesuatu yang membahayakan jiwanya.
Hal itu terang menjadi penambah semangatku melakukan pemanjatan. Kesulitan sepanjang runner (pengaman tali) satu dan dua, berhasil kuatasi. Namun, menjelang runner berikutnya, bayangan akan ketinggian 40 meter menyebabkan jantungku kembali berdegup kencang.
Dengan segenap keberanian yang ada, aku terus berusaha menambah ketinggian. Dan kini, bukan lagi rasa takut mendera, power pun terasa mulai kedodoran.
Memanjat di daerah ketinggian, dengan kondisi oksigen tipis memang terasa lebih berat. Nafas mudah sekali sesak, dan gampang letih.
Belum mencapai dua puluh meter, otot-otot terasa mengejang. Membuat konsentrasiku buyar. Hingga tak kusadari, pegangan tanganku seketika lepas.
Sedetik, jantung serasa tak lagi ada di tempatnya, melayang. Tubuhku terpelanting, terayun-ayun di udara.
Untungnya, tali penambatku masih menempel erat pada pengaman. Alhasil, tubuhku tak sampai terhujam bebas ke dasar tebing. “Tuhan masih menyertaiku,� batinku, tak kuasa bersyukur.
Setelah kejadian itu, cukup lama waktu yang kubutuhkan untuk menenangkan diri. Sebelum akhirnya pemanjatan itu bisa kutuntaskan sampai ke puncak.
Akhirnya, drama menegangkan ini pun berujung. Sebagai pemanjat ketiga, Joshua menutup rangkaian pemanjatan. Meskipun terlihat jarang berlatih, hari itu ia begitu mudahnya menyelesaikan semua rintangan yang ada.
Keberhasilan hari itu membuat suasana hati tim pemanjat menjadi haru. Walaupun nyaris celaka, tiga pemanjat sukses menembus puncak tebing Sela.
Di puncak Sela, semua anggota perjalanan kembali berkumpul. Diselingi tawa, kami menggelar perbincangan ihwal pemanjatan tadi. Tentang jurang Sela yang dalam, tentang batu rontok, tentang keberanian di antara rasa takut yang menyesakkan dada. “Bukan tanpa takut aku memanjat, hanya saja, ketakutan itu tidak bisa menguasaiku,� ujar Joshua padaku, lirih di antara desir angin puncak tebing.
2010 adventure Anggota arung jeram badan pengurus Bakti Sosial beregu buku ciberang ciremai dono fotografi Gunung Kidul hiu indro jawa barat Jejak Jelajah Karst kasino lingkungan lintas alam lomba majalah mapala ui mapalsu Meru Betiri norman edwin nurmulia rekso Panjat Tebing Pantai pelantikan pendakian penipuan piala reality show Rektor Semeru seminar Soe Hok Gie UI warkop warkop dki workshop World Oceans Day
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
March 3rd, 2010 at 15:27
kereeeeen!!!