Gua Ngejahan – Wonogiri

Tulisan waktu tim calon anggota caving Mapala UI melaksanakan ekspedisi kecil ke Wonogiri tahun 1996 yang lalu — udah lama ya? — dari pada nggak :D — Ini tulisannya Didit, M-555-UI (original version) yang juga dimuat di Majalah Matra — foto menyusul. Ekspedisi tahun 1996 — di Matra tahun 2000 — hampir 4 tahun kemudian di sini deh … Ayo guys sumbang artikelnya ya..

image

“Aduh, kaki gua remuk..!”, kemudian tak ada suara. Kami memanggil-manggil lewat HT (handie talkie) tak ada jawaban dari Tajid yang berada 35 meter di bawah kami.
Aliran darahku serasa dapat kuikuti dari kepala dan kaki mendesir perlahan ke jantung membuat jantungku berdegup kencang dan kakiku menjadi dingin. Kami masih belum tahu kejadian apa yang menimpa Tajid di bawah sana. Panggilan-panggilan kami lewat HT tidak dijawab.

Terlintas kejadian-kejadian yang susul menyusul sebelum peristiwa ini terjadi. Perjalanan ini merupakan salah satu syarat agar kami dapat dilantik untuk menjadi anggota Mapala UI, kami menyebutnya Ekspedisi Kecil. Satu setengah bulan sebelum pejalanan ini, saya melakukan survey lokasi di daerah Pracimantoro dan Giritontro (di daerah Wonogiri Selatan). Selama satu minggu saya dan Sugih mengurus perijinan dan melakukan survey di kedua daerah itu untuk menentukan gua-gua mana saja yang akan kita jadikan lokasi ekspedisi. Pada akhirnya kami berdua memutuskan untuk menfokuskan penelusuran gua di daerah Giritontro terutama dusun Ngringin, pertimbangan utamanya adalah banyak gua-gua baik horisontal maupun vertikal yang belum dipetakan di daerah tersebut. Pada saat survey itu kami berdua mengunjungi tiap-tiap gua yang rencananya akan kami telusuri pada saat ekspedisi. Salah satu gua yang kami kunjungi adalah gua Ngejahan. Kami diantar oleh Kepala Dusun Ngringin, Pak Sujono, pak Sujono menyebut gua itu gua Ngejahan berdasar pada lokasi gua itu berada di dusun Ngejahan. Banyak gua-gua yang kami datangi tidak bernama dan diberi nama langsung oleh Pak Sujono. Pak Sujono bercerita tentang Luweng Ngejahan (luweng adalah sebutan setempat untuk gua yang berbentuk sumuran atau gua vertikal). Pada sekitar tahun 1968, luweng Ngejahan dijadikan kuburan massal untuk orang-orang dari luar daerah Giritontro. Beberapa penduduk menyebutkan mereka berasal dari penjara Solo. Menurut cerita penduduk setempat, pada saat peristiwa itu terjadi penduduk dilarang ke luar rumah. Tapi beberapa penduduk memberanikan diri mengintip kejadian itu. Dan menurut mereka ada banyak truk yang datang silih berganti. Jumlah turk yang datang sangat variatif sekali ada yang menyebutkan 3 ada yang 8 dan bahkan ada yang menyebutkan 13 truk. Dari dalam truk itu keluar orang-orang yang digiring ke atas bukit tempat Luweng Ngejahan. Jarak antara jalan raya dan Luweng Ngejahan tidak terlalu jauh hanya sekitar 5 menit jalan kaki untuk mendaki setinggi 15 meter. Beberapa lama kemudian terdengar rentetan tembakan dan malam yang pekat itu menjadi terang dengan percikan api yang ke luar dari bedil-bedil yang digunakan. Cerita selanjutnya menyebutkan bahwa untuk satu bulan lamanya daerah itu diliputi oleh bau bangkai sampai sejauh 10 km. Banyak varian cerita yang kami temui tapi pada dasarnya gua itu merupakan tempat eksekusi massal pada tahun 1968. Entah bagaimana kejadian sesungguhnya, tetapi yang kami temui di bawah dapat memastikan bahwa itu memang sebuah tempat eksekusi massal.

