Ekspedisi Kapuas Mahakam ‘94: Pegunungan Muller Diusulkan Jadi Kawasan Konservasi

Ini ceritanya gimana sekarang ya? Tulisan dari Harian Kompas, 2 November 1994.

Ekspedisi Kapuas Mahakam ‘94:
Pegunungan Muller Diusulkan Jadi Kawasan Konservasi

Pegunungan Muller yang terletak di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur termasuk kawasan hutan hujan tropis yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Kawasan Pegunungan Muller penting untuk kelestarian tiga sungai besar Kalimantan, Sungai Barito, Kapuas, dan Mahakam.

Tim peneliti Botani-Zoologi Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994, yang melakukan penelitian selama 40 hari di kawasan pegunungan Muller bulan April-Mei 1994, mengusulkan kawasan itu dijadikan kawasan penting di Kalimantan.

“Sebelum pegunungan Muller terancam rusak, pemerintah harus segera menetapkan pengelolaannya yang lebih jelas sebagai kawasan lindung, “kata Yossa Istiadi, salah satu anggota tim peneliti ekspedisi yang diselenggarakan oleh Kompas-Gramedia-Mapala UI, ketika menyampaikan hasil penelitian itu, hari Selasa (1/11), di Bentara Budaya.

Dua pembahas makalah, Dr Jatna Supriatna dari jurusan Biologi Universitas Indonesia dan Dr Ir cecep Kusmana dai Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, menekankan kembali perlunya kawasan pegunungan Muller dijasikan kawasan lindung.

“Saya juga mengusulkan kawasan pegunungan Muller dijadikan taman nasional. Hanya daerah Muller di Kalimantan yang merupakan daerah benturan antara daerah utara dengan tengah, barat dan timur. Karena itu pegunungan
Muller juga disebut the heart of Borneo, “kata Jatna.

Pegunungan Muller Muller menjadi penting karena, “Muller menjadi pembatas alam Kalbar-Kaltim. Ada tubrukan hewan Kalbar dan Kaltim atau bisa disebut daerah hibrida. Bisa jadi kalau penelitiannya lebih lama ditemukan 100 jenis mamalia, “ujar Jatna menjelaskan.

Sebenarnya, menurut Sad Hasto, salah satu anggota tim, John Mac Kinnon dan MB Artha, peneliti yang banyak meneliti kawasan Kalimantan, sudah mengusulkan ditetapkannya dua kawasan lindung yaitu sebagai Cagar Alam
Gunung Bentuang dan Karimun seluas 600.000 hektar dan Hutan Lindung Bukit Batutenabang seluas 883.000 hektar yang terletak di sekitar kawasan Pegunungan Muller. “Tetapi sampai sekarang belum terealisasi dan tetap
masih usulan, “kata Hasto.

Penelitian dilakukan di empat lokasi, yaitu di kalbar Long Banyu daerah dataran rendah dekat sungai di ketinggian 150-400 meter dpl dan Gunung Terata di ketinggian 1.000-1.457 meter dpl, Soa Apun di perbatasan Kalbar-Kaltim merupakan daerah pegunungan bawan di ketinggian 600-900 meter dpl, dan Lepuhun Keto daerah dataran rendah di Kaltim dengan elevasi 150-250 meter dpl.

Para peneliti muda Yossa Istiadi, Dolly Priatna, dan Navy Panekenan dari LSM Biological Science Club, yang melakukan inventarisasi satwa di pegunungan Muller selama 40 hari menemukan 32 jenis mamalia, diantaranya
sembilan jenis endemik Kalimantan dan satu jenis tupai besar yang diduga merupakan jenis yang belum teridentifikasi. Kawasan pegunungan Muller memiliki keanekaragaman jenis burung, ikan, serangga, maupun jenis-jenis
amphibi dan reftil.

Sad Hasto, yang dibantu oleh Edison Siahaan dan Hapsoro, juga menyimpulkan hutan di kawasan itu belum terganggu. Salah satu lokasi, Lepuhun Keto, walaupun bekas ladang orang dayak yang sudah ditinggal selama 40 tahun, keadaannya cukup baik.

Yang menarik dari hasil penelitian itu ditemukannya padang lumut yang diselingi pohon-pohon kecil di ketinggian 1.400-1.457 meter dpl. Keadaan ini agak berbeda dengan klasifikasi umum hutan pegunungan, dengan ciri
adanya lumut menutupi batu-batuan dan batang pohon, pada ketinggian di atas 1.500 meter dpl.

Sejumlah masukan diberikan oleh para pembahas, mulai dari metode penulisan ilmiah sampai usulan penelitian lanjutan, Jatna mengusulkan jika memungkinkan eksplorasi di pegunungan Muller dilakukan kembali terutama eksplorasi yang intensif dengan mengikutsertakan ahli di bidang masing-masing, terutama amphibi, reftil dan ikan.

Dan, spesimen yang dikumpulkan dari hasil ekspedisi ini perlu segera dideterminasi, kalau perlu dikirim ke luar negeri bila ahli Indonesia dalam bidang itu tidak ada.

Selain hasil penelitian Botani dan Zoologi, Tim Peneliti Sosial Ekonomi Pax benedanto, Ade Tanesia, Rusdi Marpaung, dan Pitono Adi juga menyampaikan hasil penelitian dinamika komunitas Suku Dayak Bungan di Hulu Kapuas Kalbar dan Dayak Aoeheng di Hulu Mahakam Kaltim. Hasil penelitian sosial budaya dibahas oleh dua ahli yaitu Dr Budi Harsono dan Dr Bernard Sellato.

Seorang pembicara lain, Wisetyo N, yang sudah tiga kali melintas jalur ekspedisi, menyampaikan peluang dirancangnya program ekoturisme di jalur Nieuwenhuis.

(Harian Umum Kompas, 2 November 1994)

2 Komentar di “Ekspedisi Kapuas Mahakam ‘94: Pegunungan Muller Diusulkan Jadi Kawasan Konservasi”

  1. 1
    rossar, Says:

    taon ‘94 masih lebat dan rimbun namun apakah sekarang masih seperti dulu..sejak gergaji dan uang menjadi primadona….
    kapan ke kalimantan lagi dan boleh ikutan nggak???

  2. 2
    Ryanto Says:

    Boleh bergabung kah…

    Setuju saja menjadi kawasan konservasi…

    Yang penting menjaga kawasan tersebut…

    Trims…

Tulis Komentar