image

Satu setengah bulan setelah survey, kini saya dan teman-teman telah berada di rumah Kepala Desa Ngargoharjo, Bapak Surahmin, yang kami jadikan lokasi base camp untuk Ekspedisi Kecil Divisi Caving Mapala UI. Kebetulan pada saat itu ada KKN dari Mahasiswa Universitas Slamet Riyadi yang tinggal juga di rumah Pak Surahmin, hal ini membuat rumah Pak Surahmin menjadi sangat meriah. Tim Ekspedisi kami terdiri dari 6 orang calon anggota dan ditemani oleh 3 orang mentor. Pada awalnya kami menolak untuk menjadikan rumah Pak Surahmin sebagai base camp, tetapi karena Pak Surahmin memaksa dan beliau tidak mengijinkan kami untuk mendirikan tenda, bahkan kami dibuatkan kamar tambahan di ruangan samping, maka kamipun tak dapat lagi menolak.

Luweng Ngejahan merupakan gua keempat yang kami eksplorasi. Pukul 08.00 kami telah berangkat dari base camp menuju mulut luweng Ngejahan. Dengan naik kendaraan umum tak sampai 20 menit kemudian kami sudah berada di mulut Luweng Ngejahan. Luweng Ngejahan ini terletak di tengah bukit pada ketinggian sekitar 15 meter dari jalan raya. Ketika kami sampai di mulut gua, pekerjaan pertama kami adalah membersihkan daerah sekitar mulut gua. Pekerjaan ini perlu kami lakukan untuk memudahkan kami melakukan anchoring (penambatan tali yang akan kami gunakan untuk turundan naik). Pemasangan anchor merupakan tahap yang paling penting dalam penelusuran gua vertikal sehingga membutuhkan pengamatan, pemikiran dan perhitungan yang teliti. Inti dari pemasangan sistim anchoring ini adalah untuk mencegah terjadinya gesekan antara tali dengan dinding gua yang dapat mengakibatkan putusnya tali. Pemasangan anchor merupakan tugas seorang leader (orang pertama), sistim pemasangan anchor yang paling sering kami gunakan adalah sistim Y anchor di mana terdapat dua buah tambatan utama yang saling berhadapan, sistim ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya gesekan dengan dinding gua, dengan sistim ini kita dapat mengatur jatuhnya tali dan beban dari tali tersebut terbagi ke dua tambatan utama.
Mulut luweng yang cukup besar juga menyulitkan kami untuk menentukan sistim penambatan. Biasanya kami menggunakan webbing (tali berbentuk pipih), tapi karena webbing kami kurang panjang untuk membuat sistim anchoring di mulut gua yang lebarnya 6 meter itu, maka kami memutuskan untuk menggunakan tali yang akan kita gunakan untuk turun dan naik sebagai tambatan. Tali itu biasa disebut kernmantel dan untuk penelusur gua biasa digunakan tali kernmantel jenis statis atau semi statis. Umumnya tali ini mampu menahan beban hingga 2000 kg tergantung pada umur tali dan produksinya. Penggunakan tali jenis statis dan semistatis dengan pertimbangan untuk mengurangi efek yoyo, sehingga kalau terjatuh kami tidak jatuh terlalu jauh dari tambatan. Pemasangan sistim ini memakan waktu cukup lama sekitar jam 10.00 baru kami siap untuk turun.

Susunan tim penelusur gua ini terdiri dari Tajid sebagai leader, Lawe sebagai secondman, Toni sebagai sweeper dan saya berjaga di mulut gua bersama Oding. Tim penelusur ditemani Acoy. Untuk penelusuran gua-gua vertikal (yang berbentuk sumuran) kami menggunakan suatu teknik yang disebut Single Rope Technique (SRT). Sistim ini merupakan suatu teknik berpindah dari satu ketinggian ke ketinggian lain di satu tali dengan bantuan alat turun (descender) ataupun alat naik (ascender). Alat turun (descender) yang biasa dipakai oleh seorang penelusur gua ada beberapa macam yaitu rack, bobin, atau yang paling umum adalah Autostop. Perbedaan alat turun yang dipakai seorang penelusur gua dengan alat turun yang dipakai dalam panjat tebing adalah tidak perlu dicopot dari tubuh untuk pemasangan tali sehingga meminimalkan kemungkinan jatuh. Alat untuk turun yang biasa kami gunakan adalah autostop. Setelah autostop dipasang ditubuh dan dikaitkan di tali maka setelah kita bergantung di tali itu dan agar kita dapat turun, kita harus menekan suatu handel. Jika handel kita tekan maka kita akan turun dan jika handel kita lepas maka kita akan berhenti. Prinsip ini sering diingatkan oleh produsennya karena bertentangan dengan prinsip ngerem di mobil atau motor. Oleh karena itu kita harus mengingat-ingatnya, apabila kita turun terlalu cepat maka yang pertama kita lakukan adalah melepaskan handel dan bukan malah menekannya.
Sedangkan untuk naik (ascendur) biasanya digunakan dua buah alat bantu yaitu Jumar (tertambat di tali dan digunakan dengan tangan) dan Croll (tertambat di dada). Prinsip naik dalam SRT adalah pemindahan beban. Jika beban tubuh kita di Croll (di dada) maka Jumar ( di tangan ) dapat digeser ke atas untuk menambah ketinggian, kemudian langkah selanjutnya adalah memindahkan beban tubuh kita dari Croll ke Jumar dengan cara seperti pull up sehingga Croll bebas dari beban dan dapat digerakkan untuk menambah ketinggian. Cara seperti itu kita lakukan untuk menambah ketinggian.

Setelah tiga orang pertama yang akan turun memasang peralatan, maka penelusuran siap dilaksanakan. Sementara itu penduduk mulai berkumpul di mulut gua ingin melihat-lihat. Beberapa orang juga memesan kepada kami, kalau nanti di bawah menemukan cincin atau kalung tolong di bawa naik ke atas. Setelah berdoa maka penelusuran ini di mulai. Tajid sebagai leader turun membawa ujung rollmeter untuk melakukan pengukuran dalamnya gua. “Sampai jumpa di bawah..”, katanya sebelum menekan handel autostop dan mulai hilang dari pandangan kami. Tak lama kemudian setelah sampai di bawah, Tajid melaporkan situasi di bawah lewat HT.

“Woi¡…spooky nih di wabah, nyabak lutang-lutang”, kata Tajid memberitahukan bahwa banyak tulang-tulang di bawah sana. “Gua bisa liat ada sekitar empat tengkorak kepala disekitar gua berdiri sekarang dan serakan tulang-tulang yang nggak kehitung.” lanjutnya kemudian. “Cepetan dong turun yang lain, gua merinding nih sendirian “. Lawe yang telah memakai peralatan lengkap telah siap bergantung di tali untuk menyusul Tajid turun ke bawah.

Tiba-tiba ada teriakan dari bawah yang terdengar sampai di atas sayup-sayup “Aduh!”. Ada apa gerangan, jangan-jangan Tajid tertimpa sesuatu yang rontok dari atas tanpa kami sengaja dan ketahui. Kamipun langsung menkontak Tajid ,”Jid, kenapa lu ? Semuanya baik-baik saja ?” Jawaban dari bawah membuat kami semua yang ada di atas kaget “Aduh, kaki gua remuk¡K!”, kemudian tak ada suara. “Jid…Jid..gimana kondisi lu ?”, kami masih bertanya-tanya ada apa dengan Tajid di bawah sana. Karena tidak ada jawaban kami hanya memberi instruksi agar Tajid mencari tempat yang aman dan melihat kondisi sekeliling.
Sekitar 3 menit kemudian ada suara dari bawah, “Kaki kanan gua ketiban batu dari atas, kayaknya cukup parah, sampai sekarang belum bisa digerakin, jadi gua seret dan sekarang gua udah ada di tempat yang aman.”
“We, liat kondisi di bawah dan temenin Tajid”, kataku kepada Lawe.
“Kita di atas sini nanti bikin sistim pengangkatan Tajid ke atas.”
Lawe yang sudah bergantung di tali dan telah siap segera turun membawa peralatan P3K serta tambahan peralatan yang diperlukan untuk rescue Tajid ke atas.
Beberapa penduduk yang menonton dan mengetahui kejadian di bawah sana segera menawarkan bantuan untuk menghubungi pihak berwajib. Kami katakan untuk sementara ini kami belum perlu menghubungi pihak berwajib. Segalanya masih dapat kami atasi sendiri, Setelah ada perkembangan selanjutnya baru kita akan menentukan apakah perlu menghubungi pihak berwajib atau tidak.
Setelah Lawe turun saya kembali ke base camp untuk mengambil tambahan peralatan, sementara teman-teman yang lain membuat sistim pengangkatan di mulut gua. Selama perjalanan ke base camp yang hanya makan waktu sekitar 30 menit pulang pergi terasa lama sekali, saya merasa bahwa kejadian ini merupakan tanggung jawab saya sebagai ketua ekspedisi ini. Saya hanya dapat berdoa dan berharap semoga Tajid tidak apa-apa dan kami semua dapat kembali dengan selamat.

Di base camp yang dijaga Rudi saya ceritakan tentang kondisi yang menimpa Tajid. Setelah saya mengambil beberapa peralatan yang sekiranya dibutuhkan, maka saya segera kembali ke lokasi. Kepada Rudi saya berpesan untuk selalu memantau kondisi kami dengan HT.

Syukurlah sekembalinya aku ke Luweng Ngejahan ternyata kondisi Tajid sudah membaik. Laporan dari Lawe menyebutkan bahwa kaki Tajid sudah dapat digerakkan. Tajid tertiban batu yang rontok dari atas. Pada saat itu dia sedang bergerak untuk menuju ke zona aman untuk menunggu orang ke dua turun. Untungnya yang tertiban bukan tempurung kaki tetapi betis bagian atas. Kejatuhan batu sebesar bola tenis dari ketinggian 35 meter akibatnya akan sangat parah kalau kena. Tidak nampak pendarahan luar karena itu Lawe sekarang sedang mengompres Tajid. Karena kecelakaan itu maka susunan tim penelusur berubah, aku yang semula menjaga mulut gua turun ke bawah menjadi sweeper dan dokumentasi. Aku merupakan orang terakhir yang turun. Segera kutinggalkan cahaya matahari untuk bertemu dengan kegelapan abadi. Karena faktor inilah untuk safety procedure maka tiap penelusur gua dianjurkan membawa 3 buah sumber cahaya yang berbeda, yaitu : lampu karbit, senter dan lilin.

Perjalanan turun menuju dasar Luweng Ngejahan, merupakan perjalanan yang terasa sangat lama sekali padahal kalau diukur dengan waktu tidak sampai 15 menit kita sudah berada di bawah, tetapi penuhnya pikiran akan kengerian pemandangan yang akan kita temui di bawah membuat waktu seperti tidak bergerak dan ketika sampai di bawah yang kulihat adalah tulang dan tengkorak yang berserakan diantara batu-batuan. Akupun harus memilih pijakan untuk mendarat agar tidak menginjak tulang-tulang itu, tapi rasanya cukup sulit melakukannya karena tulang-tulang berserakan di lokasi kami mendarat. Saya melihat Tajid sedang duduk bersandar di dinding gua dengan kaki yang sedang dikompres.

“Dit, elu liat nggak tadi ada tengkorak di teras, sekitar 15 meter dari bawah sini ?” tanya Lawe kepadaku begitu aku sampai di bawah.
“Nggak tuh We, Emang kenapa ?”
“Nggak apa-apa, tengkorak itu kayaknya nyangkut dan tergeletak diantara hijaunya rerumputan. Kontras banget pemandangannya”, kata Lawe.
“Jid, gimana kaki lu ?” tanyaku kemudian ke Tajid
“Udah mendingan nih, kayaknya bisa dipake jalan lagi kok”
“Ya udah elu istirahat aja dulu di sini, bisa dipake naik nggak”
“Gua bisa naik sendiri jadi nggak perlu dikerek dari atas”

Penelusuran Luweng Ngejahan segera dimulai dengan Lawe sebagai leader, Toni sebagai secondman, Tajid sebagai pencatat, aku sebagai pendokumentasi. Tempat kami mendarat adalah sebuah ruangan yang beratapkan langit. Tempat ini merupakan puncak tertinggi di dasar Luweng Ngejahan, kami menyebutnya stasiun B. Stasiun A adalah mulut Luweng Ngejahan. Tanahdi dalam gua ini terdiri dari tanah lempung bercampur kapur. Dinding lorong vertikal tersebut hanya tersusun dari batuan kapur bercampur dengan tanah tanpa adanya ornamen. Disebelah Timur stasiun B terdapat lorong menurun sejauh 14 meter dengan lebar 1 meter dan tinggi atap sekitar 5 meter. Disepanjang lorong itu selain terdapat bongkahan bebatuan juga terdapat tulang belukang dan tengkorak manusia. Dari jumlah tengkorak kepala yang kami temukan dipermukaan terdapat sekitar 8 buah tulang tengkorak kepala, kami tidak membongkar tumpukan batu-batuan yang lain untuk mengetahui jumlah keseluruhannya. Tetapi dari gundukan tempat kami berdiri yang terdiri dari bebatuan dan tulang belulang setinggi 14 meter dari dasar gua, kami menduga banyak tulang dan tengkorak yang terkubur di bawah bebatuan itu. Selain menemukan tulang tengkorak manusia, kami juga menemukan tengkorak sejenis binatang yang nampaknya dibuang di dalam karung, nampaknya seperti tulang tengkorak anjing. Pemandangan ini membuat suasana pemetaan menjadi mencekam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing, apalagi dengan kecelakaan yang menimpa Tajid, jadi timbul banyak pikiran negatif. Lorong itu masih terus menurun sejauh 4 meter, tapi kita tidak menemukan tulang tengkorak dan runtuhan bebatuan di tempat ini. Lorong ini berujung dengan sebuah dinding yang terdapat dua buah lorong, satu buah lorong mendaki 65„a setinggi 3,2 meter dan lorong kecil menuju ke bawah. Di dalam lorog kecil itu kami menemukan tumpukan cangkang siput yang tersusun rapi seperti gundukan dalam jumlah banyak, mungkinkah ini sampah dapur orang yang selamat ? Hal ini membuat kami bertanya-tanya apakah ada orang yang selamat jika dijatuhkan dari ketinggian 35 meter ? Pertanyaan selanjutnya adalah adakah orang yang dapat bertahan dari bau proses pembusukan puluhan orang yang tidak selamat yang dapat tercium dari radius 10 kilo meter ? Jika kedua pertanyaan di atas tidak ada jawabannya pertanyaan kami selanjutnya adalah siapakah yang menyusun cangkang-cangkang siput ini menjadi satu gundukan ataukah memang siput-siput itu menyusun dirinya sendiri dalam formasi berbentuk gundukan ? Pertanyaan yang tak terjawab. Semua pertanyaan itu mengelayuti pikiran kami, bersama dengan cerita-cerita dari penduduk yang menyebutkan bahwa pernah ada 2 orang yang turun ke dalam Luweng Ngejahan ini untuk mencari perhiasan orang-orang yang dibuang ke bawah. Mereka menggunakan tali untuk turun tetapi tali yang mereka gunakan itu putus dan nasib mereka tidak diketahui lagi. Apakah tumpukan cangkang ini merupakan sampah dapur kedua orang pencari perhiasan itu ?

Setelah mengamati tumpukan cangkang siput itu, kami melanjutkan pemetaan dengan memanjat dinding gua untuk menelusuri lorong yang ada di bagian atas. Sekitar 3,5 meter kami berada di ruangan yang mempunyai atap berketinggian sekitar 26 meter. Atap ruangan ini tempus ke tempat kami mendarat sehingga ruangan ini mendapatkan cukup cahaya dari mulut Luweng Ngejahan.

Pemetaan kami akhiri, kemudian kami kembali ke lokasi tempat kami medarat. Sambil istirahat kami membahas pemetaan yang baru saja kami lakukan. Tajid sibuk merapikan sketsa gua. Sementara saya dan Lawe mendokumentasikan gua dalam bentuk foto. Kami memutuskan untuk makan siang di atas saja, walupun waktu sudah menunjukkan jam 15.00 dan bekal makan siang juga kami bawa turun. Tetapi melihat kondisi di sekliling kami, maka kami memutuskan untuk makan siang di atas saja. Kami cukupkan makan snack dan minum soft drink.

Orang pertama yang naik kepermukaan bumi adalah Lawe, kedua adalah Tajid dengan kaki kanan yang masih diperban. Tajid mengayuh naik dengan kaki kirinya. Untuk memantu menaikkan croll (yang ada di dada) perlu bantuan kayuhan dari kaki yang dikaitkan ke jumar (di tangan) sehingga memudahkan gerakan pull up. Kami sempat mengkawatirkan kondisi kaki Kanan Tajid yang tertimpa batu, tetapi dengan kaki Kirinya Tajid dapat mengatasi hal itu. Tampaknya tidak ada hambatan bagi Tajid, sehingga Oding dan Lawe yang sudah ada di atas tidak perlu membantu Tajid dengan membuat kerekan.

Perjalanan naik juga merupakan perjuangan tersendiri. Tanpa latihan fisik yang cukup pasti kita pasti akan kesulitan. Satu kali pergerakan paling kita dapat menambah ketinggian sekitar 30 cm-50 cm. Pergerakan naik yang biasa kita sebut jumaring ini makan waktu sekitar 15-20 menit untuk tiap orangnya. Dengan alasan keamanan maka kami harus gantian menggunakan tali untuk naik tersebut.

Kami semua sampai di atas jam 16.15. Penduduk yang berkerumun sudah tidak sebanyak ketika kami turun tadi pagi. Beberapa orang bertanya tentang benar tidaknya bahwa Luweng Ngejahan dijadikan kuburan masal, selain itu mereka juga menanyakan ada tidaknya perhiasan di bawah sana. Setelah membereskan peralatan dan menggulung tali kami meninggalkan Luweng Ngejahan pukul 16.30.

Selesai sudah penelusuran kami hari ini, besok masih ada gua-gua lain yang harus kami telusuri. Kami masih membicarakan penelusuran yang baru saja kami lakukan. Pemandangan mengerikan yang kami saksikan di bawah sana dan usaha kami untuk merekontruksi peristiwa masa lalu itu membuat kami berfikir bahwa dalam setiap pergantian zaman pasti akan memakan korban, korban yang mungkin saja tidak tahu apa kesalahan mereka sampai mereka dijatuhi hukuman mati tanpa proses pengadilan dan dikubur tidak layak ?

Ekspedisi Kecil Divisi Caving Mapala UI ini kami lakukan pada tanggal 19-29 Agustus 1996, untuk Luweng Ngejahan sendiri penelusuran kami lakukan pada tanggal 24 Agustus 1996. Hampir empat tahun yang lalu kami melakukan penelusuran di Luweng Ngejahan. Namun bayang-bayang peristiwa yang ada di sana masih membekas hingga sekarang. Setelah melihat film “Puisi Tak Terkuburkan” maka saya berusaha menyusun kembali penelusuran kami di Luweng Ngejahan.

Satu Komentar di “Gua Ngejahan – Wonogiri”

  1. 1
    beningembunpagi Says:

    Pada tahun 1998 aku KKN di daerah Pracimantoro, dan tiap hari sabtu minggu berkeliaran ketimur samape Pacitan dan kalo ke barat sampe ke Pantai Krakal
    Kukup Drini. Tapi yang paling bagus adalah pantai Wedi Ombo di Gunung Kidul…

    Hmm….pemandangan di daerah ini lumayan. Ayik jga kalo suatu saat nanti aku mengulang lagi , jalan-jalan nya yang berkelok-kelok diperbukitan dengan pemandangan pantai/teluk kecil dibawah bukit, wait for me libur lebaran nanti…

    Sayang waktu KKN aku gak bareng teman-teman Mapalaku Sentraya Bhuana, kalo bareng mereka tujuannya pasti jadi berubah, bukan ke pantai-pantai berpasir putihnya yang indah, tapi ke gua-guanya.

    Eit…di Pacitan banyak gua-gua yang OK juga buat di eksplorasi, teman-teman Mapala UI harus mencoba kesana….

    Peace.